BUNGLON POLITIK Oleh : Irfan S. Awwas

LIKE SHARE
  • 7.3K
  • 3.2K
  • 342
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    10.8K
    Shares

231,907 total views, 1 views today

STRATEGIC ASSESSMENT. Ketika tokoh Ikhwanul Muslimin Mesir, Dr. Sayid Qutub menghadapi ancaman eksekusi mati, rezim penguasa menawarkan kebebasan dari penjara dan vonis hukuman mati akan dicabut. Namun dengan syarat harus menandatangani surat permohonan maaf kepada Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser dan mengaku bersalah atas dakwahnya.

Maka dengan mengacungkan jari telunjuknya, Sayid Qutub tegas dan lugas berkata: “Telunjuk yang senantiasa bersyahadat akan Keesaan Allah dalam setiap shalat ini, menentang untuk menulis satu huruf sekalipun sebagai tanda ketundukan terhadap rezim yang sekuler ini”.

Di Indonesia, kala menyaksikan fenomena politisi muslim yang mudah takluk oleh rayuan harta dan jabatan, membuat Mohammad Natsir risau. Kerisauan tokoh Masyumi dan mantan Perdana Menteri RI era Sukarno itu, dituangkan dalam suatu ungkapan yang menggetarkan.

“Sudah terlalu banyak umat Islam kehilangan pemimpin. Bukan lantaran para pemimpin itu meninggal dunia atau masuk penjara, akan tetapi lantaran bertukar Mabda’ (haluan politik) di tengah jalan”.

Dimasa kini, sejumlah figur pemimpin, ulama, tokoh parpol dan ormas Islam, serta politisi muslim yang memilih jadi bunglon politik, sekalipun tanpa malu mereka khianati ucapannya sendiri. Karena jejak digitalnya gampang ditelusuri. Mereka berubah Mabda’, mungkin karena tergiur jabatan, obsesi partainya masuk parlemen, dan bukan mustahil karena tersandera kasus korupsi. Mereka akhirnya memilih jadi bunglon.

Marilah kita berdo’a: “Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami karunia yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul-Mu. Janganlah Engkau jadikan kami hina pada hari kiamat kelak. Sungguh Engkau tidak akan menyalahi janji-Mu.” (QS Aali ‘Imran (3) : 194)
*) Pengamat masalah Islam.


LIKE SHARE
  • 7.3K
  • 3.2K
  • 342
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    10.8K
    Shares