Menkeu: Lebih Mudah Diakui di Luar Negeri Dibanding di RI


STRATEGIC ASSESSMENT

799,041 total views, 2 views today

STRATEGIC ASSESSMENT– Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan lebih mudah mendapatkan pengakuan di luar negeri ketimbang dari masyarakat di negaranya sendiri. Hal itu ia ungkapkan saat menerima penghargaan Finance Minister of The Year 2018 untuk kawasan Asia Timur – Pacifik versi majalah Global Markets.

“(Kritik) itu artinya Indonesia mengharapkan kami bekerja lebih baik. Tidak apa-apa itu bagus untuk memacu semangat kami,” ujar Sri Mulyani sesaat setelah menerima penghargaan di Hotel Ayodya Nusa Dua, Bali, Jumat (13/10).

Ungkapan Sri Mulyani relevan mengingat kinerja ekonomi pemerintahan RI yang dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi) kerap menerima kritik dari sejumlah pengamat ekonomi dan politisi. Misalnya, kritik terkait jumlah utang yang membengkak dan neraca perdagangan yang masih defisit.

Menurut Ani, setiap kali menerima penghargaan harus dilihat standar yang diberikan oleh pemberinya. Dalam hal ini, mantan direktur pelaksana Bank Dunia tersebut dianggap mampu menunjukkan kinerja mumpuni dalam merancang berbagai kebijakan ekonomi yang dapat menjaga laju pertumbuhan ekonomi di tengah kondisi ketidakpastian global.

“Kalau mereka menyebutkan bahwa efektivitas dan kredibilitas dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan juga perbaikan dari sisi belanja negara, saya rasa itu adalah kriteria yang cukup baik, menunjukkan apa yang selama ini Kementerian Keuangan lakukan,” ujarnya.

Sri Mulyani menegaskan pemerintah terus mencoba untuk memperbaiki penerimaan pajak. Per September 2018, Kemenkeu mencatat pertumbuhan penerimaan perpajakan mencapai 16,5 persen atau jauh di atas angka pertumbuhan ekonomi, baik secara nominal maupun secara riil yang masih terjebak di kisaran 5 persen.

“Kami juga terus memperbaiki belanja negara supaya betul-betul sesuai dengan target pembangunan,” ujarnya.

Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang mampu dijaga di kisaran lima persen, tingkat kemiskinan yang menurun hingga ke level satu digit 9,8 persen dan tingkat pengangguran yang bisa ditekan ke level terendah dalam dua dekade terakhir 5,13 persen.

“Kami terus mencoba menggunakan belanja negara secara lebih baik dan lebih efektif,” ujarnya.

Managing Editor Global Markets Toby Fildes mengungkapkan Indonesia selalu menghadapi dua masalah utama, yaitu: memperbaiki penerimaan pajak dan mengalokasikan belanja. Dan, lanjutnya, Sri Mulyani dianggap mampu mengatasi masalah-masalah tersebut.

Realisasi penerimaan pajak tahun lalu mencapai 91 persen dari target pemerintah, melonjak dari realisasi dalam dua tahun sebelumnya yang hanya berkisar 83 persen. Hal itu tak lepas dari implementasi kebijakan amnesti pajak yang mampu membawa kekayaan konglomerat yang ditempatkan di luar negeri kembali ke Indonesia.

Selain itu, laju pertumbuhan realisasi belanja negara juga membaik dalam tiga tahun terakhir. Untuk tahun lalu saja, pertumbuhannya mencapai 21,1 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB).

Tak kalah penting, lanjutToby, realisasi penyerapan belanja negara juga meningkat dari 73 persen pada 2016 menjadi 97 persen pada 2017, tertinggi dalam enam tahun terakhir.

“Kredibel dan efektif adalah dua kata yang dapat merangkum secara sempurna kepemimpinan Menteri Sri Mulyani Indrawati,” ujar Fildes.

SECURE:CNNINDONESIA