Beda Rupiah beda Lira Turki, Beda Erdogan Beda Jokowi.


STRATEGIC ASSESSMENT

798,871 total views, 5 views today

STRATEGIC ASSESSMENT-Indonesia dengan turki memang bukan komparasi yang sebanding saat ini, tapi tulisan ini soal mental kepala negara kita.

Indonesia dengan turki memang beda kelas saat ini, tapi ini soal cara mikir dan cara kerja kepala negara kita.

Fundamental ekonomi turki sehat dan baik, tapi ingat, sehatnya lira turki bukan warisan attaturk, bukan warisan Bulent Ecevit, bukan warisan suleyman demirel.

Fundamental ekonomi turki sehat sejak dipegang erdogan 2001 dan sejak turki mantap menuju demokrasi modern dibawah AKP.

Politik turki juga sehat pasca kemenangan AKP dan saat erdogan bolak balik mempimpin turki baik sebagai PM atau sebagai perdana menteri baik dimasa konstitusi parlementer atau saat sudah berubah ke sistem presidensial(2017), pemimpin sehat akan bisa menyehatkan, presiden sakit hanya akan membuat negara amburadul.

Saat lira dihantam dolar amerika, ini bukan sekedar pelemahan mata uang biasa seperti nasib rupiah saat ini, ini sama dengan perang ekonomi terbuka antara AS dan Turki, tentu yang dihadapi turki 20x lebih sulit daripada apa yang dihadapi indonesia saat ini.

Turki bisa menang dalam perang ekonomi ini karena pemimpinnya punya wibawa, punya pendukung yang solid, punya jaringan internasional yang kuat.

Turki bisa menang dalam perang ekonomi karena erdogan tipikal pemimpin yang solutif, kharisma seorang erdogan dimata dunia, membuat seorang menlu rusia tergopoh gopoh menghadap erdogan tengah malam saat erdogan butuh.

Turki dan lira bisa menang karena kecintaan rakyatnya kepada pemimpin yang luar biasa, disuruh patahkan kudeta dilaksakan rakyat, disuruh boikot produk AS rakyat turki taat, disuruh kumpulkan emas rakyat turki jalankan, taat dan patuhnya rakyat disini bukan datang tiba2, tapi karena erdogan memberikan teladan.

Turki bisa menang karna erdogan punya narasi politik yang kuat, gak main main, narasi erdogan adalah turki menuju negara kelas 1, dan hal ini sudah tercapai saat ini.

Turki dan lira menang melawan dollar karena erdogan punya teman setia di level internasional, bukan sekedar teman basa basi dan lips service, teman setia yang saat turki dihantam dollar, dia datang dengan membawa 15 miliar dolar(Emir Qatar). Atau teman yang menelpon dari jarak jauh menjanjikan uang dan dukungam internasional tanpa pamrih(Emir Kuwait dan Presiden Rusia).

Bayangkan kalau hal ini menimpa indonesia? Kalau pelemahan rupiah saja kita babak belur, bagaimana jika yang terjadi adalah perang ekonomi dan perang dagang? Kita gak bisa bertahan hidup lebih dari 3 bulan.

Fundamental ekonomi indonesia sangat lemah, kasihannya, pejabat indonesia selalu mengklaim kuat, kuat darimana? Semua variabel ekonomi makro saat ini angkanya negatif, lalu sehat apa yang dimaksud rezim jokowi? Pembohongan publik.

Cadangan devisa indonesia saat ini hanya 118 miliar dolar, versi lain bahkan menyebut hanya 98 miliar dollar, turun jumlahnya yang sempat menyentuh angka 130miliar USD.

Yang lebih menyakitkan lagi, rupanya turunnya cadangan devisa ini diakibatkan oleh utang luar negeri yang mencekik efek kebijakan salah rezim ini yang mengakibatkan melemahnya rupiah dan menguatnya dollar.

Selain soal utang luar negeri, jokowi juga memilih kebijakan infrastuktur yang ugal ugalan, tidak kurang 900 triliun sudah digelontorkan ke infrastruktur, benar daya saing kita dibidang infrastruktur naik 10 tingkat dari 62 ke 52, tapi kebijakan infrastuktur yang menikmati siapa? Kalangan mana? Lagian ini sangat belum butuh saat ini karena uang kita masih minus.

Saat ini sektor ril kita masih lesu, income per kapita kita masih di angka 3,600 an USD atau setara dengan rp 47juta, harusnya fokus jokowi ke sektor ril dan fokus menguatkan ekonomi rakyat kelas menengah (40%) dan kelas bawah (40%) bukan berpihak kepada 20% penduduk kelas atas kaum elit indonesia.

Jokowi juga gak punya teman di dunia internasional, gak punya daya tawar, rezim ini juga gak punya kepercayaan di tingkat dunia karena presiden undercapacity dan ulah pejabat yang sangat korup.

Jokowi juga tidak mampu menaikkan daya tawar indonesia, karena dunoa saat ini tau siapa presiden indonesia, petugas partai no kualitas dalam skala international leader.

Cara cara rezim jokowi menangani melemahnya rupiah juga menunjukkan kelas rendahnnya rezim ini, menyalahkan pengusaha, menyalahkan lira turki, menyalahkan krisis argentina, melarang beli tas hermes dan ferrari, kalau negara lain denger, malu kuadrat muka kita punya rezim di dungu ini.

Cara cara rezim ini menyikapi melemahnya rupiah juga sangat konyol, saling berbantahan, menyalahkan rezim lama, ngeles bahwa ekonomi kita sehat, bahkan menteri keuangannya saja gak mau ngaku kalau semua variabel ekonomi makro saat ini negatif.

Beda rupiah beda lira, beda erdogan beda jokowi, ini soal beda mental dan beda kelas, antara yang karbitan dengan yang matang, antara rezim kacung dan rezim punya harga diri, antara pejabat mental maling dengan pejabat yang serius mikirin negara.

Beda lira beda rupiah, ini soal beda kualitas kebijakan pemimpin, soal beda kemampuan negosiasi dan lobi level dunia, ini soal beda narasi politik dan beda isi kepala presiden, ini soal prioritas kerja skala negara.

Padahal yang punya program revolusi mental saat ini itu kan Erdogan bukan Jokowi, padahal yang punya pendukung ” super cerdas” saat ini kan juga jokowi bukan erdogan kan yak.?

Tengku Zilkifli Usman.
Analis GeoPolitik Dunia Islam Internasional.