BANYAK PENGAMAT MEMPREDIKSI PRABOWO BAKAL “MENG-KO” JOKOWI

LIKE SHARE
  • 43.3K
  • 21.8K
  • 1.3K
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    66.4K
    Shares

712,579 total views, 1 views today

STRATEGIC ASSESSMENT. Pengamat politik Indonesian Public Institute, Jerry Massie mengatakan, meskipun sembilan lembaga survei besar memenangkan Jokowi, diantaranya LSI, Poltracking, Indobarometer, Charta Politika, SMRC dan lainnya tapi hal itu tidak menjamin kemenangan pasangan nomor urut 01 tersebut di Pilpres 2019.

Selain itu kata Jerry, tim TKN Jokowi-Ma’ruf juga harus mampu menjaga basis mereka di Pulau Jawa seperti Jatim dan Jateng. Begitu pula Ma’ruf Amin harus mampu merebut wilayahnya Banten.

“Pemilih terbesar di Jawa Barat ada 32,6 juta dan Jatim 31 juta dan Jateng 27,9 juta, setidaknya paslon yang menguasai Jawa maka dipastikan dialah pemenangnya,” ujar Jerry di Jakarta, Jumat (8/2/2019). Begitu pula, lanjut Jerry, dengan emak-emak serta pemilih mileneal yang berjumlah 80 juta atau total 40 persen dari 185 juta pemilih. Sejauh ini, ucapnya, perang pasar terus dimainkan oleh kedua kubu baik sang petahana Jokowi maupun Sandiaga. Begitu pula perang mileneal dimana kian gencar.

“Seperti di Amerika 2016 lalu, hampir semua lembaga survei salah satunya Gallup memenangkan Hillary (Clinton), tapi yang menang adalah Trump. Jadi suara survei belum tentu sama dengan electoral college atau popular vote,” ujar Jerry.
Calon Wakil Presiden Sandiaga Salahuddin Uno mengemukakan, berdasarkan bocoran hasil survei internalnya, perbedaan elektabilitas dengan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin, tinggal satu digit.

“Selisihnya di bawah 10 persen. Kita sudah di angka 40 itu selisihnya antara 7-9 persen. Sedangkan kubu sebelah di bawah angka lima (50),” kata Sandiaga di Jakarta Selatan, Juma (8/2/2019). Terkait dengan beberapa lembaga survei seperti LSI Denny JA dan Populi Center yang memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin, Sandiaga mengemukakan,”Ini mirip – mirip waktu DKI, semua (lembaga) di DKI juga begitu. Kita terima masukan aja,” kata mantan Wagub DKI. Saat Pilgub DKI Jakarta pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno dari hasil lembaga survei mengumumkan selalu kalah dengan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat.

Namun setelah perhitungan di KPU serta hitung cepat saat pemilihan pasangan Anies-Sandiaga menang di Pilgub DKI Jakarta. “Kita sudah cross di angka 4 (40) kita akan perbaharui terus survei internal kita. Ini terbukti strategi kita diterima masyarakat,” kata Sandiaga.

Rencananya dua minggu lagi, Sandiaga akan membocorkan hasil survei elektabilitas dari survei internalnya.
Pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio menyatakan, elektabilitas Jokowi perlahan tapi pasti terus menurun dari angka 60 persen hingga mendekati 50 persen. Lebih jauh, Founder Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai Kopi) itu mengatakan, politik adalah bisnis harapan, siapa yang bisa menjual harapan paling bagus itu yang dipilih.

“Bisnis Harapan ini menjadi perhatian masyarakat. Kan kalau kita lihat Jokowi dan Prabowo nggak ada wow factornya. Pak Jokowi dari 2014 itu gitu-gitu aja, makanya trennya turun terus,” ujarnya.

Dia juga mengungkapkan, meskipun saat ini Jokowi-Ma’ruf masih di atas angin, tapi ada penurunan. “Jadi kan agak membahayakan, makanya TKN agak kerja keras nih,” katanya.

