MENUJU BABAK AKHIR KAMPANYE PILPRES 2019 Oleh : Johar Arief

LIKE SHARE
  • 8.8K
  • 4.3K
  • 1.5K
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    14.5K
    Shares

186,723 total views, 2 views today

STRATEGIC ASSESSMENT. Debat keempat pemilihan presiden 2019 telah digelar pada 30 Maret 2019 lalu. Sejumlah visi dan gagasan disampaikan oleh kedua calon presiden untuk menjawab tantangan dan persoalan di bidang pemerintahan, ideologi, pertahanan, keamanan, dan hubungan internasional.

Di bidang pemerintahan, calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo, melontarkan gagasan pemerintahan digital melayani, atau yang disebut dilan, sebagai solusi mengatasi ruwetnya birokrasi, menutup celah korupsi, dan menghadirkan transparansi dalam fungsi pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah.

Sementara calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, dalam menjawab persoalan yang sama, melontarkan visi penguatan lembaga-lembaga pemerintah. Menurut Prabowo, praktik korupsi dan jual beli jabatan terjadi karena lemahnya lembaga pemerintah.

Sesuatu yang berbeda tampak dihadirkan oleh kedua calon presiden pada debat kali ini. Meskipun terlibat dalam perdebatan hangat, di antaranya saat membahas persoalan militer dan pertahanan, keduanya membawa pesan persahabatan yang disampaikan pada sesi pernyataan penutup di akhir debat.

Pesan persahabatan tersebut terasa kuat karena menjadi penutup dari perdebatan hangat yang terjadi di antara keduanya. Kualitas kenegarawanan yang mengutamakan persaudaraan di atas persaingan telah ditunjukkan.

Pesan persahabatan yang disampaikan oleh kedua calon presiden pada debat keempat lalu menjadi sangat penting mengingat kontestasi pemilihan presiden memasuki babak akhir. Kampanye yang telah dimulai pada 23 September 2018 ini akan berakhir pada 14 April 2019 mendatang.

Di tengah kontestasi yang semakin panas mendekati hari pemungutan suara, sejumlah isu muncul yang memancing kekhawatiran. Kecurigaan terhadap kecurangan pelaksanaan pemilu terus disuarakan yang bisa berujung pada delegitimasi pemilu.

Ancaman people power sebagai penyelesaian dugaan kecurangan pun dilontarkan. Padahal, mekanisme konstitusional untuk menyelesaikan sengketa hasil pemilu telah tersedia dengan mengajukan gugatan melalui Mahkamah Konstitusi.

Sementara itu, peredaran kabar bohong dan fitnah tak juga menunjukkan tanda-tanda mereda, bahkan semakin masif. Kasus peretasan akun twitter salah seorang petinggi partai politik merupakan salah satu bukti.

Debat keempat lalu, melalui pesan persahabatan yang disampaikan oleh kedua capres pada sesi pamungkas, diharapkan menjadi sebuah awal babak baru kampanye. Perjalanan kampanye hingga 14 April 2019 mendatang diharapkan bagaikan perjalanan menurun setelah melewati titik kulminasi ‘perseteruan’.

Namun, semua itu kembali pada komitmen persaudaraan yang diusung oleh kedua capres. Apakah komitmen ini akan terus ditunjukkan oleh keduanya hingga hari pemungutan suara, dan hari-hari setelahnya? Bagaimanapun, untuk alasan apa pun, kontestasi demokrasi tidak boleh merusak persaudaraan.
*) Penulis adalah pemerhati Indonesia


LIKE SHARE
  • 8.8K
  • 4.3K
  • 1.5K
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    14.5K
    Shares