PERUSAHAAN START UP ANAK BANGSA YANG MALAH START DOWN

LIKE SHARE
  • 11.9K
  • 4.2K
  • 199
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    16.3K
    Shares

324,478 total views, 1 views today

STRATEGIC ASSESSMENT. Mantan Menko Bidang Perekonomian Chairul Tanjung (CT) mengingatkan bahwa perusahaan-perusahaan startup yang saat ini berkembang didominasi kepemilikannya oleh pihak asing.” Jangan berpikir Gojek itu milik anak bangsa, jangan berpikir Tokopedia itu milik anak bangsa, jangan berpikir semua yang ada saat ini milik anak bangsa.
It’s a real Bulshit…!!,” kata CT dalam Seminar Nasional dan Kongres ISEI XX 2018 di Bandung, belum lama ini.

Dia berargumen, ” anak bangsa yang memiliki berbagai perusahaan startup tersebut hanya memiliki saham yang kecil. Sebaliknya, kepemilikan saham terbesarnya adalah pihak asing, milik anak bangsanya itu sudah tinggal mungkin ada yang 1%, ada yang 2%,” ucapnya.”

Kenapa? Karena model bisnisnya membuat hal seperti itu. dulu kan diawal2 pemerintahnya berjanji akan mempersulit investasi asing, tapi faktanya justru saat ini malah buka pintu lebar lebar untuk asing. Sementara pemerintah menganak tirikan pengusaha dari negri sendiri. “Perusahaan seperti GOJEK itu kan harusnya bisa di bantu pemerintah, sehingga tak perlu lepas 97% sahamnya ke china, ini soal komitmen”.

Investor masuk dengan dana USD1 billion, mengambil alih langsung 97%, yang founder disisain 3%. Besok mereka masuk lagi (membeli saham), turun lagi (kepemilikan founder), lama-lama selesai,” jelas CT.

CT mengingatkan agar warga jangan berpikir senang ketika ada investor asing yang masuk ke Indonesia. Sebab, ada dampak jangka panjang yang akan terjadi.”Ini masalah kita semua.

Kita tidak pernah berpikir secara holistik. Kita berpikir senang kalau ada investor asing. Tapi jangan lupa, begitu mereka kuasai, 5-10 tahun lagi perusahaan ini akan membesar, menghasilkan deviden,” ungkapnya. CT mencontohkan dividen saat ini mencapai Miliaran dollar yang dibayarkan Indonesia ke luar negeri. Apalagi dalam kondisi nilai rupiah yang hampir tidak ada harganya itu karena banyak perusahaan yang pindah kepemilikan ke investor asing di Indonesia.

“Itu juga yang membuat kita defisit. Karena tidak melihat secara holistik dan ada jangka pendeknya, menengah, panjang. Ini menjadi isu yang sangat signifikan. Sudah (kepemilikan saham orang Indonesia) tambah kecil, tambah kecil, dan akhirnya akan hilang,” tuturnya.

CT mengatakan, saat ini, para investor juga mau ‘membakar uangnya’ untuk mendapatkan database sebagai investasi jangka panjang. Dia mencontohkan investor Gojek yang rela mengucurkan dana banyak setiap bulan untuk menghidupkan Gojek.”Tidak kurang tiap bulan Gojek membakar uang lebih dari USD30 juta, hampir Rp400 miliar,”ujarnya.” Untuk apa (investor menggelontorkan dana sebanyak itu)? Untuk dapetin yang namanya database.

Dari database itu mereka nanti (investor) mencoba meng-create yang namanya ekosistem. Dari situ mereka mau menguasai ekonomi kita, kalau ini berhasil, tamat-lah kita” tandas CT (Red/berbagai sumber termasuk berita ini beredar di beberapa grup WA).


LIKE SHARE
  • 11.9K
  • 4.2K
  • 199
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    16.3K
    Shares