MENGAPA POLISI JADI SASARAN SERANGAN?

LIKE SHARE
  • 4.4K
  • 7.7K
  • 2.3K
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    14.4K
    Shares

168,083 total views, 1 views today

Oleh : Air

STRATEGIC ASSESSMENT-Amuk massa dan dugaan serangan sel teror akhir akhir ini menyasar anggota Polisi di beberapa daerah, dimana kejadian paling baru yaitu penusukan anggota Polantas di Desa Cikoneng, Kabupaten Pandeglang, Banten (7 Juni 2019), sebelumnya terjadi di Pospam Kertasura, Solo yang dilakukan lone wolf berinisial RA.

Kita juga mencatat 21-22 Mei 2019, Mako Brimob di Petamburan Jakarta Barat dan Sampang, Madura. Jawa Timur serta Pontianak, Kalimantan Barat juga menjadi sasaran amuk massa. Belum kejadian kejadian serupa lainnya di beberapa daerah. Pertanyaannya adalah mengapa polisi dimusuhi?

Banyak pakar intelijen dan analis keamanan menduga masifnya serangan ke polisi karena beberapa penyulut : pertama, ekses dari penegakkan hukum yang dilakukan polisi terkait masalah masalah politik termasuk kasus penangkapan sejumlah terduga teroris. Banyak juga yang menilai law enforcement yang dilakukan polisi dalam kasus politik berat sebelah, karena hanya tokoh dan massa pendukung Prabowo-Sandi yang diproses kasusnya.

Kedua, sebagain besar sel teror dan eks Napiter yang sudah bebas masih mempunyai dendam besar sama polisi dengan segala history penangkapan dan penanganan terduga dan pelaku terorisme. Saat ini dinilai waktu yang tepat oleh mereka untuk berada pada barisan yang berseberangan sekaligus bisa membalaskan dendam dengan polisi.

Dengan kata lain, serangan terhadap polisi harus dinilai sebagai “first sign” atau kode bagi sel sel teror atau wake up alarm bagi sleeper terror cell untuk mengintensifkan aksi amaliyahnya ditengah kekisruhan situasi Polkam nasional pasca Pilpres, agar kelompok yang sebel dengan polisi terutama sel teror berharap “hope bridge” mereka tetap terjaga.

Penulis memprediksikan KPU, Bawaslu, MK dan Polisi masih akan jadi target amuk massa bahkan serangan sel teror, apalagi jika hasil sidang MK dinilai mengecewakan dan abuse of law and power masih terjadi. Tampaknya, masih sulit terjadi rekonsiliasi politik, karena “high call mechanism” antar top elit nasional belum tersambung dengan baik atau unplunged connection. Kita lihat saja nanti.

Penulis adalah praktisi hukum dan pemerhati Polkam


LIKE SHARE
  • 4.4K
  • 7.7K
  • 2.3K
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    14.4K
    Shares