IDEALISME DAN BENTUK PARTISIPASI POLITIK KAUM MILENIAL Oleh : Adithya Tri Firmansyah

LIKE SHARE
  • 4.8K
  • 2.3K
  • 342
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    7.4K
    Shares

112,879 total views, 2 views today

STRATEGIC ASSESSMENT. Dewasa ini kata milenial selalu menjadi topik perbincangan khalayak ramai di indonesia baik dalam sisi pendidikan, ekonomi, kebudayaan, dan agama yang kerap menyoroti peran penting generasi milenial.

Terlebih lagi pada aspek politik yang tak ada hentinya untuk menarik simpatisan kaum milenial itu sendiri. Pasalnya sebagai masyarakat sipil (civil society) tentunya kita hanya berfikir bahwa aspek politik adalah momentum pesta demokrasi untuk mendapatkan pemimpin terbaik.

Tahun politik 2018 dan 2019, generasi milenial seperti yang telah dilansir diberbagai media sering disebut generasi Y adalah sekelompok orang yang lahir setelah generasi X, terlahir pada kisaran tahun 1980-2000-an. Yang mana pada umumnya anak-anak muda kerap apatis dan bahkan menganggap politik hanyalah riuh intrik semata.

Oleh karena itu hal ini memunculkan sebuah pertanyaan yang fundamental yaitu apa yang mereka bisa lakukan untuk bangsa ini kedepannya? Apakah akan acuh dengan kondisi politik saat ini sehingga memilih untuk apatis dan tidak mau memikirkan nasib bangsa ini kedepannya. Tentu saja hal demikian merupakan problematika yang dialami pemuda/i generasi milenial saat ini.

Banyak faktor yang membuat mereka enggan peduli dengan politik antara lain jika diamati secara langsung ketika kita memberikan sebuah pertanyaan kepada teman atau sahabat dekat tentang apa itu milenial, bisa dipastikan mereka hanya akan memberikan kesimpulan bahwa milenial itu anak muda, dan selalu dikaitkan dengan lifestyle (Bergaul dengan siapa saja dan kecendrungan untuk bebas dan tak peduli dengan hal-hal yang rumit bagi mereka). Padahal sebaliknya milenial adalah generasi produktif yang harus menjadi sumber penopang kemajuan bangsa ini.

Tentu sangat mengkhawatirkan jika kaum milenial acuh terhadap kondisi politik, karena sangat berdampak pada baik buruknya kondisi bangsa. Seperti yang kita ketahui Indonesia memasuki momentum tahun politik yang selalu berafiliasi dengan konflik antar kubu dan golongan, polarisasi pun terjadi antara Kubu A dan Kubu B.

Kawan bisa menjadi lawan dan lawan pun bisa menjadi kawan, sehingga kalimat ini lah yang cocok untuk menggambarkan kondisi politik indonesia saat ini. Dalam artian tidak ada teman sejati yang ada hanyalah kepentingan aristokrasi.

Dengan berkepentingan politik tersebut semua dapat berubah dengan sangat cepat, bahkan saudara sekandung pun bisa saling membenci jika berbeda pilihan, politik bagaikan suatu cuaca yang susah untuk ditebak, mendung belum tentu hujan. Panas berkemungkinan untuk hujan.

Generasi milenial sebagai penentu bangsa. Para elite partai politik pun memainkan narasi – narasi kampanye pastinya untuk menarik simpati dari masyarakat, dalam hal ini yang paling ditargetkan adalah kaum milenial itu sendiri.

Dengan demikian sinergitas pemuda/i sebagai generasi milenial harus di perkuat dengan nilai-nilai idealisme dalam diri mereka, pemuda/i milineal adalah kekuatan untuk bangsa ini seperti yang di katakan ir. Soekarno yaitu “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Kalimat ini artinya memberikan gambaran betapa kuatnya pemuda untuk dunia dan khususnya negara republik indonesia ini, maka sangat disayangkan bila kaum milenial tidak punya paradigma idealisme dalam hidup mereka, karena yang dikatakan idealisme, yaitu suatu pemikiran tentang dunia utopia, merupakan hal penting yang membuat manusia tetap mempunyai semangat dan harapan untuk tetap hidup dan berjuang demi dunia yang lebih baik.

Dunia utopia memang seperti mimpi. Tapi kita dapat percaya bahwa mimpi yang terukur dan dikombinasikan dengan pemikiran serta semangat positif dapat mengubah dunia. Pada saat kita berhenti bermimpi, kita berhenti berusaha, maka kita akan mati. Dan tentu hal ini harus dipupuk untuk menjadi keyakinan dalam hidup. Kemudian partisipasi politik generasi milenial punya karakteristik tersendiri. Partisipasi tersebut tak melulu soal bergabung dengan partai politik atau terlibat politik praktis.

Dan tentu ini dapat dimanifestasikan dalam pendekatan digital partisipasi bisa berupa petisi, donasi, bergabung dengan forum diskusi, (media) digital adalah tempat pertama untuk mengundang para pemuda ketika terjun ke dunia politik. Juga selain pendekatan digital,banyak hal yang bisa kaum milenial lakukan, yaitu pemuda/i milenial juga mampu mengedukasi masyarakat dengan pendekatan politik inklusif.

Sebab, selama ini kontestasi politik negeri ini lebih mengarah pada politik yang saling menihilkan satu sama lain. Anak muda tentu berperan strategis dalam merangkul orang dari berbagai kalangan yang beragam. Sebagai kesimpulan, pemuda/i haruslah idealisme dan meyakini setiap hal yang mereka anggap benar untuk kemajuan bangsa ini, bukan menjadi pemuda/i yang pragmatisme dan oportunis. Pemuda/i sebagai generasi milenial harus memberikan kesadaran politik nilai kepada khalayak umum.

Politik nilai yang dimaksud adalah berpolitik bukan hanya saja mengutarakan janji kampanye yang bersifat abstrak, tetapi menyampaikan sebuah ide dan gagasan yang kongkrit tentang apa saja yang akan dilakukan untuk mewujudkan setiap program yang dimiliki karena demokrasi bukan hanya tentang pemilu.

Tetapi demokrasi adalah keterlibatan masyarakat secara umum untuk mengawal bangsa ini agar tercapai kemakmuran, keadilan, demi terwujudnya kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
*) Pemerhati Indonesia


LIKE SHARE
  • 4.8K
  • 2.3K
  • 342
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    7.4K
    Shares