NGGERENG

LIKE SHARE
  • 12.2K
  • 9K
  • 2K
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    23.2K
    Shares

187,868 total views, 1 views today

STRATEGIC ASSESSMENT. Pak Jokowi NGGERENG. Tak terima dikatakan negerinya akan bubar bila Prabowo kalah, dia mulai agresif menyerang. “Masak ada yang bilang Indonesia bubar, punah. Bubar sendiri saja, punah sendiri saja. Tapi jangan ngajak-ngajak kita,” katanya di Semarang Town Square, Sabtu 2 Februari 2019. Tentang konsultan asing yang konon digunakan Paslon 02, dia mengkritik: “Yang dipakai konsultan asing. Enggak mikir ini memecah belah rakyat atau tidak, enggak mikir mengganggu ketenangan rakyat atau tidak, ini membuat rakyat khawatir atau tidak. Membuat rakyat takut, enggak peduli.” Sedang model propaganda Rusia, saat bertemu dengan sedulur kayu dan mebel di Karanganyar, Minggu siang 3 Februari 2019, Paslon 01 ini melawan dengan mengatakan: “Seperti yang saya sampaikan, teori propaganda Rusia seperti itu. Semburkan dusta sebanyak-banyaknya, semburkan kebohongan sebanyak-banyaknya, semburkan hoaks sebanyak-banyaknya sehingga rakyat menjadi ragu. Memang teorinya seperti itu.”

Sikap agresif menyerang Jokowi juga dilakukan Kresna dalam ceritera Sesaji Rajasuya. Pada waktu itu Kresna diangkat menjadi Penasehat Agung Pandawa. Pengangkatan itu ditolak Sisupala, raja Cedhi. Dia sakit hati karena kalah bersaing mempersunting Dewi Rukmini. Didepan para priyagung yang hadir dalam upacara pelantikan Ratu Samrat negeri Indraprasta, Sisupala yang masih sepupu Kresna mengumbar fitnah, hoax dan memojokkan. Peristiwa itu adalah peristiwa yang ke-100 Sisupala menghina Kresna. Tak pikir panjang, Sisupala disabet dengan senjata Cakra. Mak sek, mati ndhepani bantala.

Yang dilakukan Kresna atas Sisupala diatas bisa disepadankan dengan langkah Pak Jokowi beberapa hari belakangan ini. Untuk pantas menyerang Sisupala, Kresna harus menunggu 100 kali dihina. Sedang bagi Pak Jokowi, rupa-rupanya dia harus menunggu sampai gejala-gejala perpecahan mulai muncul dipermukaan. Sebenarnyalah kegelisahan mulai terasa. Tragedi Ratna Sarumpaed, hoax 70 juta kertas suara yang tercoblos Paslon no.01, selang cuci darah RSCM yang disebut oleh Prabowo dipakai hingga 40 kali, dan yang terakhir teror pembakaran kendaraan bermotor di Semarang dan sekitarnya telah mampu meningkatkan admosfir perpecahan. Jokowi mengakui, pidato menyerang itu sengaja dilakukan agar para pendukung dan relawannya termotivasi. “Tujuannya memberi semangat pada relawan. Memang perlu militansi dalam setiap kita bekerja,” imbuhnya. Selanjutnya dia mengatakan: “Masa suruh halus terus, ya kadang-kadang kita kan bosan. Bolehlah keras-keras sedikit.”

Akhirnya, debat kusir tentang Pilpres toh harus diakhiri. BAWASLU harus menyiapkan diri dengan kampak kewenangannya, agar propaganda Rusia dan aksi NGGERENG Jokowi menjadi bagian dari pembelajaran demokrasi. MERDEKA
TANCEP KAYON

SUD
Pengamat Wayang
Semarang – Rabu, 6 Februari 2019.


LIKE SHARE
  • 12.2K
  • 9K
  • 2K
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    23.2K
    Shares