DI boyolali Capres Prabowo Membuat mereka panik Takut Kalah,mereka apapun dilakukan


STRATEGIC ASSESSMENT

874,554 total views, 1 views today

Oleh:Tim Koalisi Relawan Nasional Prabowo Korda Boyolali

STRATEGIC ASSESSMENT-Menyikapi kejadian di boyolali jawa tengah sungguh Luar Biasa Capres Prabowo yang membuat sekelompok orang menolak dengan dalih tidak rasional terkesan mengada ada,dengan cara mendemo/menolak Prabowo di Boyolali akan semakin membuat jalan Prabowo menuju Presiden 2019-2024.

Relawan Kornas Prabowo dan semua relawan Pendukung pasangan no 2 dari kejadian langsung melakukan investigasi perihal penolakan warga di boyolali dan Hasil Yang didapat adalah:

1.Yang Melakukan Penolakan Bukan Warga Pribumi Boyolali.

2.Yang melakukan Penolakan Adalah Kader Partai dari Beberapa Partai

Kenapa Kelompok mereka panik dengan Kondisi peta politik Pilpres 2019?….Kekuatan pendukung Prabowo Militan tanpa Harus dibayar,dikondisikan,kekuatan rakyat yang mendukung Prabowo dan mengantarkan pasangan Prabowo-Sandi menjadi Presiden 2019-2024.

Buat Semua pendukung Prabowo-Sandi kejadian diatas akan dibuat mungkin di seluruh indonesia,Kita Punya Motto YANG WARAS NGALAH.

STRATEGIC ASSESSMENT

Pidato Praboeo sebenarnya tidak ada masalah kalau tidak ada yang permasalahkan,ini yang bicara akal sehat untuk menilai pidato Prabowo.

Capres Prabowo sendiri bingung dan aneh candaannya dibuat permasalahan,Prabowo: Saya Bingung, Kalau Saya Bercanda Dipersoalkan kami pendukung dan Relawan Prabowo yang mempunyai akal sehat juga menyayangkan kejadian penolakan tersebut.

Informasi yang didapat dari relawan yang masuk ke kelompok mereka mendapatkan hasil kesimpulannya bahwa Prabowo harus di halangi digagalkan apapun caranya dan dimanapun .

Ini Pidato Lengkap Prabowo yang Singgung Tampang Boyolali

Prabowo Subianto singgung ‘Tampang Boyolali’ saat pidato.

Dan dirasakan sekarang, saudara-saudara yang merasakan sekarang, saya bertanya ke saudara-saudara, apakah saudara-saudara sudah merasakan adil? Sudah merasa makmur atau belum?

(Hadirin ramai berteriak ‘belum’).

Saudara-saudara saya hari ini didampingi, ditemani oleh ketua umum Partai Amanat Nasional, Pak Zulkifli Hasan, tapi beliau juga kebetulan adalah Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat RI (Ketua MPR RI), pemegang perwakilan rakyat yang tertinggi di Republik Indonesia.

Saya juga didampingi tokoh Jawa Tengah dan tokoh TNI yaitu mantan Gubernur Jawa Tengah, Letjen TNI (Purn) Haji Bibit Waluyo.

Saudara-saudara dari Jawa Tengah yang lebih tahu bagaimana seorang Bibit Waluyo itu, seorang gubernur yang bekerja keras untuk rakyat, untuk petani, untuk nelayan, untuk wong cilik di seluruh Jawa Tengah. Dengan semboyan ‘relo bali deso mbangun deso’ Bali deso mbangun deso berarti membangun bangsa dan negara.

Saudara-saudara, saya kenal Pak Bibit Waluyo sudah lama, sebenarnya beliau adalah senior saya. Beliau yang dulu mlonco-mlonco saya, yang mengembleng saya, termasuk beliau. Karena dulu saya taruna yang nakal, tapi kalau nggak nakal, mungkin saya nggak jadi jenderal.

Saya kenal beliau di daerah operasi, kami ini tentara. Dulu kita bukan tentara di belakang meja, kita bukan tentara di kota, kita tentara di lapangan. Kita naik dan turun gunung, kita membela negara ini, pertaruhkan jiwa kita untuk menjaga keamanan negara dan bangsa Indonesia.

Dari sejak muda kami pertaruhkan nyawa kami, untuk bangsa Indonesia, untuk merah putih yang kami cintai. Sekarang seharusnya kita pensiun, seharusnya kita istirahat tapi kami melihat bahwa negara dan bangsa kita masih dalam keadaan tidak baik.

Ekonomi kita tidak di tangan bangsa kita sendiri. Saya lahir di Jakarta, saya besar di Jakarta. Saya memberi usia saya untuk bangsa ini, saya memberi jiwa saya dan raga saya untuk bangsa ini.

Tapi begitu saya lihat keliling Jakarta, saya melihat gedung-gedung mewah. Gedung-gedung menjulang tinggi. Hotel-hotel mewah. Sebut saja hotel mana di dunia yang paling mahal, ada di Jakarta.

Ada Ritz Carlton, ada apa itu, Waldorf Astoria, namanya saja kalian nggak bisa sebut.

(Peserta acara tertawa)

Ada Saint Regis, dan macam-macam itu semua. Tapi saya yakin kalian tidak pernah masuk hotel-hotel tersebut. Betul?

(Hadirin ramai-ramai menjawab: betul)

Kalian kalau masuk, mungkin kalian diusir. Karena tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang-tampang kalian ya tampang Boyolali ini. Betul?

(Hadirin ramai-ramai menjawab: betul)

Saya sebagai prajurit, saya lihat kok negara saya bukan milik rakyat saya, untuk apa saya berjuang, apakah saya berjuang supaya negara kita jadi milik orang asing, saya tidak rela, saya tidak rela.

Karena itulah saya melihat rakyat saya masih banyak yang tidak mendapat keadilan, dan tidak dapat kemakmuran dan tidak dapat kesejahteraan, bukan itu cita-cita Bung Karno, bukan itu cita-citanya Bung Hatta. Bukan itu cita-citanya Pak Dirman, bukan itu cita-citanya Ahmad Yani, bukan itu cita-cita pejuang kita.

(Hadirin berteriak takbir).

Karena itu saudara-saudara, Pak Bibit, saya, lama tidak ketemu. Saya tidak minta beliau mendukung saya. Beliau yang menyatakan ‘saya mendukung Prabowo dan Sandi’. Saudara-saudara, tokoh-tokoh seperti Pak Zul, tokoh-tokoh PAN, tokoh-tokoh PKS, tokoh-tokoh Gerindra, relawan-relawan dari mana-mana bergabung bersama Prabowo-Sandi. Apakah mereka berharap uang? Tidak! Kami partai-partai yang tidak berkuasa. Kalau mendukung kami jangan mengira kami bisa membagi-bagi uang, membagi-bagi sembako, membagi apa-apa, tidak!

Coba kalau yang akalnya sehat coba dianalisa pidato Prabowo ini.