LOKALISASI PELACURAN DI JAKARTA DAN SEKITARNYA YANG DITUTUP FRONT PEMBELA ISLAM : JADI ALASAN TUNTUTAN PEMBUBARANNYA

LIKE SHARE
  • 17.3K
  • 11.1K
  • 3.8K
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    32.2K
    Shares

273,490 total views, 2 views today

STRATEGIC ASSESSMENT. Sepanjang kiprahnya selama ini, Front Pembela Islam (FPI) sudah cukup banyak menutup lokalisasi pelacuran dan tempat-tempat maksiat di Jakarta dan sekitarnya.

Memang tak melulu aksi-aksi Hisbah FPI dalam memberantas kemaksiatan ini meraih keberhasilan. Karena ada pula tempat-tempat pelacuran yang sudah dibersihkan oleh FPI namun kemudian tak mampu dicegah untuk berdiri kembali.

Memberantas segala bentuk kemaksiatan itu adalah kewajiban kita semua bukan hanya FPI saja. Jadi tentu tak mungkin kita hanya berharap kepada FPI untuk membasmi tempat-tempat pelacuran dan maksiat tanpa mendapat dukungan berbagai pihak terutama pemerintah.

Namun segala hambatan dan keterbatasan itu sedikitpun tak mampu mengurangi semangat FPI dalam upaya memberantas segala bentuk kemaksiatan, semampu yang bisa FPI lakukan didalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Berikut beberapa tempat pelacuran dan sarang maksiat di Jakarta dan sekitarnya yang telah diserbu dan ditutup oleh FPI, yang dirangkum oleh Faktakini.com dari berbagai sumber: pertama, lokalisasi pelacuran Boker di Ciracas, Jakarta Timur yang sudah ada sejak tahun 1975.

Lokalisasi ini akhirnya berhasil ditutup pada tahun 2002 berkat perjuangan FPI bersama para alim ulama, tokoh masyarakat dan ormas-ormas Islam. Setelah berhasil dibersihkan mulai tahun 2005 dimulailah pembebasan lahan di bekas Lokalisasi Boker ini untuk pembangunan Gedung Olahraga (GOR). Setelah pembangunan selesai GOR Ciracas mulai beroperasi sejak tanggal 1 Januari 2010 dan diresmikan pada tanggal 19 April 2012 oleh Gubernur DKI saat itu Fauzi Bowo.

Kedua, Laskar Pembela Islam (LPI) FPI berhasil menutup tempat pelacuran alias prostitusi di wilayah Ciputat Tangerang Selatan, 18 September 1999. Ketiga, dalam lanjutan aksi Hisbah memberantas tempat-tempat maksiat, Laskar Pembela Islam kembali berhasil menutup diskotek Indah Sari di Petamburan Tanah Abang Jakarta Pusat, pada 22 September 1999.

Keempat, FPI berhasil membersihkan tempat hiburan Mekar Jaya Billiard yang dari hasil laporan masyarakat telah menjadi sarang maksiat, di Jalan Prof Dr. Satrio No. 241, Karet, Jakarta pada 15 Maret 2002. Kelima, FPI serbu diskotek New Star di Jalan Raya Ciputat yang disinyalir menjadi sarang pelacuran. FPI menuntut agar diskotek ini menutup aktivitasnya pada 24 Maret 2002.

Keenam, FPI hancurkan sarang maksiat di dua tempat sekaligus yaitu Diskotek Lucky Star dan Diskotek Barong di Jalan Pluit Indah Raya, Jakarta Utara. Eksekusi di Pluit ini dilakukan FPI untuk membantu pemerintah DKI memerangi kemaksiatan di Ibu Kota. Selain itu, FPI juga sekaligus membantu mengembalikan fungsi lahan sebagai fasilitas umum. Ratusan botol minuman keras yang ada di dalam kedua diskotek ini juga berhasil dimusnahkan oleh FPI pada tanggal 20 Agustus tahun 2002.

Ketujuh, FPI obrak-abrik Lokalisasi Pelacuran di Prumpung, Jakarta Timur. Kocar-Kacir selalu disweeping oleh FPI, kemudian para pelacur disana pindah ke beberapa lokasi di area Banjir Kanal Timur (BKT). Namun di tempat itupun mereka setiap hari selalu dikejar dan dirazia oleh FPI. Diantara mereka ada yang main judi (gaple), dan wanita penjaja kopi yang merangkap sebagai jablay.

Kedelapan, awal lokalisasi pelacuran muncul di BKT adalah di perkampungan di belakang Samsat Kampung Jembatan Kelurahan Cipinang Besar Selatan namun keberadaan tempat maksiat di tempat ini sudah digusur oleh FPI. Kemudian setelah itu muncul pula warung esek-esek di dekat jembatan gantung BKT namun langsung disapu bersih oleh FPI Jakarta Timur dibantu oleh FPI Bekasi. Masih di area BKT tempat-tempat pelacuran di Jembatan Cipinang Indah sampai Jembatan Pahlawan Revolusi juga alhamdulillah sudah bersih dari para pelacur, para pedagang yang terkadang merangkap jadi germo serta para penjudi dan pemabuk karena rutin selalu dirazia oleh FPI.

Di Jembatan Pahlawan Revolusi sampai Jembatan Raden Inten (McDonalds) juga sudah bersih dari pelacur, para pedagang dan pemabuk karena rutin selalu dirazia oleh FPI. Di Jembatan Raden Inten sampai Pintu Air juga sudah bersih dari pelacur, para pedagang dan pemabuk karena rutin selalu dirazia oleh FPI. Memang hingga kini diyakini secara sembunyi-sembunyi masih ada pelacuran di area BKT namun mereka transaksinya via online.

