Darmin: Rapat Impor Jagung Permintaan Mentan, Jangan Membelokkan


STRATEGIC ASSESSMENT

679,859 total views, 1 views today

STRATEGIC ASSESSMENT– Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution akhirnya buka-bukaan terkait dengan keputusan pemerintah yang membuka keran impor jagung untuk kebutuhan pakan ternak.

Darmin mengatakan, usulan adanya impor jagung pun langsung diajukan Kementerian Pertanian, yang mengaku harga jagung untuk pakan ternak yang tinggi menjadi salah satu alasannya.

Kenaikan harga jagung ini juga memberikan dampak terhadap harga pakan ternak ayam yang 50% bahan bakunya berasal dari jagung.

“Impor jagung itu rapatnya dibuat karena permintaan Menteri Pertanian. Surat usulannya juga Menteri Pertanian. Jangan membelok-belokan,” kata Darmin di kantornya, Jakarta, Rabu (7/11/2018).

Dari usulan tersebut, kata Darmin, langsung dibahas dalam rapat koordinasi terbatas (Rakortas) yang dihadiri oleh Menteri Perdagangan, Menteri Pertanian, Menteri BUMN, Dirut Perum Bulog, dan Ketua Satgas Pangan.

Dalam Rakortas itu, kata Darmin, diputuskan oleh pemerintah untuk melakukan impor jagung sebanyak 100.000 ton. Di mana yang mengimpor Kementerian Perdagangan dan dilakukan oleh Perum Bulog atas rekomendasi yang diterbitkan oleh Kementerian Pertanian.

“Walaupun mereka bilang produksinya surplus 13 juta ton, harganya naik. harganya naik, banyak yang marah, mau demo segala macem. Kemudian Mentan bilang, minta diimpor deh, berapa? 100 ribu, bikin surat dong, jangan nanti tiba-tiba nggak ngaku,” ujar Darmin.

Keputusan untuk impor jagung pun, kata Darmin dikarenakan yang sepenuhnya mengetahui pasokan kurang atau tidaknya hanya Kementerian Pertanian selaku pemilik data produksi dan bertanggung jawab untuk peternakan ayam dan petelur.

Darmin mengaku, dalam Rakortas Pangan beberapa waktu lalu pun sempat ditanyakan alasan utama Kementerian Pertanian mengajukan impor jagung untuk pakan ternak. Padahal, kata Darmin, data produksi jagung Kementan surplus 13 juta ton.

“Mereka yang paling tahu, kalau dia usulkan ini perlu impor, kita juga tanya, katanya surplus? Ya akhirnya kita tanya, jawabannya tapi harganya naik, ini ada surat-surat dari peternak macam-macam, oke kalau begitu (impor),” jelas dia.

Menurut Darmin, keputusan impor jagung dalam Rakortas pun bertolak belakang dengan data jagung yang surplus. Dia pun meminta Kementerian Pertanian agar tidak menyalahkan seperti hal sistem resi gudang yang belum berjalan optimal.

“Tidak ada, jangan nyalahkan yang lain, kalau harga naik itu ada yang kurang, sederhana saja,” ujar Darmin.

“Kalau surplus itu besar sekali angkanya. 13 juta, tapi buktinya harganya naik terus apa kesimpulannya?” tuturnya.

SECURE:DETIK.COM