MENYUSUP KE ISIS, JURNALIS PERANCIS TIDAK MENEMUKAN ISLAM

LIKE SHARE
  • 14.6K
  • 11.1K
  • 342
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    26K
    Shares

244,036 total views, 1 views today

STRATEGIC ASSESSMENT. Seorang jurnalis asal Perancis berhasil menyusup dan berbaur bersama dengan para simpatisan ISIS dalam jaringan teror bawah tanah di Paris. Pengalaman jurnalis Muslim itu mengejutkan, karena menurut dia para simpatisan ISIS itu sama sekali tidak paham soal Islam. Jurnalis yang menggunakan nama samaran Ramzi ini mengaku “tidak melihat Islam” selama enam bulan menyamar dalam jaringan tersebut. Dia hanya menemukan para pemuda yang “tersesat, frustrasi, memiliki kecenderungan bunuh diri dan sangat mudah dimanipulasi.”

Penyusupan Ramzi dilakukan antara musim panas 2015 hingga Januari 2016. Dia mengaku sangat mudah menghubungi kelompok yang menyebut diri sebagai “Tentara Allah” di Facebook itu.

Dia merekam banyak peristiwa dalam kelompok itu menggunakan kamera tersembunyi, termasuk rapat perencanaan serangan di sebuah kelab malam. Dikutip dari The Independent, Selasa (3/5), rekaman tersebut ditayangkan di stasiun televisi Canal+ pada Senin lalu dengan judul “Tentara Allah.” Ramzi mengatakan, jaringan itu terdiri dari 10 anggota yang dipimpin oleh pemuda berusia 20 tahun bernama Ossama.

Ossama sempat ditolak masuk angkatan bersenjata Perancis, pernah menjadi pemuja setan atau Satanis dan pecandu alkohol sebelum berkenalan dengan kelompok Islam radikal di internet. Dia pernah dipenjara selama enam bulan setelah ketahuan mencoba bergabung dengan ISIS. Dia dibebaskan dan wajib lapor setiap hari ke pos polisi. Pria keturunan Perancis-Turki ini adalah “emir” dari kelompok yang menggunakan aplikasi berbagi pesan Telegram untuk mengatur pertemuan.

Dalam sebuah rekaman tersembunyi, Ossama terlihat tersenyum saat membayangkan dirinya ditembak mati oleh polisi, seraya mengatakan “Syuhada tidak merasakan sakit.” “Kita harus menyerang pangkalan militer. Ketika mereka makan, mereka berbaris, atau jurnalis. BFM iTele, mereka berperang melawan Islam,” kata Ossama dalam rapat itu. “Seperti yang mereka lakukan kepada Charlie [Hebdo]. Kau harus menyerang mereka di jantungnya. Serang mereka tiba-tiba. Mereka tidak terlindungi. Ribuan warga Perancis harus mati,” lanjut dia.

Ossama merencanakan serangan ke kelab malam dan bandara Paris–Le Bourget, yang menurutnya akan membuat Perancis trauma selama berabad-abad. Namun rencana itu baru terlaksana setelah mendapatkan konfirmasi dari seorang militan bernama Abu Suleiman, veteran perang ISIS yang pernah bertempur di Raqqa, Suriah.

Ramzi pernah terlibat dalam sebuah rencana penyerangan. Dia diminta untuk berjalan ke stasiun kereta dan bertemu dengan seorang wanita yang memberikannya surat instruksi.

Dalam instruksi itu, dia harus menyerang kelab malam dan meledakkan diri menggunakan rompi bunuh diri setelah ada pasukan keamanan yang datang. Abu Suleiman dalam hal ini yang memberikan perintah menyiapkan peledak dan ranjau di mobil melalui Telegram. Jaringan Ossama telah diawasi oleh badan intelijen Perancis, DCRI, dan mereka ditangkap pada Desember dan Januari lalu.

Ramzi, 29, mengatakan bahwa dia adalah Muslim yang “satu generasi dengan para pembunuh” di Paris November lalu yang menewaskan 130 orang. “Tujuan saya adalah untuk memahami apa yang ada pikiran mereka,” kata Ramzi saat diwawancara AFP.

