Prabowo Bisa menang Di Pilpres2019

SA STREAMING TV

STRATEGIC ASSESSMENT
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

1,000,536 total views, 1 views today

AUTHOR:AIRLA

STRATEGIC ASSESSMENT-Sebuah strategi pemenangan dalam Pilpres 2019 adalah sebuah kebutuhan yang wajib dan diperlukan, capres Prabowo Subianto pun harus melakukan konsolidasi meyeluruh terhadap semua elemen dan mesin pemenangan, hal itu tidak dilakukan jangan harap bisa menangkan pilpres yang akan datang.

Prabowo Subianto harus mengevaluasi Pilpres 2014 dan metode kecurangan dan agar ditangkal dan di antisipasi, PPIR ( Purnawirawan Pejuang Indonesia Raya ) sebuah organisasi Pendukung ring satu Capres Prabowo yang semua anggotanya adalah para Purnawirawan Kopral s.d Jendral TNI POLRI tentunya sangat inten memberi masukan kepada Prabowo, dan perlu digaris bawahi Ring saru Prabowo (PPIR) harus dengan secara smart menggalang, membina Hubungan dengan sayap pendukung lainnya, ormas , lembaga yang mempunyai kesamaan fisi mendukung dan memenangkan prabowo dalam Pilpres 2019.

Dari pengalaman Pilkada serentak beberapa waktu yang lalu mesin politik tidak bekerja secara maksimal, suatu contoh di Pilkada Jateng dan Jabar yang melakukan pengawalan di TPS kebanyakan dipenuhi hanya partai koalisi PKS, sedangkan partai yang lain tidak melakukannya, ini contoh kecil yang terjadi di Pilkada yang lalu.

Jangan ada arogan Partai Koalisi dengan Lembaga pergerakan, ormas, elemen masyarakat yang mendukung prabowo, hal ini perlu di sikapi ring satu Prabowo kalau ingin memenangkan pilpres 2019. Untuk Pilpres 2019 kami Punya keyakinan PPIR yang semua para serdadu militan yg syarat dengan pengalaman dan sudah teruji yaitu Purnawirawan TNI POLRI akan melakukan itu, beliau2 itu sangatlah berpengalaman mengkordninir semua kekuatan pendukung Prabowo, dan mempunyai kemampuan politik yang sudah teruji disaat khususnya beliau2 para jendral masih aktif dahulu dan memimpin. Saatnya sekarang digunakan untuk memenangkn Prabowo di pilpres 2019.

Keuntungan Prabowo didukung Ulama dan Umat Islam yang diwakili Ijtima ulama

Di Depan Ulama, Prabowo Siap Jadi Alat Perubahan

Dan tokoh ulama se Indonesia, sangat besar Peluang Prabowo memenangkan Pilpres dan jangan mengulangi kesalahan Pilpres 2014 dan Pilkada 2018. Bergabungnya Partai Demokrat ke koalisi Prabowo menambah peta kekuatan yang luar biasa dan perlu disikapi semua para pendukung Prabowo tanpa ada langkah diskriminatif apapun.

Majunya Prabowo Subianto menjadi kandidat capres dari Gerindra membuat peta politik pilpres 2019 menjadi semakin jelas. Walaupun, munculnya calon alternatif ke-3, seperti Gatot dan AHY, masih mungkin terjadi tapi bobot dan tingkat ekektabilitasnya masih jauh dibawah Prabowo Subianto.

Bila kontestasi pilpres ini hanya diikuti oleh dua orang calon saja yaitu Jokowi dan Prabowo, maka bisa dipastikan bahwa yang akan menjadi kunci pergerakan suara pemilih ada pada kandidat wakil presiden.

Suara dari wakil presiden inilah yang akan secara signifikan mampu membantu mengubah arah suara pemilih. Sebab suara Jokowi dan Prabowo kemungkinan tidak akan mengalami perubahan secara signifikan.

Pemillih Rasional versus Pemilih Emosional
untuk sementara bisa diinterpretasikan bahwa kemungkinan Jokowi akan memenangkan pertandingan karena faktor incumbent. Ia dengan mudah bisa menjadikan capaian program yang telah dilakukannya menjadi bahan materi kampanye politik.

Akan tetapi, patut dicatat bahwa di dalam politik, pemilih itu cenderung emosional dan tidak rasional. Hal ini bisa diliat dari pemilihan gubernur Jakarta yang menyebabkan kalahnya Ahok.

Sosok dengan ketenaran masiv melalui medsos yg berpihak padanya dan dukungan finansial tak tertandingi itu kalah karena faktor emosional pemilih.

Perlu diingat ini adalah pemilihan presiden, bukan pemilihan CEO perusahaan yang mengedapankan performance dan kualitas. Di realitas politik sering sekali kandidat yang pantas belum tentu menjadi

kandidat yang dipilih, karena besarnya faktor pengaruh emosional.

Pendeknya, anggapan yang menyatakan peluang Prabowo untuk menang melawan Jokowi sangat kecil belum tentu tepat.

