Pemerintah Salah Antisipasi, Picu Harga Pangan Melambung

LIKE SHARE
  • 7.7K
  • 5.7K
  • 1.5K
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    14.8K
    Shares

232,492 total views, 1 views today

STRATEGIC ASSESSMENT– Beberapa komoditi pangan, khususnya bumbu-bumbuan seperti cabai dan bawang merah mengalami lonjakan harga hingga Lebaran tahun ini. Pemerintah mengakui ada sedikit salah prediksi terkait dua komoditi tersebut.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengakui harga cabai dan bawang merah masih terus naik hingga Hari Raya Idul Fitri hari ini. 

Hal ini diakuinya di luar ekspektasi pemerintah yang menginginkan harga kedua komoditi tersebut turun seiring mulainya panen.

“Kelihatannya sampai pekan terakhir bulan Mei harga cabai dan bawang merah itu masih tinggi, masih naik. Walaupun tadinya saya berharap begitu masuk Lebaran mestinya dia sudah panen,” ujar Darmin di kediamannya, Rabu (5/6/2019).

Data di situs Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional menunjukkan, harga rata-rata nasional cabai merah besar pada H-1 Lebaran telah mencapai Rp 65.350/kg, sementara cabai merah keriting menembus Rp 61.500. Masing-masing komoditas cabai ini harganya telah meroket 59,19% dan 64,65% hanya dalam waktu seminggu.

Adapun cabai rawit merah dan hijau harganya juga telah menyentuh Rp 48.100 dan 42.950 per kilogram, masing-masing naik 17,89% dan 16,55% dalam sepekan terakhir.

Sementara itu, Darmin menyebut harga bawang putih sudah turun di pekan terakhir Ramadan berkat impor yang dilakukan. Oleh karena itu, dia memproyeksi inflasi Ramadan dan Idulfitri tahun ini ada di kisaran 0,5-0,6%, tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Mungkin bisa meleset tapi perkiraan saya nggak jauh. Apakah ini tinggi? Dibandingkan bulan Lebaran tahun-tahun sebelumnya nggak tinggi. Tapi kalau dibandingkan bulan-bulan biasa tentu tinggi karena biasanya di bawah 0,3%,” jelasnya.

Sebelumnya, Ketua DPP Ikatan Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri mengonfirmasi harga cabai telah mengalami kenaikan dalam seminggu terakhir. Dirinya bahkan mengatakan kalau kenaikan harga cabai berpotensi terjadi hingga setelah Lebaran. 

Pasalnya, kenaikan permintaan yang terus terjadi tidak diimbangi dengan suplai ke pasaran karena umumnya panen cabai berhenti saat periode Lebaran.

“Ini memang agak unik ya. Di beberapa kasus dalam beberapa tahun yang lalu, pasca Lebaran justru naiknya [harga] lebih dari 50%. Kenapa? Karena di saat Lebaran tidak ada orang panen,” ujar Abdullah kepada CNBC Indonesia, Senin (3/6/2019).

Abdullah menjelaskan, stok cabai memang terbatas karena sifatnya yang tidak awet dan tidak tahan lama. Untuk itu, dirinya sulit mengasumsikan berapa kira-kira kenaikan harga cabai.

“Sekarang tinggal bagaimana langkah pemerintah memastikan stoknya terjaga, tidak ada pedagang yang berhenti mendapatkan pasokan dari panen. Itu yang harus diperkuat,” jelasnya. 

SECURE:CNBC


LIKE SHARE
  • 7.7K
  • 5.7K
  • 1.5K
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    14.8K
    Shares