MEMERANGI RADIKALISME DI RANAH GLOBAL DAN IMBALANNYA

LIKE SHARE
  • 9.2K
  • 5.1K
  • 321
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    14.7K
    Shares

121,487 total views, 1 views today

STRATEGIC ASSESSMENT. Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel Al-Jubeir, mengatakan pemerintah telah memecat beberapa ribu imam berpaham radikal dari kegiatan masjid karena menyebarkan ekstremisme.

“Kami tidak akan membiarkan siapapun menyebarkan ideologi kebencian, untuk membiayai ideologi atau terorisme semacam itu,” kata Adel di Moskow seperti yang dilansir media The Nation pada 9 Oktober 2017. Adel menyambangi Rusia bersama dengan Raja Salman bin Abdul Aziz yang tiba di Moskow beberapa waktu yang lalu.

“Pendekatan kami terhadap masalah ini sangat ketat: Kami memodernisasi sistem pendidikan untuk menghilangkan kemungkinan salah tafsir teks.” Adel mengatakan Riyadh akan bekerja sama dengan Moskow dalam perang melawan terorisme. “Mereka menimbulkan ancaman bagi negara kita dan negara-negara lain, dari mana asalnya. Jadi kita memiliki minat yang kuat dalam kerja sama. “

Menteri luar negeri ini juga menuduh Qatar membiayai terorisme dalam upaya untuk campur tangan dalam urusan dalam negeri negara lain. “Kami yakin bahwa ada beberapa prinsip yang harus dipatuhi semua negara: Katakan ‘tidak’ terhadap terorisme, pendanaan terorisme, ekstremisme dan propaganda kebencian, dan upaya untuk mengganggu urusan dalam negeri di negara-negara lain. Kami mengharapkan tuntutan ini harus dipenuhi Qatar,” ungkapnya.

Ini merupakan kunjungan pertama seorang raja Saudi ke Rusia. Raja Salman dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, menandatangani kesepakatan penting di bidang militer dan energi.

Pembicaraan antara Riyadh dan Moskow menghasilkan penandatanganan banyak kesepakatan senilai US$ 3 miliar atau sekitar Rp 40,4 triliun, termasuk kesepakatan membeli sistem persenjataan canggih.

Kesepakatan pembelian senjata Arab Saudi dan Rusia ini mencakup kontrak membeli sistem pertahanan udara S-400 Rusia yang canggih, sistem rudal Kornet Anti-Tank, TOS-1 Peluncur roket, peluncur granat IGS-30 dan senapan mesin AK-103 Kalashnikov (https://dunia.tempo.co/read/1023538/arab-saudi-umumkan-pecat-ribuan-imam-radikal-dan-provokator/full?view=ok).

Sementara itu, Kementerian Wakaf (Kementerian Agama) Mesir lakukan pemeriksaan di sejumlah masjid di Kairo. Dari pemeriksaan tersebut pemerintah menyita buku-buku yang berbau gerakan Salafi, terutama buku-buku yang ditulis oleh; Muhammad bin Abdul Wahab, Ibn Baz, Ibn Utsaimin, Ibn Taimiyah, Said Abdul ‘Adhim, Abdul Latif Mustahri, Abu Ishaq al-Huwaini, Mohammed Hussein Yacoub, dan Mohammed Hassan.

Surat kabar al-Watan beberapa waktu yang lalu mengatakan bahwa penyitaan buku-buku ini datang setelah sebelumnya pemerintah melakukan penyitaan ratusan buku, kaset dan CD dari masjid “Ummahat Mukminiin”, dan masjid “Tauhid” di BarMasis dan Basbara.

Sementara itu mengutip pernyataan Wakil Menteri Wakaf (Agama) di Kairo, Sheikh Jaber al-Taya mengatakan bahwa pemeriksaan ini mengungkap adanya kegiatan pengkaderan terhadap mahasiswa asal Somalia, Bangladesh, Rusia dan Kongo di dalam masjid “Ummahat Mukminin” tanpa ada persetujuan dari Kementerian dan al-Azhar.

Kementerian Wakaf (Agama) mengingatkan para imam masjid, khotib dan dan petugas masjid untuk meneliti buku-buku yang ada di perpustakaan masjid, dan menyita buku-buku yang mengadopsi pemikiran wahabi yang tidak sesuai dengan toleransi dalam Islam, atau buku-buku yang berbau militansi, seperti buku-buku yang ditulis oleh ikhwanul muslimin, terutama pendahulu mereka Hasan al-Bana dan Yusuf al-Qardhawi.

Kementerian itu juga membantah berita pembakaran buku-buku yang disita, lebih lanjut ia menegaskan bahwa mereka hanya mengarahkan pemeriksaan semua buku, sebagai langkah awal pembentukan sebuah komite pemeriksaan ulang buku-buku tersebut, demi menghindari pemikiran radikal wahabi.

Surat kabar al-Watan mengungkap bahwa pemerintah telah menyita lebih dari 7000 buku, CD dan kaset dari beberapa perpustakaan masjid di Alexandria, Kairo, dan Giza. Diantaranya buku-buku; Yusuf al-Qardhawi, Wajdi Ghoneim, Mohammed Abdel Maqsud, Sholah Sultan, Yasser Barhami, Mohammed Hussein Yakub, Abu Ishak al-Huwaini, Mohammed Hassan, Ahmad Farid, Mohammed Ismail, Mohammed Saed, dan Mohammed Hussein Yakub.

Sementara itu, Depertemen Kementerian Wakaf (Agama) akan terus memantau dan melakukan pemeriksaan masjid dan perpustakaan di setiap Provinsi, untuk memastikan dua tempat itu bersih dari buku-buku yang mengajak pada “militansi dan ekstremisme”, baik perafiliasi dengan pemikiran Ikhwanul Muslimin maupun Salafi Wahabi (mz-mz.net/ARN).

Sedangkan di Jakarta, pengamat terorisme dan intelijen, Agung Wahyudin mengatakan, radikalisme dan terorisme adalah musuh global, sehingga diperlukan kerjasama global untuk memusnahkannya, walaupun seringkali kerjasama global tersebut diiringi dengan “ancaman dan imbalan” seperti pemberian bantuan kemanusiaan, pemberian hutang luar negeri, kerjasama capacity building sampai pembelian persenjataan (Red)


LIKE SHARE
  • 9.2K
  • 5.1K
  • 321
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    14.7K
    Shares