Yang tentu saja agak sulit mengenali mereka karena membaur dengan pedagang dan pembeli yang menikmati keindahan BKT. Namun dengan segala keterbatasan yang dimiliki FPI tetap bertekad akan terus menjaga, merazia dan membersihkan tempat-tempat tersebut dari kemaksiatan, semampu yang bisa FPI lakukan.

Hotel Ciputat di daerah Situ Gintung Tangerang Selatan yang awal digrebek FPI sekitar tahun 2002. FPI mendapat info dari masyarakat sekitar tahun 2002 bahwa Hotel Ciputat di Situ Gintung telah dijadikan tempat pelacuran dan peredaran minuman keras. Ternyata begitu FPI melakukan sweeping disana info tersebut ternyata memang benar adanya.

Waktu itu di tahun 2002 FPI hanya mensweeping mirasnya dan langsung dimusnahkan ditempat dan sebagian lainnya diserahkan ke aparat. Selama beberapa tahun kemudian tidak terdengar hotel itu buka pelacuran lagi dan miras. Tapi di tahun 2005 masuk lagi laporan bahwa Hotel Ciputat kembali membuka praktek pelacuran dan menjual miras. Warga setempat kemudian mengundang FPI dan beberapa ormas lainnya untuk menyegel Hotel Ciputat di kawasan Situ Gintung ini.

Akhirnya hotel tersebut kemudian ditutup total atas desakan FPI bersama warga dan sejumlah ormas.

Di Diskotek Sabang Slipi tapi sudah masuk kawasan Palmerah Jakarta Barat persis di depan Sekolah Regina pacis, diskotik itu diacak-acak FPI pada tahun 2005 dan sampai saat ini tidak buka lagi.

Laskar FPI menggerebek 11 lokasi yang menjadi tempat maksiat di Kampung Kresek, Jalan Masjid AT-Taqwa RT02/06, Jati Sampurna, Pondok Gede, Bekasi pada 20 Mei 2006.

FPI kembali mengobrak-abrik sejumlah tempat hiburan dan warung minuman di Kampung Kresek, Jatisampurna, Bekasi.

Front Pembela Islam (FPI) cabang Bekasi, kemudian mengepung kantor Polres Metro Bekasi menuntut penutupan seluruh sarang maksiat di wilayah tersebut pada tanggal 25 Mei 2006. Warung esek-esek termasuk didalamnya banyak permainan judi seperti judi jackpot dan lain-lain di Petojo dihancurkan oleh Laskar FPI pada tahun 2014.

Lokalisasi pelacuran di Kalijodoh juga sudah berkali-kali diserbu oleh FPI. Di Kalijodoh, FPI setidaknya sudah tiga kali bertempur dengan preman. Seperti sekitar tahun 2007 FPI mendatangi lokalisasi yang sudah cukup lama itu.

Preman yang bertugas mengamankan tempat esek-esek itu rupanya tidak terima dengan kehadiran FPI sehingga berakhir dengan bentrokan. Para preman beking tempat pelacuran itu kemudian berhasil dipukul mundur oleh FPI. Sampai akhirnya, FPI dan preman yang membekingi tempat tersebut dibawa ke Polres Jakarta Barat untuk diselesaikan.

Namun walau sudah berkali-kali diobrak-abrik oleh FPI namun gagal untuk mencegah lokalisasi di Kalijodoh tersebut berdiri lagi. Karena FPI berjuang sendiri menyerbu lokasi tersebut tanpa bantuan aparat Satpol PP, Polisi, TNI dan pemerintah.
Lokalisasi di Bongkaran Tanah Abang. Sama seperti Kalijodoh, lokalisasi pelacuran di wilayah Bongkaran Tanah Abang Jakarta Pusat juga sudah berkali-kali diserbu dan dibersihkan oleh FPI.

Namun setelah bersih seusai ditinggal oleh FPI lokalisasi ini pun kemudian berdiri lagi. Laskar FPI setidaknya sudah tiga kali menyebu Bongkaran untuk dibersihkan. Sebulan dua bulan pertama memang bersih, namun memasuki bulan ketiga, “lapak seks” Bongkaran muncul lagi. FPI pun tidak bisa mempertahankan Bongkaran dalam keadaan bersih setelah dibongkar. Kini, para pelaku maksiat sudah menjadi bagian masyarakat di wilayah itu. Mereka tinggal di kos-kosan di Jl. Kebun Jati, tak jauh dari Bongkaran.

Nah, pengalaman FPI di lapangan saat turun menggempur Bongkaran, para preman langsung mengetok tiang listrik, lalu semua warga yang ada sekitar itu keluar rumah untuk melawan laskar FPI.

Saat itu, sudah tidak bisa dibedakan lagi, mana yang warga dan mana preman. Jadi preman dan warga betul-betul sudah membaur dan menyatu. Itulah salah satu kendala besar di Bongkaran sehingga daerah itu lebih tepat disebut sebagai wilayah Dakwah, bukan Hisbah.

Yang pasti, FPI sudah melakukan berbagai macam upaya, mulai dengan beraudiensi dengan DPRD, Pemkot, Pemda, dan PJKA, mengingat tanah di lokasi digunakan tempat maksiat di Bongkaran itu adalah milik PJKA.

FPI sempat mendesak PJKA agar membuat tembok tinggi agar tidak ada lagi praktek pelacuran di wilayah itu. Tapi upaya itu masih menemui kegagalan (https://www.faktakini.net/2018/01/lokalisasi-pelacuran-di-jakarta-dan.html?m=1).


LIKE SHARE
  • 17.3K
  • 11.1K
  • 3.8K
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    32.2K
    Shares