MEMENJARAKAN LAWAN, MEMBESARKAN PENGARUH Oleh : Iramawati Oemar

LIKE SHARE
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

243,732 total views, 2 views today

STRATEGIC ASSESSMENT. Banyak orang berpikir sederhana : untuk mengalahkan lawan, pasunglah dia. Dengan dipasung, tangan dan kakinya akan terikat dan tak bisa dipakai memukul.

Dalam hal lawan politik, bisa jadi itu benar jika cara “bermain”nya masih kuno, yaitu MENYURUH orang lain memilih dengan iming-iming hadiah materi atau janji jabatan, atau sebaliknya dengan ancaman, intimidasi, tekanan, yang memanfaatkan posisi/jabatan seseorang.

Contoh nyata adalah seorang bupati di wilayah Jawa Barat, yang menggunakan posisinya untuk menyuruh Ketua RT dan RW didaerahnya mendukung paslon capres tertentu. Hanya berselang hari, sang bupati dicokok KPK dalam operasi tangkap tangan. Bupati pun terpaksa meringkuk di rutan KPK. Maka, bersorak sorailah warganya yang selama ini disuruh mendukung capres tertentu. Dalam kasus seperti ini, jelas upaya “kampanye” otomatis terhenti ketika sang bupati dibui KPK.

Dalam kasus lain, bupati Bekasi yang juga jadi pesakitan KPK terkait kasus suap perijinan Meikarta, dengan dibui-nya dirinya, tak bisa lagi jadi timses. Bahkan, mungkin karena merasa tidak rela harus menanggung sendiri akibatnya, maka sang bupati pun bernyanyi sumbang, menyebutkan nama pejabat lain yang suka tidak suka terafiliasi pada salah satu capres.
Ketika di kubu salah satu capres ada beberapa anggota tim sukses yang juga kepala daerah dicokok KPK dan meringkuk di rutan KPK, maka orang-orang yang berpikiran linier akan berpikir : untuk mengurangi kekuatan lawan haruslah satu demi satu mereka dibui juga. Biar imbang!

Tapi pakai cara apa?! OTT KPK gak mungkin! Karena lawan bukanlah koruptor.
Ya akhirjya paling gampang mainkan sajalah UU ITE yang punya pasal-pasal karet untuk dimanfaatkan menjerat lawan.
Dimulailah dari Ahmad Dhani. Cuitan lawasnya 2 tahun lalu mengantar dia ke balik jeruji besi. Meski banyak pihak pakar hukum berpendapat tidak selayaknya pasal itu dipakai untuk memenjarakan Dhani, tapi faktanya demikian.
Oke, Dhani sudah dibui. Lalu, matikah pamornya? Terhentikah kampanyenya?!
Justru tidak!!

Lihatlah simpati yang terus mengalir untuk Ahmad Dhani dan ramainya pemberitaan, termasuk dari media mainstream, semua stasiun televisi memberitakan, baik di segmen berita maupun infotainment. Ini tentu makin membuat nama Ahmad Dhani kian dikenal dan kembali dibicarakan publik.

Simpati pertama mengalir karena Dhani sama sekali tak kelihatan memelas meminta dikasihani. Dia tampak tegar meski harus langsung masuk ke LP Cipinang. Senyumnya tetap ditebar, bahkan fotonya viral tetap bersalam 2 jari dari balik jeruji besi. Luar biasa!! Bahkan 2 hari Cipinang, sebuah media mainstream yang selama ini jadi corong penguasa, menuliskan berita Dhani jadi idola baru di LP Cipinang. Keluwesannya berbaur dengan para napi membuat Dhani disukai.

Bagus, Dhani bisa berkampanye disana, tidak dengan pemaparan visi misi, tidak dengan indoktrinasi plus ancaman, tidak juga dengan bagi-bagi sembako dan amplop serangan fajar. Dhani cukup berkampanye dengan dirinya sendiri, hadir di tengah-tengah para napi dan para pembezuknya, politisi-politisi dari kubu mana yang datang.

Sikap Dhani itu berbeda jauh dengan Ahok yang justru memperlihatkan sikap pengecutnya, menolak ditempatkan di Cipinang karena takut dengan napi lain. Akhirnya “diamankan” di Mako Brimob, meskipun tak pernah satu kali pun ada foto apalagi video yang menunjukkan keberadaan Ahok di dalam Mako Brimob, termasuk ketika pecah kericuhan besar di Mako Brimob.