“Salah satu pelajaran utama adalah, saya tidak pernah melihat Islam dalam masalah ini. Tidak ada niat mereka mengubah dunia. Hanya para pemuda yang tersesat, frustrasi, memiliki kecenderungan bunuh diri dan sangat mudah dimanipulasi.”
“Mereka tidak beruntung lahir di masa keberadaan ISIS. Sangat menyedihkan. Mereka adalah para pemuda yang mencari sesuatu, dan malah ini yang mereka temukan,” lanjut dia (https://www.cnnindonesia.com/internasional/20160504101750-134-128575/menyusup-ke-isis-jurnalis-perancis-tidak-menemukan-islam)

Sementara itu, pengamat masalah terorisme, Datuak Tjumano mengatakan, memang dibentuknya ISIS adalah “propaganda global” untuk merusak nama besar Islam dengan memanfaatkan jaringan internet, dan umat Islam juga sudah menyadari bahwa ISIS tidak pernah membela Islam, malah merugikan Islam.

“Lingkaran terorisme bunuh diri atau the suicide terrorism cyrcle (Moghaddam, 2006). Pendekatan the suicide terrorism cyrcle mencoba untuk mengintegrasikan berbagai faktor yang mungkin memiliki pengaruh terhadap munculnya perilaku bom bunuh diri. Model jalur personal (the personal pathway model) adalah salah satu pendekatan lain yang menarik. Pendekatan yang diajukan oleh Shaw (1986) ini dapat digunakan untuk memahami perilaku bom bunuh diri, dengan memperhatikan proses yang dilalui seseorang hingga menjadi pelaku bom bunuh diri (Shaw, 1986),” ujar Tjumano mengutip beberapa literatur terkait bom bunuh diri.

Datuak Tjumano juga sependapat dengan Noor Huda Ismail bahwa proses perekrutan anggota ISIS menjadi efektif karena tiga hal yaitu pertama, target sasaran biasanya adalah individu-individu yang sedang mengalami masalah pribadi, biasanya terkait dengan isu sosial, ekonomi dan politik. Kedua, sang perekrut membungkus pesan-pesan mereka dengan istilah agama yang menakutkan, terutama bagi orang yang baru belajar agama Islam. Ketiga, para perekrut ini seringkali menggunakan simbol-simbol kesalehan yang diyakini secara umum oleh masyarakat kita seperti pemakaian sorban, baju gamis dan adanya tanda hitam (belas sholat) di jidat mereka.

“Dunia maya menjadi media yang digemari kelompok IS karena murah, cepat memberikan pengaruh dan atraktif untuk membungkus argumentasi sederhana mengenal surga, neraka dan kafir. Sebenarnya, kampanye masif di dunia maya (Medsos) yang dilakukan kelompok radikal tidak akan berhasil tanpa dukungan struktur jaringan terorisme yang berada ditengah masyarakat,” ujar lelaki asal Sumatera Barat ini.

Sedangkan pemerhati komunikasi massa dan masalah internasional, Toni Ervianto mengatakan, penyebaran konten-konten radikal melalui media massa dan aplikasi percakapan telah menjadi fenomena global yang tidak boleh dianggap enteng, apalagi pasca terdesaknya Islamic State (IS) di Suriah dan Irak. Setidaknya ada sekitar 200 anggota IS yang sudah kembali ke negara masing-masing untuk menyebarkan terorisme.

Saat ini, jumlah simpatisan kelompok radikalisme diduga terus bertambah sebagai salah satu fenomena yang diakibatkan media sosial dan saluran percakapan. Dampaknya banyak anak dan kaum hawa yang terpapar ideologi radikal yang berpotensi menjadi foreign terrorist fighters (FTF) jika tidak diperhatikan secara serius.

“Radikalisasi di dunia maya semakin menjadi ancaman nyata. Kelompok atau individu cukup mengakses medsos untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pendidikan paham radikal, cara dan tips menyiapkan aksi teror, hingga layanan jual beli perlengkapan serangan teror,” ujar alumnus pasca sarjana Universitas Indonesia ini (Red).


LIKE SHARE
  • 14.6K
  • 11.1K
  • 342
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    26K
    Shares