Infrastruktur Banyak Yang gagal 2019 Jokowi beralih strategi


STRATEGIC ASSESSMENT

855,545 total views, 1 views today

OLEH:ROS ANANTA

STRATEGIC ASSESSMENT-Tahun politik 2019 semua bisa terjadi diluar dugaan siapapun dan semua bisa terjadi pada siapapun.politik yang dinamis…terdengar kabar setelah Jargon Infrastruktur jokowi yang dibanggakan kurang memenuhi target dan ada yang gagal dan menguras uang pemerintah dari hasil hutang pihak luar negeri,dan hutang sekarang yang sudah sangat membengkak dan hanya bisa lunas kalau semua rakyat ikut menanggung hutang dan membayar perkepala Utang Pemerintah Lunas Jika Tiap Orang RI Bayar Rp 16 Juta dan dengan kondisi dollar us sekarang yang diatas Rp 15 000 pasti nilainya akan berubah.

Proyek-proyek infrastruktur pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dianggap masih membebani keuangan negara lantaran proyek infrastruktur yang bernilai ribuan triliun rupiah itu masih belum rampung dan belum memberikan dampak nyata terhadap penerimaan negara dalam jangka pendek atau menengah ini,namun simber yang dapat dipercaya proyek infrastruktur bukan dibatalkan namun ditunda hingga tiga Tahun kedepan Bukan Dibatalkan, Proyek Infrastruktur Ditunda hingga Tiga Tahun,pertanyaannya ya kalau Jokowi terpilih pada Pilpres 2019 tapi kalau tidak terpilih namanya semua gagal total.

Bahkan, dampak gencarnya pembangunan belum dirasakan secara nyata oleh masyarakat,dan sayangnya biaya itu semua hutang yang dilakukan oleh Pemerintah saat Ini.

“Pembangunan infrastruktur kita memang punya timeline. Tapi enggak serta merta langsung memberikan efek. Kalau kita lihat sampai triwulan tiga kemarin, memang ada perbaikan PNBP yang tumbuh 5%, tapi ternyata setelah kita lihat, belanja modal yang tumbuh kemarin itu adalah penjualan alat-alat berat untuk membangun infrastruktur, bukan belanja modal yang support di sektor rill kita. Artinya sektor produksi kita di triwulan empat akan tetap stagnan.

Proyek-proyek infrastruktur pemerintah kembali gagal memberikan multiplier effect ke masyarakat lantaran sejumlah penugasan diberikan ke BUMN dalam membangun infrastruktur. Penugasan itu kemudian dianggap membuat BUMN hanya berpikir bagaimana mengerjakan proyek itu dengan efisien dan tidak memikirkan efek jangka panjang.

“Artinya mereka enggak berpikir jangka menengah panjang, bagaimana proyek itu bisa berkesinambungan. Terkait business planning korporasi yang bersangkutan. Artinya mereka akan cari cara-cara yang instan.

“Kalau kita lihat di 2017 semester I, kita banyak mengerjakan proyek infrastruktur, tapi kita terjadi over suplai semen. Dan tidak ada satu baja pun dari dalam negeri. Karena apa? Karena mereka cari jalan instan. Yang murah impor. Ini yang akhirnya percepatan proyek infrastruktur tidak punya multiplier effect dalam jangka pendek. Karena semua capital insentive, apalagi disupport dari barang-barang impor,” jelasnya.

Enny mengakui pembangunan infrastruktur diperlukan karena posisi Indonesia sendiri sudah ketinggalan cukup jauh. Sementara di satu sisi penerimaan pajak masih kurang untuk membiayai proyek-proyek tadi, maka jalannya adalah dengan berutang. Namun perlu ada pemilihan proyek prioritas yang dibiayai oleh utang untuk bisa memberikan percepatan dalam pembiayaan utang tadi.

“Sekarag pemerintah tambah utang lagi, mestinya ini harus diprioritaskan untuk pembiayaan infrastruktur yang bisa refinancing, supaya tidak menambah beban defisit keseimbangan primer (kemampuan pemerintah dalam pengeluaran dan pendapatan). Dengan kata lain, proyek proyek infrastruktur pemerintah minimal bisa refinancing, tidak gali lubang tutup lubang,dan presentasinya proyek Infrastruktur banyak mengalami kegagalan.

“Sudah 4 tahun Pemerintah Indonesia fokus membangun infrastruktur fisik. Di tahun 2018-2019 ke depan, Pemerintah akan fokus pada soft infrastructure,Mulai akhir 2018 hingga tahun depan, fokus pembangunan yang akan digencarkan pemerintah adalah pembangunan sumber daya manusia (SDM) dalam rangka meningkatkan daya saing negara,Terungkap! Tak Lagi Infrastruktur, Ini Fokus Jokowi di 2019