Perlakuan terhadap Ahmad Dhani pun langsung mengundang banyak komentar dan simpati publik. Sembari menunggu untuk ditempatkan di selnya, Dhani harus berbaur dengan ratusan napi lain di ruangan yang amat sangat apa adanya. Berbeda dengan Ahok, yang saat itu beredar foto Ahok menunggu di ruangan khusus, duduk di kursi tamu, disuguhi makanan dan minuman, bahkan ada foto sedang makan bersama Menkumham Yasonna Laoly segala. Sudah seistimewa itu perlakuan untuk Ahok selama menunggu proses administrasi, eeeh…, ujung-ujungnya tak jadi nginap di LP Cipinang.

Perlakuan kontras bak langit dan bumi ini makin membukakan mata semua orang. Yang masih belum berpihak (swinging voters) pun mau tak mau jadi berpikir, melihat ketidakadilan yang menyolok ini.

Ketidakadilan selalu menimbulkan simpati pada pihak yang didzholimi, itu sudah hukum alam dimana pun. Maka, lihatlah reaksi emosional ketika Konser Reuni Dewa 19 di Malaysia, yang seketika berubah jadi konser “Tribute to Ahmad Dhani”. Lagu “Hadapi Dengan Senyuman” seakan jadi pemicu emosi penonton, apalagi ketika anak-anak Ahmad Dhani larut dalam tangis pilu. Lihatlah komentar-komentar yang membanjir di media sosial.

Al dan Dul, kedua anak Ahmad Dhani adalah icon milenial, anak muda jaman now. Solidaritas kaum milenials akan mudah sekali terbawa melihat bagaimana Al dan Dul menyikapi kejadian yang menimpa ayah mereka. Anak muda biasanya solider.
Sudah susah payah gagal mengajak Nissa Sabyan berkampanye, akankah kubu sebelah makin kehilangan magnet daya tarik karena kaum milenials bakal “dibakar” oleh kedua anak Ahmad Dhani?!

Tak cukup hanya memenjarakan Dhani di Cipinang, kabarnya tanggal 7 Februari Dhani akan segera menjalani persidangan di PN Surabaya. Dia akan dipindahkan dan dititipkan di rutan Medaeng. Makin suramkah Ahmad Dhani?!
Belum tentu!!

Saat ini Dhani tercatat sebagai caleg dari partai Gerindra dari Dapil Surabaya. Membawa Dhani kesana justru akan makin melambungkan namanya sebagai martir korban UU ITE. Sekarang saja, makin banyak orang yang tadinya tak peduli dengan pencalegan Dhani, jadi terpicu untuk memenangkan Dhani agar terpilih jadi aleg DPR RI. Apalagi Sandiaga Uno sudah berjanji saat membezuk Ahmad Dhani : jika Prabowo – Sandi diberi amanah untuk memimpin negeri ini, mereka akan mengajukam revisi UU ITE agar tidak jadi alat untuk memukul lawan dan melindungi kawan. Konyolnya lagi, orang-orang berpikiran linier itu masih saja tak mampu berpikir kritis! Habis Dhani, mereka membidik Rocky Gerung. Padahal RG bukan timses apalagi caleg.

Mungkin itu sebabnya Mahfud MD dan beberapa tokoh yang berafiliasi kepada paslon capres 01, justru terkesan membela Rocky Gerung. Tampaknya, sebagian orang yang masih bisa berpikir “waras” di kubu sebelah, menyadari betul langkah memenjarakan lawan justru jadi blunder besar. Makanya, kalau diwawancarai di televisi pun mereka berhati-hati.
Sayangnya, orang-orang konyol itu pikirannya tak sampai sejauh Prof. Mahfud. Orang-oramg seperti Ruhut Sitompul, “ustad” Abu Janda, Ngabalin, terus saja berkoar di layar kaca, yang bukannya menambah simpati publik, namun sebaliknya memicu antipati.

Dan, orang seperti Jack Lapian masih akan terus melaporkan siapa-siapa yang dianggap perlu dipenjarakan, seolah makin banyak yang dipenjara akan berbanding lurus dengan jumlah suara yang akan didapat. Seakan banyaknya laporan dia ke polisi linier dengan naiknya elektabilitas petahana.
Woooiiii…, bangun woii!!

Finally…,
Selamat Cak Dhani, awakmu entuk promosi gratis. Akeh sing pengen awakmu dadi wakile arek-arek Suroboyo. Awakmu cocok dadi arek Suroboyo : gak wedi blas karo beboyo, malah nantangi boyo!
*) Tulisan ini diambil dari Grup WA.


LIKE SHARE
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •