CARUT KARUT PERMASALAHAN EKONOMI NASIONAL Oleh : S. Kurniadi Ichsan

STRATEGIC ASSESSMENT
LIKE SHARE
  • 6.5K
  • 2.2K
  • 199
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    9K
    Shares

123,975 total views, 1 views today

STRATEGIC ASSESSMENT. Salah satu indikasi keberhasilan pemerintahan adalah membaiknya perekonomian nasional dan peningkatan kesejahteraan rakyat.

Sejauh ini, carut karut permasalahan ekonomi nasional masih dapat ditemukan dalam beberapa fakta dan fenomena seperti kenaikan harga Sembako yang terjadi bergantian dan terus menerus dibanyak daerah, sengketa lahan, kesejahteraan buruh yang masih menjadi mimpi atau utopia, penurunan harga sejumlah komoditas di beberapa daerah, kebijakan ekonomi yang malah dinilai mempersulit pengembangan usaha, serta masih adanya kasus gizi buruk dan stunting yang menunjukkan kesejahteraan masih menjadi “hak istimewa” kelompok elit.

Konflik/sengketa agraria/lahan yang terjadi di sejumlah daerah merupakan refleksi dari benturan kepentingan atas pengelolaan dan penguasaan sumber daya alam maupun ekonomi, serta terjadinya ketimpangan kepemilikan dan penguasaan asset lahan yang semakin terbatas.

Meluasnya permasalahan sengketa/konflik agraria/lahan yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia selain menjadi salah satu faktor penghambat bagi program pembangunan dan upaya dalam pemenuhan akses keadilan terhadap sumber-sumber ekonomi bagi masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah, persoalan tersebut juga dapat memicu kerawanan terhadap terjadinya konflik sosial dan instabilitas situasi keamanan di daerah. Selain itu, rawan dijadikan isu politik dan dieksploitasi, apalagi menjelang Pemilu 2019.

Persoalan kesejahteraan buruh nampaknya masih menjadi concern utama yang digaungkan oleh para serikat pekerja/aktivis buruh, yang terjadi sebagai akibat masih terdapat beberapa perusahaan yang tidak menjalankan peraturan yang telah ditetapkan Pemerintah untuk melindungi hak dan kewajiban pekerja/buruh. Aksi buruh tersebut selain dapat menciptakan disharmonisasi hubungan industrial antara perusahaan, buruh dan pemerintah juga berpotensi dimanfaatkan untuk mendiskreditkan Pemerintah.

Masih belum stabilnya kondisi ekonomi global memicu terjadinya pelambatan peningkatan pertumbuhan perekonomian nasional. Kondisi tersebut juga berpengaruh terhadap terjadinya penurunan harga sejumlah komoditas perkebunan seperti Kopra, dan munculnya permasalahan lainnya seperti ketenagakerjaan/perburuhan dan praktek korupsi serta sengketa di sektor agraria di beberapa daerah yang berpotensi dijadikan komoditas politik kelompok penekan.

Perubahan cuaca dalam beberapa waktu terakhir berpotensi menimbulkan gangguan terhadap perekonomian Indonesia. Sebagaimana terjadi di Maluku terhadap jalur distribusi barang kebutuhan pokok masyarakat. Selain itu, adanya bencana kekeringan di beberapa wilayah juga menyebabkan terjadinya krisis air bersih dan berpotensi gagal panen di beberapa wilayah.

Mulai masuknya musim kemarau di beberapa daerah di Indonesia juga berpotensi menyebabkan kebakaran lahan dan hutan yang dapat mengganggu hubungan bilateral Indonesia dengan negara tetangga akibat adanya asap.

Kenaikan sejumlah komoditi yang terjadi di sejumlah daerah berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, serta akan berdampak sosial yang rawan mengganggu situasi Kamtibmas serta sangat berpotensi dijadikan komoditas politik oleh kelompok kepentingan untuk menarik dukungan massa serta mendiskreditkan Pemerintah.

Masih terjadinya fluktuasi harga sejumlah barang kebutuhan pokok dan LPG selain dipicu karena beberapa faktor, seperti dugaan adanya permainan para spekulan, terbatasnya stok karena memasuki musim tanam, dan faktor cuaca yang cukup ektrim, juga merupakan ekses dari belum stabilnya kondisi ekonomi global yang memicu terjadinya pelambatan peningkatan pertumbuhan perekonomian nasional.

Disamping itu, Masih terjadinya kelangkaan fluktuasi harga barang kebutuhan pokok di sejumlah daerah dipicu oleh beberapa faktor, antara lain dugaan adanya permainan para spekulan, terbatasnya stok karena memasuki musim tanam, faktor cuaca yang cukup ektrim, maupun disebabkan permasalahan transportasi yang dipicu oleh keterbatasan peralatan, geografi, dan infrastruktur.

Masih tingginya permasalahan gizi buruk dan stunting di Indonesia dapat mempengaruhi kualitas generasi muda Indonesia, sehingga diperlukan peningkatan pemahaman pentingnya gizi terhadap ibu hamil dan menyusui dalam rangka memaksimalkan potensi bonus demografi Indonesia pada tahun 2020-2030.
*) Pemerhati Indonesia.


LIKE SHARE
  • 6.5K
  • 2.2K
  • 199
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    9K
    Shares