Demokrat Sebatas Tukar Kunjungan dengan Partai Komunis China


STRATEGIC ASSESSMENT

799,328 total views, 2 views today

STRATEGIC ASSESSMENT– Wakil Sekjen DPP Demokrat Rachland Nashidik mengakui partainya memang pernah menjalin komunikasi dengan Partai Komunis China (PKC). Namun, dia memastikan kerja sama kala itu hanya sebatas saling memenuhi undangan selaku sesama partai penguasa.

“Dalam bidang saling mengunjungi, artinya resiprokal menjalin komunikasi, kemungkinan besar ada,” ucap Rachland saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (15/10).

Rachland mengaku pernah menjadi perwakilan Demokrat untuk memenuhi undangan PKC ke China pada 2012 silam. Dia mengatakan undangan itu pun tidak khusus untuk Demokrat.

Rachland menyebut banyak kader partai penguasa dari Filipina, Malaysia, dan Thailand yang juga hadir. Bahkan, Rachland mengklaim kader Golkar dan PDIP turut datang ke acara yang dihelat PKC di China.

“Saya tahu Golkar dan PDIP diundang, dan datang, secara terpisah,” ucap Rachland.

Rachland menjelaskan bahwa PKC mengundang partai dari berbagai negara untuk menunjukkan perkembangan China yang menjadi negara terbuka. Rachland mengaku diajak menyaksikan bagaimana China melakukan modernisasi di bidang ekonomi dan politik.

Selaku perwakilan yang hadir, kata Rachland, Demokrat juga diperlihatkan secara khusus bagaimana China melindungi kemajemukan yang ada.

“Kami misalnya diajak bertemu dan berdialog dengan minoritas Islam dan mengenali kebudayaannya yang dilindungi,” ucap Rachland.

Rachland memastikan kerja sama antara Demokrat dan PKC hanya sebatas kunjungan. Dia menegaskan tidak ada kerja sama dalam bentuk lain. Misalnya, kader Demokrat disekolahkan di China dan dibiayai oleh PKC atau mendapat seminar bertemakan paham komunis. Dia memastikan hal itu tidak ada.

“Tidak ada yang serius dalam kunjungan perkenalan itu.Saya yang hadir saat itu. Jadi bisa memastikan tidak ada,” ujar Rachland.

Demokrat menjadi partai penguasa sepanjang 2009-2014. Namun, Rachland mengatakan tidak setiap tahun kader Demokrat datang ke China untuk menghadiri acara yang dihelat PKC.

“Seingat saya, ada yang sebelum saya juga berangkat. Setelah saya, rasanya tidak ada lagi. Mungkin bukan karena undangan berhenti. Tapi karena orang malas saja mengikuti acara acara resmi,” imbuh Rachland.

“Tapi di masa Pak SBY ini kelihatannya tidak dilanjutkan. Tidak pernah ada lagi kader yang diutus,” ucapnya.

Mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zen sebelumnya menuding Golkar, PDIP, dan NasDem menjalin kerjasama dengan China soal paham komunis. Tak lama kemudian, Ketua DPP Golkar Tubagus Ace Hasan Syadzily menyesalkan pernyataan Kivlan.

Ace mengatakan Gerindra, PKS, serta Demokrat juga menjalin kerja sama dengan PKC. Karenanya, Dia menyesalkan Kivlan yang tidak menyebut ketiga partai koalisi pendukung Prabowo-Sandi tersebut.

“Kenapa Kivlan Zein tidak menyebut partai lainnya yang juga pernah bekerja sama dengan Partai Komunis China, seperti PKS, Gerindra, Demokrat,” ujar Ace kepada CNNIndonesia.com, Minggu (14/10).

Ace mengaku tidak memahami motif Kivlan menyingung gabunga partainya dengan China dan PKC. Ace lantas mengaitkan pernyataan Kivlan yang mendiskreditkan China dengan pernyataan calon presiden Prabowo Subianto.

“Prabowo saja meminta supaya Indonesia meningkatkan kerja sama dengan China,” ujar Ace.

SECURE:CNNINDONESIA