Sebelumnya, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno membuat survei internal terkait Pilpres 2019. Hasilnya, Prabowo-Sandiaga kini memperoleh 40 persen menurut survei internal tersebut. “Dari survei kita November kemarin, alhamdulillah Prabowo-Sandi sudah 40 persen, cuma beda 4 persen dari Jokowi,” kata Jubir BPN Prabowo-Sandi, Andre Rosiade di Jakarta, Jumat (8/2/2019). Saat ini memang, kata Andre, Jokowi-Ma’ruf Amin masih unggul. Tapi selisihnya hanya 4 persen dengan Prabowo-Sandi. “Dari awalnya Pak Jokowi meninggalkan kita hampir 18 persen, sekarang tinggal 4 persen,” ujar Andre.

Dua pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno berupaya merebut suara pemilih di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Saat ini kedua paslon secara khusus membahas strategi kampanye untuk unggul di tiga wilayah ini. Namun sejumlah kalangan memprediksi, Jokowi akan mengalami banyak kesulitan untuk memenangkan pertarungan di sejumlah daerah, termasuk di DKI Jakarta, Jabar, Jateng dan Jatim.

Tokoh perubahan Dr Rizal Ramli meyakini capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin tidak akan menang dalam Pilpres 2019. Menurutnya, pertarungan sesungguhnya dalam Pilpres tahun ini bakal berpusat di Pulau Jawa.

“Jokowi akan mengalami banyak kesulitan di sejumlah daerah. Jangan berharap menang lah, Jabar, Jateng, Jatim, disana petaninya pada nangis, kalau masih pede menang ya kepedean. Lah petani gula, garam dan beras nangis semua,” kata mantan Menko Perekonomian Dr Rizal Ramli saat bertemu sejumlah warg di Jawa Barat, Kamis (7/2/2019).
Mantan Menko Bidang Kemaritiman itu menyatakan, di Jakarta Jokowi kalah lebih dari 15 persen, meskipun timses Jokowi mengatakan Jokowi hanya kalah 10 persen. “Di Banten, paslon 01 kalah sebesar 9 persen,” paparnya.

Hal senada disampaikan pengamat politik dari Institute for Strategic and Development Studies (ISDS) M Aminudin, menurutnya, saat ini sudah cukup besar keinginan rakyat untuk mengganti presiden. Oleh karena itu jangan harap Jokowi akan menang di basis PDIP seperti di Jabar, Jateng, Jatim. Namun demikian, di Jateng kemungkinan Jokowi bisa menang tipis.

“Di Jatim, Jokowi bisa kalah tipis karena NU struktural dan PDIP serta mesin parpol kubu Jokowi cukup besar. Tapi arus besar perubahan tetap sulit dibendung,” tegasnya kepada Harian Terbit, Jumat (8/2/2019).

Aminudin menuturkan, meski di Jatim, Jokowi mungkin kalah tipis. Tapi di Jabar dan DKI Jakarta, Jokowi bisa kalah telak. Karena kalangan terpelajar di DKI dan Jabar jumlahnya sangat besar. Selain itu jumlah swing voters di DKI dan Jabar juga sangat besar. Apalagi semua survei juga menunjukkan pemilih Jokowi didominasi lulusan SD atau berpendidikan rendah.

“Adanya keinginan perubahan presiden kuat sekali. Ekspresi pemilih dibawah sudah ada nuansa emosional. Hal itu terjadi karena makin sulitnya ekonomi dan melihat arus membanjirnya pekerja Tiongkok ke Indonesia,” paparnya.
Oleh karena itu, sambung Aminudin, asalkan tidak ada kecurangan maka peluang Prabowo menang di Pilpres 2019 sangat besar.

Pengamat politik Rusmin Effendy juga memprediksi calon petahana Joko Widodo bakal tumbang melawan Prabowo Subianto di Pilpres 2019 mendatang. Pasalnya, masyarakat sekarang menghendaki arus besar perubahan kepemimpinan Indonesia akibat kualitas Jokowi selama berkuasa.

“Saya bisa memastikan tanda-tanda kejatuhan Jokowi semakin terang terlihat. Kondisi riil yang ada di masyarakat yang menginginkan pergantian karena pelbagai kebijakan Jokowi yang tidak pro rakyat dan kehidupan rakyat semakin terpuruk,” tandasnya.

