ANCAMAN SUKU BUNGA DAN ACUAN


STRATEGIC ASSESSMENT

544,027 total views, 1 views today

Oleh : MM. Kautsar.

STRATEGIC ASSESSMENT-Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 2%, dari sebelumnya 1,75% pada 13 Juni lalu.

Kenaikkan bunga ini biasanya akan memicu perginya aliran modal asing dari Indonesia dan menyebabkan gejolak pada nilai tukar Rupiah.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan saat ini BI terus mencermati perkembangan terakhir kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga kembali. Tahun ini bisa empat kali naik. Dengan kenaikan tersebut BI siap melakukan langkah-langkah kebijakan pre-emptive untuk menjaga stabilitas ekonomi Indonesia dan stabilitas nilai tukar rupiah.

Perry mengungkapkan kebijakan-kebijakan yang diambil juga mempertimbangkan arah perubahan kebijakan dari bank sentral negara lain.

Dia melanjutkan, BI akan mengambil langkah pada rapat dewan gubernur yang akan datang tanggal 27-28 Juni 2018. Langkah pre emptive itu, dapat berupa kebijakan suku bunga maupun relaksasi kebijakan makroprudensial.

Sementara, Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara juga mengatakan, bahwa kenaikan suku bunga The Fed sudah sesuai ekspektasi pasar selama ini, yakni empat kali. “Kini sudah mengkonfirmasi kenaikan suku bunga The Fed jadi empat kali tahun ini. September dan Desember akan naik lagi,” kata Mirza.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menjelaskan, keputusan The Fed untuk menaikkan bunga acuan telah diprediksi oleh pasar. Sehingga hal tersebut tak akan mengganggu pasar keuangan dan kurs rupiah dipastikan stabil.

Dengan langkah pre-emptive yang sudah dilakukan sebelumnya. Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan BI siap melakukan langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi kita.

Perry menyebut BI telah melakukan langkah tersebut dengan menaikkan suku bunga acuan pada Mei lalu sebanyak 50 basis poin menjadi 4,75%.

“Kami tegaskan, Bank Indonesia siap melakukan langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi kita. Khususnya stabilitas Rupiah,” kata Perry.

Perry mengungkapkan BI juga memperhatikan kebijakan bank sentral negara lain seperti European Central Bank (ECB) yang menahan bunga acuan hingga tahun depan. Menurut dia ini akan jadi perhatian dan pembahasan BI di rapat dewan gubernur pada 27-28 Juni mendatang.

Stabilitas kurs Rupiah, kebijakan makro ekonomi prudensial dan stabilitas fiskal dan moneter adalah faktor kunci untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional agar tidak mengalami “stallemate development” termasuk mencegah pengangguran dan stagnasi roda perekonomian, agar tidak memperparah deficit current account Indonesia, walaupun cadangan devisa Indonesia diklaim cukup kuat, walaupun juga dapat diprediksi akan rontok jika terkena “currency war” terus menerus.

Optimisme jajaran BI terkait kenaikan suku bunga acuan The Fed yang akan terjadi dua kali lagi pada tahun ini cukup melegakan praktisi ekonomi, namun tetap saja BI dan Kemenkeu RI menyiapkan “exit strategy” jika currency war antara The Fed, ECB dan Bank Sentral China gagal diprediksi agar tidak terjadi rush ekonomi dan terjadinya capital outflow yang dapat merusak pencapaian target pembangunan infrastruktur oleh Presiden Jokowi, sebab jika itu terjadi Indonesia akan tetkena “an accute foreign debt trap” dan merontokkan “deviden politik” Jokowi di tahun politik yang panas saat ini.

Penulis adalah pemerhati masalah ekonomi nasional. Tinggal di Jerujung, Merah Mata, Banyuasin, Sumatera Selatan.