MENJAWAB KEISLAMAN PRABOWO Oleh: Ustad Sambo

S
LIKE SHARE
  • 14.7K
  • 5.8K
  • 2.2K
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    22.6K
    Shares

134,367 total views, 1 views today

STRATEGIC ASSESSMENT. Tidak dapat dipungkiri menjelang Pilpres April 2019, apalagi setelah Reuni Akbar 212 bbrp waktu lalu, terlihat semakin menguat dukungan Umat Islam khususnya dan Rakyat Indonesia pada umumnya, kepada Prabowo Sandi. Otomatis berimbas pada naiknya elektabilitas Pasangan no 02 ini. Di sisi lain, elektabilitas dan dukungan kepada pasangan Jokowi-KH Ma’ruf semakin hari semakin tergerus. Kenyataan ini membuat pihak petahana semakin panik. Mereka berusaha dengan segala macam cara untuk bisa menyelamatkan pasangan 01 ini dari kekalahan.

Ada indikasi bahwa cara-cara yang dipilih untuk menyelamatkan elektabilitas JKW-Ma’Truf adalah dengan melakukan kecurangan. Ditemukannya puluhan juta DPT palsu dan ganda, mendorong orang gila punya hak suara, intervensi hukum dan pengerahan aparat birokrasi mulai dari menteri hingga Ketua RT adalah indikator kecurangan yang kasat mata. Ini pelanggaran, dan jika dibiarkan akan merusak hajatan demokrasi kita. Sebuah kompetisi yang culas akan melahirkan pemimpin yang culas juga.

Ini semua dilakukan karena ada faktor kepanikan. Kepanikan ini semakin tak mampu ditangani ketika kehadiran cawapres Makruf Amin tak bisa diharapkan jadi juru selamat. Hadirnya Ketua MUI ini tidak mampu memberikan efek electoral. Sementara, tekanan atas dosa-dosa Jokowi terkait memburuknya ekonomi, membengkaknya hutang negara dan beban janji yang tak mampu ditunaikan semakin memperburuk situasi.

Pola pencitraan ala Pilpres 2014 lalu, kali ini sudah tidak efektif lagi. Gak nendang, kata anak muda sekarang. Kendati hampir semua media maenstream, baik elektronik, cetak maupun online dikuasai dan dikendalikannya. Sukses Reuni 212, meski tak banyak diliput media maenstrem, justru jadi trigger perlawanan umat, dan bahkan malah jadi tekanan terhadap elektabilitas Jokowi Makruf. Jokowi dan sejumlah media maenstrem dianggap sebagai common enemy.

Karena faktor sulitnya menahan laju anjloknya elektabilitas, kepanikan ini diekspresikan juga dengan cara melakukan negatif dan black campign. Mencari-cari celah kelemahan dan kekurangan Pasangan Prabowo-Sandi yang tak terkait dengan urusan kenegaraan. Gak punya istri-lah, tak bisa ngaji-lah, dan seterusnya. Bahkan kabarnya ada tim khusus yang didanai untuk mengecam, mencaci dan memfitnah Prabowo. Tujuannya? Agar elektabilitas pasangan 02 ini turun.

Cara-cara negatif dan black campign semacam ini sudah semakin tak efektif. Dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Karena dilakukan pada saat akseptabilitas umat terhadap

Prabowo-Sandi sedang menaik. Negatif dan black campign terhadap Prabowo khususnya, terblock oleh kapasitas dan integritas Prabowo yang mulai tersosialisasikan dengan baik kepada publik.

Yang sedikit agak lucu, ketika tak menemukan kekurangan dan kelemahan Prabowo dan Sandi dari sisi kemampuan dan kecakapan dalam memimpin serta mengelola negara, dilakukanlah fitnah-fitnah yang justru berpotensi akan jadi serangan balik terhadap Jokowi itu sendiri. Salah satu fitnah dan hoak yang terbaru dan sedang viral saat ini adalah diputar-ulang lagi cerita usang pilpres 2014 yang lalu terkait keberagamaan dan keislaman Prabowo. Ini tidak saja lucu, tapi cukup menggelikan. Ini petunjuk bahwa pertama, kubu petahana sudah kehilangan narasi. Gak bisa jualan infrastruktur lagi. Karena banyak masalah.