Apalagi, kata Rusmin, saat ini rakyat sudah semakin cerdas menilai pemimpin. Sehingga pencitraan Jokowi tak lagi menjadi magnit politik, bahkan menimbulkan cibiran masyarakat.

“Rakyat tak butuh pencitraan politik, tapi kerja nyata yang berdampak langsung ke rakyat. Apalagi program dan janji-janji kampanye Jokowi tidak ada yang signifikan terealisasi,” tegasnya.

Menyinggung soal basis dukungan suara bagi kemenangan Jokowi, Rusmin menjelaskan, kalau di Jateng dan Jatim dianggap sebagai lumbung suara PDIP, pada saat Pilpres nanti akan mencair, apalagi Jawa Barat akibat Pilgub lalu menjadi lumbung suara Gerindra.

“Saya bisa memastikan Jawa Barat bakal menjadi lumbung suara terbesar bagi kemenangan kubu Prabowo, termasuk di Jawa Timur,” ujarnya.

Beberapa waktu lalu, dua bakal Capres berkunjung ke Jawa Timur di waktu yang sama, yakni Kamis (6/9/2019) hari ini. Joko Widodo, Capres petahana berkunjung ke Surabaya dan Mojokerto.

Jokowi hadir di Universitas PGRI Adi Buana di Surabaya dan berkunjung ke Pondok Pesantren Ammanatul Ummah di Pacet Mojokerto yang diasuh KH Asep Syaifuddin Chalim.

Sedangkan Prabowo melakukan ziarah ke makam pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang berada di Kabupaten Jombang, Kabupaten Bangkalan, dan Kabupaten Situbondo.

Melihat fenomena ini, Pakar Komunikasi Politik Universitas Airlangga, Suko Widodo mengatakan, Jawa Timur memang sangat potensial dan menjadi penentu dalam pemilihan presiden tahun depan.

“Taruhlah Jawa Barat dan Banten sudah kena oleh Pak Prabowo. Lalu Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta kena Pak Jokowi, maka Jatim menjadi kunci penentunya,” kata Suko Widodo, yang dihubungi Surya (Tribunjatim.com Network), Kamis (6/9/2019).

Sementara itu, hasil survei terbaru Saiful Mujani Research Consulting (SMRC) menyebutkan, elektabilitas Presiden Joko Widodo masih mengungguli Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

“Bila pemilihan presiden diadakan sekarang di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, Jokowi unggul di atas calon-calon lain, termasuk Prabowo” kata peneliti SMRC Sirojudin Abbas saat memaparkan hasil surveinya di Kantor SMRC, Jakarta, Jumat (22/6/2018).

Abbas mengatakan, keunggulan Jokowi di Jawa Tengah dan Jawa Timur tidak begitu mengejutkan. Sebab, sejak pilpres 2014 lalu, Jokowi memang unggul di dua daerah tersebut Jokowi-Ma’ruf Amin Diprediksi Kalah di DKI Jabar, Jateng dan Jatim

Di Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, Prabowo Sujiwo mengatakan, peluang Prabowo Subianto-Sandiaga Uno untuk memenangkan Pilpres 2019 semakin membesar setelah beberapa blunder politik dilakukan Jokowi seperti membatalkan pembebasan Abu Bakar Baasyir, beberapa tokoh Persaudaraan Alumni 212 seperti Slamet Maarif menjadi tersangka, dan beberapa kebijakan Jokowi yang sepertinya dibuat secara terburu-buru antara lain dicabutnya remisi pembunuh wartawan Radar Bali.

“Disamping itu, masyarakat sebenarnya sudah paham apalagi BPN Prabowo Subianto diperkirakan sudah mendapatkan informasi bahwa survei-survei yang memenangkan Jokowi walaupun dilakukan oleh lembaga survei yang namanya top, diperkirakan adalah survei bayaran atau abal-abal,” ujar pemerhati masalah politik ini, seraya menambahkan lembaga survei semacam itu akan tamat riwayatnya jika Jokowi kalah dalam Pilpres 2019 (Red).


LIKE SHARE
  • 43.3K
  • 21.8K
  • 1.3K
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    66.4K
    Shares