BOM BUNUH DIRI DI FILIPINA Oleh : Stefi Vellanueva Farrah

LIKE SHARE
  • 12.8K
  • 4.2K
  • 34
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    17K
    Shares

157,964 total views, 1 views today

STRATEGIC ASSESSMENT. Kepala kepolisian nasional Filipina mengatakan pada hari Senin (4/2) bahwa lima tersangka militan Abu Sayyaf yang terkait dengan pemboman kembar di sebuah katedral Katolik Roma di Jolo, Provinsi Sulu, Wilayah Otonomi Khusus Muslim Mindano pada Filipina Selatan telah menyerah kepada pihak berwenang. Jenderal Oscar Albayalde mengatakan, kelima orang itu dan beberapa lainnya yang masih buron dituduh melakukan pembunuhan dan percobaan pembunuhan atas peran mereka dalam serangan 27 Januari yang menewaskan 23 orang dan melukai sekitar 100 lainnya.

Presiden Rodrigo Duterte telah memerintahkan pasukan untuk menghancurkan Abu Sayyaf yang bersekutu dengan ISIS. Menurut laporan polisi, seorang tersangka militan setempat, yang diidentifikasi sebagai Kammah Pae, yang telah membantah terlibat dalam pemboman itu, memimpin para pembom ke Katedral Our Lady of Mount Carmel di kota Jolo. Bom pertama meledak selagi Misa berlangsung di katedral itu. Ketika pasukan militer dan polisi bergegas membantu para korban, bom kedua diledakkan.

Serangan itu memperbaharui ketakutan akan terorisme di seluruh Filipina, dan oleh karena itu kepolisian nasional telah disiagakan penuh dan langkah-langkah keamanan diperketat di gereja-gereja, pusat-pusat perbelanjaan dan berbagai area publik lainnya.

Serangan itu juga telah menimbulkan kekhawatiran bahwa ISIS mungkin menemukan tempat di Asia Tenggara setelah menderita kekalahan besar dalam pertempuran di Suriah dan Irak. Sementara itu terkait keterlibatan warga Indonesia dalam teror ini, pemerintah Filipina belum mengungkapkan secara resmi. Namun beberapa analisa dari pakar di negara itu menyatakan adanya kaitan dengan kelompok teror di Indonesia yang terjadi beberapa tahun terakhir ini. Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) sendiri menyangkali hal ini dan masih menggali informasi bersama pihak-pihak terkait.

“Kita lihat dulu apakah betul dia warga negara Indonesia, itu perlu kita ketahui lebih dahulu,” kata Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi jumpa pers di Padang, Sumatera Barat, Sabtu (2/2).

Sebelumnya, beberapa media massa online ternama di Indonesia memberitakan kisah tragis ini dengan headline “Pasutri asal Indonesia pelaku bom bunuh diri di Filipina”. Pemberitaan seperti ini jelas bukan rekayasa media massa, karena kemungkinan besar ada beberapa pihak di Filipina yang berasumsi dan menganalisa demikian, meskipun sebenarnya aksi bom bunuh diri tersebut menunjukkan adanya “kecolongan” terutama dari aparat intelijen Filipina untuk mendeteksinya.

Kelompok teror di Indonesia tampaknya kecil kemungkinan melakukan serangan teror di Filipina, dan besar kemungkinan serangan teror tersebut dilakukan kelompok pemberontak. Kelompok teror di Indonesia saat ini “sangat takut” bergerak, karena Indonesia sudah memiliki payung hukum yang lebih tegas untuk menindak mereka, ketika mereka sudah memiliki rencana tersebut. Densus 88 Mabes Polri, TNI dan BIN mungkin sudah mendalami masalah ini, sehingga terus terang saja rakyat Indonesia agak “tersinggung” jika pelaku bom bunuh diri dikatakan dari Indonesia.

Filipina diakui atau tidak sekarang ini sedang menjadi daerah “Istihadiyah” atau daerah untuk berbuat syahid, apalagi pemerintah Filipina juga diduga komunitas internasional banyak menindas kaum minoritas Islam yang berdomisili di selatan Filipina.

Niat kelompok teror di Indonesia melakukan serangan ke Filipina tampaknya mengecil, karena kemungkinan banyak mentor kelompok teror, donatur, “calon pengantin”, perekrut dan lain-lainnya “sedang tiarap”, bahkan dari berbagai sumber terbuka juga belum ada informasi valid terkait rencana kelompok teror di Indonesia misalnya akan mengganggu Pemilu 2019 di Indonesia. So, kecil kemungkinan pelaku bom bunuh diri adalah WNI, meskipun tetap dapat diprediksi kemungkinan adanya jaringan atau keterkaitan emosional kelompok teror di Indonesia dengan yang ada di Filipina.
*) Pemerhati masalah Polkam khususnya intelijen.


LIKE SHARE
  • 12.8K
  • 4.2K
  • 34
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    17K
    Shares