SALAH KAPRAH MENGIDENTIFIKASIKAN ANCAMANAN TERHADAP PANCASILA


SYTAYEGIC ASSESSMENT

761,908 total views, 1 views today

STRATEGIC ASSESSMENT-Jakarta. Pancasila yang mengikat hati individu di negeri sehingga melihat perbedaan sebagai keniscayaan, bukan potensi konflik, apalagi perpecahan. Namun kini terjadi salah kaprah mengidentifikasikan ancamanan terhadap Pancasila. Walau membumikan nilai-nilai Pancasila masih menjadi upaya yang terus berproses, tetapi seluruh rakyat Indonesia sepenuhnya menyadari bahwa sejatinya Pancasila-lah yang mengikat hati individu di negeri ini. Demikian dikemukakan Fahira Idris di Jakarta seraya menambahkan, dalam melihat perbedaan sebagai keniscayaan, bukan potensi konflik apalagi perpecahan.

Sebagai ideologi dan falsafah negara, sudah sepatutnya segenap rakyat bangga akan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. “Namun, saat ini terjadi salah kaprah mengidentifikasikan ancamanan terhadap Pancasila. Salah kaprah ini ditandai dengan getolnya kelompok tertentu yang melebali kelompok lain yang berbeda pendapat sebagai radikal, tidak nasionalis dan anti Pancasila. Padahal, ketimpangan ekonomi yang mengangah dan ketidakadilan sosial yang semakin meruncing adalah ancaman nyata bagi Pancasila dan negeri ini. Tetapi anehnya ancaman nyata ini dianggap angin lalu,” ujar anggota DPD RI ini.

Menurut Fahira, jika di sebuah negeri terjadi ketimpangan luar biasa antara kaya dan miskin maka perbedaan sekecil apa pun sangat berpotensi menjadi konflik dan perpecahan. Sila keadilan sosial dalam Pancasila memerintah pemegang tampuk kekuasaan, siapa pun itu, untuk mengangkat derajat orang miskin.

“Jika orang miskin tidak diangkat derajat dan kesejahteraannya maka pasti melahirkan ketidakstabilan di masyarakat dan ini menjadi ancaman serius bagi negeri ini. Keadilan sosial adalah akar persatuan Indonesia sebagai sebuah bangsa yang akan kuat dan menumbuhkan pohon-pohon ketahanan bangsa jika dirasakan rakyat,” ujar Fahira Idris selanjutnya (Bayu/Airla).