Kedua, berupaya merusak kepercayaan dan hubungan Prabowo dengan ulama dan umat. Tidakkah publik sadar, mengapa ulama dan umat pilih Prabowo? Hal itu karena Prabowo bisa menampung, kerjasama, dan yang terpenting, tidak memusuhi dan mengebiri Islam dan umat Islam. Jadi, jangan coba-coba mempersoalkan keber-gama-an (sikap beragama) Prabowo, karna gak akan berngaruh kepada umat.

Komitmen Prabowo Sandi yg ditandai dengan ditandatanganinya Pakta Integritas dgn ulama (saat Ijtimak ulama II) inilah yang jadi magnet bagi para ulama dan umat untuk mendukung pasangan Prabowo Sandi.

Diantara pendukung petahana ada yang gemar melakukan fitnah bahwa Prabowo tidak bisa berwudhu dan sholat. Prabowo tdk berani menjadi Imam Sholat. Lucu bukan? Satu sisi mereka sering meneriaki politik identitas. Tapi disisi lain, sangat aktif memproduksi politik identitas. Paradoks. Aneh!

Bahkan seorang La Nyala berani mengatakan bahwa keislaman Jokowi lebih baik dari Prabowo karena Jokowi dinilainya pandai baca AlQuran dan berani jadi Imam Sholat, walaupun hingga saat ini belum ada bukti bahwa Jokowi pandai baca Al Qur’an, bahkan ada bukti lain yang justru menyatakan hal sebaliknya dan Jokowi berani jadi Imam Sholat ini apakah karna Jokowi memang layak dan memenuhi syarat untuk menjadi Imam atau dia hanya sok berani dan sekedar pencitraan saja. Kedua hal ini akan kita bahas dalam tulisan-tulisan berikutnya, Insya Allah.

Nah, La Nyalla? Apa otoritas dia menilai keislaman dan keimanan seseorang? Pertama, ungkapan ini dilatarbelakangi oleh kebencian dan balas dendam terkait kasus Pilkada Jatim. Kedua, La Nyalla gak ngerti banyak tentang agama. Bagaimana orang yang awam agama dpt menilai keislaman orang lain?
Berikut ini adalah jawaban dan penjelasan saya selaku saksi dan orang dekat Prabowo terkait fitnah di atas:
Fitnah Pak Prabowo belum pernah haji dan juga tdk bisa baca alif ba ta
Jawab:
Yang saya tahu Pak Prabowo sudah haji dan beberapa kali umroh, bahkan pada akhir Ramadhan 2018 lalu, saya umroh dengan Pak Prabowo, Pak Amien Rais dan rombongan lainnya.

Mengenai kemampuan beliau dalam membaca huruf-huruf al-Quran, Saya dapat jelaskan bahwa saya pernah mengajar beliau mengaji dan membaca huruf-huruf al-Quran dimulai dari iqra’ saat beliau di Jordan tahun 1998 sd 1999.

Memang lidah beliau agak berat dalam mengucapkan huruf-huruf al-Quran tsb. Maklumlah, namanya juga orang dewasa yang belajar di atas usia 50 tahun. Tapi, niat, ikhtiar dan kesungguhan beliau untuk tetap belajar dan mengakui dengan jujur bahwa beliau adalah murid tidak lulus-lulus walau demikian dia masih berusaha untuk belajar, hal ini merupakan bagian dari komitmen keislaman beliau. Semoga Allah memaafkan kekurangan-kekurangan beliau dan memberikan pahala atas usahanya dan hidayah utk terus mau belajar dan belajar, aamiin.

*) Pengasuh Pesantren Hilal Bogor, Sahabat yg mengenal Prabowo sejak 1997 sd sekarang


LIKE SHARE
  • 14.7K
  • 5.8K
  • 2.2K
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    22.6K
    Shares