Kita bisa belajar dari kemenangan Donald Trump di Amerika Serikat dan Brexit di Inggris. Dalam kedua kejadian itu, pemilih yang dianggap ‘rasional’ menganggap pemilih yang lain juga demikian.

Alhasil, mereka tidak menyumbangkan suaranya di kotak suara, karena merasa sudah terwakili suaranya dengan pemilih yang lain.

Hal ini kemudian menjadikan kandidat yang memiliki potensi kemenangan lebih besar jadi menganggap remeh lawannya. Lihat saja terkejutnya mayoritas warga negara Amerika Serikat. Bahkan, Hillary Clinton sendiri menyatakan bahwa kekalahannya adalah hal yang mengejutkan.

Ia pun menyesali kelengahannya karena menganggap enteng Trump, yang pada saat itu banyak dicerca lantaran percakapannya dengan Billy Bush yang berbau sexual. Karena muncul isu tersebut, pihak pemenangan Hillary merasa di atas angin dan lengah.

Bahkan Obama sendiri dalam wawancaranya dengan CBS mengatakan bahwa Trump menang karena dia dianggap remeh dan enteng oleh lawan politiknya.

Perubahan Strategi Politik

Pertandingan di arena politik itu bersifat marathon, dinamis dan tidak ada kemenangan yang pasti. Yang paling penting sebenarnya orang yang berada di balik kemenangan tersebut mampu mengolah image dari kandidat, dan merebut preferensi emosional dari pemilih.

Yang dimaksud dengan preferensi emosional adalah hal-hal yang mampu melekat di alam bawah sadar pemilih tanpa mereka sadari. Hal itu berkaitan dengan nilai budaya dan agama, apabila ingin dikonotasikan dengan kondisi pemilih di Indonesia.

Sebenarnya isu-isu tersebut sudah sering dilemparkan. Misalnya saat munculnya isu ‘penistaan’ agama di pemilihan gubernur Jakarta terdahulu, isu PKI, sampai pada isu probumi vs nonpribumi. Semua isue yang dilemparkan ini sangat berbau identitas dan menyerang emosi.

Isu-isu tersebut masih akan sangat kental di pilpres ke depan. Sehingga kemungkinan besar masing-masing dari calon presiden akan mencari wakil yang memiliki kaitan emosional dengan organisasi agama, ataupun tokoh agama yang memiliki pengaruh.

Cuma saja, saya melihat bahwa strategi tersebut tidak akan cukup membawa perolehan suara yang signifikan kecuali orang-orang yang sering ‘berbicara’ atas nama Prabowo juga mengubah image-nya.

Tujuannya adalah agar terbentuk pencitraan yang baru. Sebab, sudah terbukti strategi yang dilancarkan oleh konsultan politik Prabowo di pilpres sebelumnya tidaklah berhasil.

Strategi tersebut identik dengan hardball politic. Dalam strategi ini pihak kandidat akan terus mengeluarkan pernyataan kontroversial yang memiliki daya lempar yang kuat ke pemilih.

Strategi ini bagus untuk membangun perhatian dari pemilih, tapi buruk untuk membangun citra apalagi loyalitas emosional dari pemilih.

Contoh kecilnya adalah pernyataan Prabowo yang mengatakan Indonesia mungkin akan bubar di 2030. Strategi politik seperti ini sangat buruk, karena membangun kesan negative (attack) di alam bawah sadar, sehingga reaksi yang akan muncul adalah defensive. Namun semua itu berangkat dari fakta yg terus terkoreksi dan berkembang, ternya issu 2030 mulai terbukti dan membuat banyak pihak was-was.

Bagi orang yg lebih suka bila komentar atau pernyataan memiliki persepsi positif untuk hidup mereka kiranya hrs mulai belajar memahami bahwa saat ini situasi Indonesia cepat akan berubah krn dinamika politik sdeng menghujam bagaikan meteor, tidak bisa disamakan dengan Strategi politik SBY dulu, yang lebih ke arah pencitraan, tetapi systematis memiliki kebenaran, terbukti dapat memberikan kesan positif secara emosional ke pemilih dan tdk melenceng jauh apa yg dijanjikan oleh SBY.

Oleh karena itu, sebaiknya strategi politik pemenangan Prabowo bisa bersifat hardball atau softball politik, yg penting fakta dan tetunya masing2 diarahkan pada karakteristik permasalahan yg sedang dihadapi bangsa ini serta memiliki daya lontar yang fleksibel dengan daya serap yang tinggi.

Ini bisa dimulai dengan mengubah pola komunikasi publik yg fleksible oleh Prabowo dengan media dan publik sendiri atau yg mulai bersimpati dg Prabowo, serta mencari kandidat yang bisa membentuk image baru Prabowo.
Orang-orang yang ada di sekitar Prabowo juga harus mengubah pola komunikasinya dengan media dan publik, karena secara lansung juga membentuk image dan equity dari Prabowo sendiri.

Dan yang paling penting materi kampanye harus diolah secara profesional dan terukur, sehingga lebih mengena dengan konteks Nasionalisme/ Kebangsaan, ekonomi dan sosial masyakat Indonesia sekarang ini.