Petahana Semakin ditinggalkan Pendukungnya Dan diyakini Akan Kalah di Pilpres 2019

LIKE SHARE
  • 22K
  • 18K
  • 5.5K
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    45.6K
    Shares

499,357 total views, 1 views today

STRATEGIC ASSESSMENT-“Petahana  harus menyadari, media meninggalkan, publik meninggalkan, pendukung pun banyak meninggalkan, lalu survei menyatakan kepuasan publik menurun.

Petahana harus  menyadari bahwa 250  juta Lebih  rakyat Indonesia menggantungkan harapan kepada dirinya sehingga dirinya harus segera menyadari apa yang menyebabkan dirinya ditinggalkan dan pemerintahannya tidak berjalan maksimal. “Apakah hal itu karena tidak baiknya kinerja para pembantunya, baik di sektor politik dan ekonomi.

Pola Ovensif Petahana akan semakin banyak pendukung yang meninggalkannya, Harusnya tidak ragu mengganti menteri-menterinya yang menyulitkan kerja kabinet karena penggantian menteri merupakan hak prerogatif Petahana ( Presiden).

“Jika memang mau melakukan perombakan kabinet, dia harus terang mana yang harusnya diganti. Katanya kan dia evaluasi menteri dari hari ke hari,” selama ini Kebijakan Bawahannya cenderung menyulitkan rakyat Pada Umumnya.

Mari kita evaluasi Selama pemerintahan Jokowi yang saat Ini Capres 01 apakah rakyat merasa sejaktera,mudahnya memahami keinginan rakyat sebenarnya sangat mudah sebab Siapapun Presidennya akan dikasih Modal yang namanya APBN,pertanyaannya kalau pemerintah tidak bisa mengelola APBN ya imbasnya rakyat Sengsara,ditambahlagi Kebijakan2 Pemerintah tidak memihak Rakya.

Wajar Kalau Petahana Ofensif karena sudah secara nyata ditinggal pendukungnya dan takut kalah,Calon presiden nomor 01, Joko Widodo belakangan ini mulai melontarkan pernyataan bernada sindiran bahkan terkesan menyerang paslon 02, Prabowo-Sandiaga di muka publik.

Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menilai, strategi menyerang yang dilakukan oleh capres petahana tersebut lantaran eleketabilitasnya takut disusul Prabowo.Anjlok 8 Persen di Jabar, Berapa Elektabilitas Jokowi Saat Ini?

“Pak Jokowi memulai strategi ofensif ala Jokowi, mulai khawatir juga barangkali dengan pertumbuhan elektabilitas Prabowo yang berpotensi nyalip elektabilitas petahana,” kata Pangi dalam keterangannya, Minggu (10/2/19).

Menurut Pangi, kemungkinan lain alasan Jokowi melakukan hal itu karena mulai lelah dengan propoganda ofensif sang penantang terkait antek asing, impor, hutang dan tenaga kerja asing dan seterusnya. Sehingga, dalam pidatonya cukup berapi-api, terjadi sesuatu tak biasa, Jokowi yang dulunya kalem, sekarang ofensif.

“Bahasa kerennya, pak Jokowi tancap gas menyerang balik terhadap sang penantang soal antek asing yang dialamatkan/dituduhkan ke Jokowi selama ini.”

Dijelaskan Pangi, incumbent memakai strategi ofensif, dengan menyerang balik lawan, agar tuduhan, serangan dan narasi negatif yang di alamatkan ke dirinya mulai sedikit mereda. Hasilnya Prabowo tak terlalu sering melancarkan serangan ofensif dengan pendekatan “Game Theory” propoganda politik ke kubu petahana.

Oleh karena itu, jika gaya Jokowi ini di zoom lebih dekat, sepertinya ada kecemasan dalam pendekatan post truth.

“Opini yang terus berulang-ulang bisa menjadi fakta sebuah pembenaran. Ketika elektabilitas itu mulai kompetitif, incumbent mulai sedikit panik dan terancam dengan politik propoganda ala rusia sang penantang, membela diri dan sekaligus melakukan strategi ofensif terhadap sang penantang dianggap sebagai pilihan yang sudah tepat,” kata Direktur Eksekutif Voxvol Center Research and Consulting ini.

Kepanikan Petahana Itu beralasan karena takut kalah dan diyakini akan kalah,Sumatera Dan seluruh Jawa dipastikan kalah Puskaptis: Jokowi Tertinggal Jauh di Sumatera dan Jawa, Pada Tanggal berita Ini di publikasikan Tanggal 05-Maret 2019 Jokowi sudah sangat menguatirkan elektabilitasnya,Harapan Capres )1 sudah sangat kecil Peluang 2priode.

Semakin Ofensif Yakin Jokowi Akan dengan Mudah dikalahkan Penantangnya.

 

 


LIKE SHARE
  • 22K
  • 18K
  • 5.5K
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    45.6K
    Shares