DIVESTASI JALAN TOL, JANGAN SAMPAI DIAMBIL ASING

LIKE SHARE
  • 14.4K
  • 8.9K
  • 229
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    23.6K
    Shares

214,057 total views, 1 views today

STRATEGIC ASSESSMENT. Jakarta. PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) berencana untuk menjual 18 ruas tol-nya. Langkah divestasi jalan tol ini demi melunasi utang-utangnya.

Divestasi jalan tol jadi skema pelunasan utang PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Di samping itu, aksi korporasi ini dilakukan mengingat arah bisnis Waskita Karya yang bukan sebagai operator jalan tol.

“Waskita Karya itu membangun jalan tol itu bukan menjadi operator, tetapi sebagai developer,” ujar Direktur Utama WSKT I Gusti Ngurah Putra usai rapat dengan DPR, Senin (3/12).

Divestasi akan dilakukan secara bertahap mulai tahun depan. Hal itu melihat penyelesaian pembangunan jalan tol trans Jawa yang akan selesai akhir Desember 2018.

Jalan tol tersebut akan ditawarkan secara umum tidak hanya pada operator tol pelat merah. Ngurah bilang sejumlah investor telah menyatakan ketertarikan terhadap tol milik Waskita Karya. “Kemarin sudah presentasi di pertemuan IMF, itu banyak yang minat,” terangnya.

Selain divestasi, terdapat skema lain untuk menutupi utang Waskita Karya. Salah satunya adalah dengan menggunakan piutang proyek turnkey sebesar Rp 7,247 triliun.

Ada pula utang yang digunakan untuk proyek pemerintah. Utang tersebut digunakan untuk membayar pembebasan lahan.

Berdasarkan skema yang dibuat oleh Waskita Karya, terdapat piutang senilai Rp 44,453 triliun untuk menutupi kredit tunai perusahaan. Piutang tersebut didapatkan dari piutang proyek dan piutang dana talangan pembebasan lahan ke Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN).

Ditambah dengan operasional dan divestasi jalan tol sebelumnya, Waskita Karya akan mendapat Rp 61,72 triliun. Angka tersebut senilai dengan total pinjaman yang telah dipakai oleh Waskita Karya (https://industri.kontan.co.id/news/waskita-karya-jual-18-ruas-tol-untuk-menutupi-utangnya).

Sementara itu, Bayu Kusuma, pengamat ekonomi dan masalah strategis Indonesia mengatakan, divestasi jalan tol oleh PT Waskita Karya kalau bisa jangan sampai dimenangkan oleh asing, karena hal tersebut merupakan bentuk “penjajahan asing” di era digital saat ini.

Pemerintahan Jokowi tetap perlu mengutamakan penawaran penjualan kepada perusahaan milik warga Indonesia atau swasta Indonesia,” tambah Bayu Kusuma yang juga Pemred www.mediakajianstrategisindonesiaglobal.com ini seraya mewanti-wanti semakin akutnya gejala orang asing mudah membeli properti di Indonesia.

Menurutnya, inilah dilema yang dihadapi Jokowi karena ditengah-tengah kekuatan uang negara yang masih “Senin-Kamis” saat menjabat di tahun 2014, Jokowi sudah berani membuat gebrakan membangun sejumlah proyek infrastruktur berbiaya tinggi. “Dampaknya hutang luar negeri membengkak, karena terlalu banyaknya infrastruktur yang ingin dibangun atau dengan kata lain terkesan grusa-grusu atau buru-buru dalam merencanakan dan membangunnya. Kondisi ini mudah “digoreng” di tahun politik saat ini (Red).


LIKE SHARE
  • 14.4K
  • 8.9K
  • 229
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    23.6K
    Shares