Gawat! Benarkah Terjadi Stagnasi Perekonomian Indonesia?

LIKE SHARE
  • 34.9K
  • 18K
  • 3.4K
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    56.2K
    Shares

310,585 total views, 1 views today

STRATEGIC ASSESSMENT- Kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi tahun 2018 sebesar 5,17%. Pengumuman BPS ini tentu menuai berbagai pandangan dari beragam pihak.

Pemerintah mengatakan angka pertumbuhan ekonomi tersebut sudah cukup baik, mengingat banyak tekanan di ekonomi global. Namun, tak sedikit juga pihak yang mengatakan pertumbuhan ekonomi era Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakilnya Jusuf Kalla (JK) tidak sesuai janji manis masa kampanye, yakni sebesar 7%. Ada pula yang berpandangan pertumbuhan ekonomi RI stagnan atau bergerak melambat.

Rerata pertumbuhan ekonomi era Jokowi-JK hanya berada di 5,04%. Ekonom Faisal Basri memberikan pandangannya. Dalam laman pribadinya, Faisal Basri menjabarkan pola berulang yang ditemukannya sewaktu menganalisis perekonomian RI di masa pemerintahan Jokowi – JK.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih cocok dikatakan anteng (=Bahasa Jawa “diam”) di atas 5%. Pasalnya, Faisal Basri melihat pertumbuhan ekonomi RI di masa pemerintahan Jokowi – JK selalu berada dalam kisaran 5%, kecuali di tahun 2015 yang sempat melambat di level 4,88%.

Gawat! Benarkah Terjadi Stagnasi Perekonomian Indonesia?Foto: infografis/infografis Pertumbuhan Ekonomi RI Era Jokowi/Aristya Rahadian Krisabella

“Jadi, lebih elok mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia selama empat tahun terakhir bertengger anteng di atas 5%,” begitu tulis Faisal Basri dalam laman pribadinya, Kamis (7/2/2019).

Faisal menjelaskan pola serupa juga terjadi pada tingkat pengangguran. Dan betul saja, dari tahun ke tahun tingkat pengangguran di masa pemerintahan Jokowi – JK juga anteng di kisaran 5%.

“Tingkat pengangguran terbuka pun menunjukkan perkembangan serupa. Setelah naik dari 5,820% tahun 2014 menjadi 5,995% tahun 2015, tingkat pengangguran terbuka terus turun menjadi 5,555% tahun 2016, lalu 5,415% tahun 2017, dan 5,235% tahun 2018.”

Namun dalam analisisnya, Faisal Basri juga menemukan pola menurun dan justru terjadi pada sektor penopang pertumbuhan ekonomi, salah satunya sektor penghasil barang (tradable) yang selalu tumbuh lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi.

“Sektor industri manufaktur yang merupakan penyumbang terbesar bagi PDB terus melanjutnya penurunan perannya, dari 20,52% pada 2016 menjadi 20,16% pada 2017 dan turun lagi ke aras di bawah 20% tahun 2018.”

Meskipun sektor industri manufaktur terus menunjukkan pola menurun, Faisal Basri juga menjelaskan pola meningkat yang terjadi pada sektor sektor jasa (non-tradable). Bahkan pertumbuhan di sektor ini berada di atas pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto).

Tak hanya itu, dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto juga menunjukkan pola meningkat dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Di tahun 2017, kedua komponen tersebut berada dalam level 4,94% dan 6,15%. Keduanya pun mengalami peningkatan yang signifikan di tahun 2018, yakni 5,05% dan 6,67%.

“Faktor inilah yang menjadi kunci pertumbuhan PDB bisa lebih tinggi tahun lalu [2018], mengingat sumbangan konsumsi rumahtangga lebih dari separuh PDB. Penyumbang terbesar kedua adalah pertumbuhan investasi fisik atau pembentukan modal tetap bruto. Komponen ini-yang menyumbang 32,29% dalam PDB.”

Di akhir tulisannya, Faisal Basri berpesan agar pemerintah bisa lebih fokus pada upaya untuk mendorong sektor industri manufaktur, terutama yang memproduksi barang substitusi impor. Dengan demikian ke depannya, impor bisa dikurangi dan ekspor bisa lebih dioptimalkan. Jika hal tersebut dilakukan dan berjalan dengan baik, niscaya, target pertumbuhan ekonomi RI yang mencapai 7% bukan angan-angan belaka.

 

LIKE SHARE
  • 34.9K
  • 18K
  • 3.4K
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    56.2K
    Shares