RADIKALISME DAN TERORISME TERKAIT KEADILAN


STRATEGIC ASSESSMENT

171 total views, 2 views today

STRATEGIC ASSESSMENT. Adanya Radikalisme dan Terorisme paling utama mengenai keadilan, baik dari Masyarakatnya maupun Pemerintah. Apabila negara adil terhadap rakyatnya, radikalisme dan terorisme bisa berkurang. Aparat kita juga harus dibenahi mengenai penanganan terorisme. Sikap Muhamadiyah sudah jelas, tidak menginginkan adanya radikalisme dan terorisme.

Demikian dikemukakan Prof. Dr. H. Suyatno, M.Pd sebagai keynote speaker dalam “Peluncuran Buku dan Diskusi Jurnal Ma’arif edisi “Fenomena Radikalisme – Terorisme di Indonesia : Membaca sikap dan pandangan Muhamadiyah” di Jakarta belum lama ini seraya menambahkan, Maarif Institute mempunyai pikiran cakrawala yang cukup luas.

‘Fenomena perbedaan dalam agama Islam perlu dikaji lebih jauh, Islam yang dipahami oleh Muhamadiyah yaitu Islam tengahan, yaitu tidak ke kanan dan ke kiri. Akhir-akhir ini Islam dijadikan alat, begitu ada yang berperilaku aneh dan jelek diatasnamakan Islam. Kami berkali kali ditanya oleh yang berwajib mengenai kampus-kampus radikal,” tambah Rektor Uhamka ini.

Menurutnya adanya fenomena dan momentum besar seperti 212, Muhamadiyah tidak pernah setuju dengan cara itu, karena masih ada cara elok.

Sementara itu, Abdullah, Direktur  Jurnal Maarif Institut mengatakan, ketika Muhamadiyah mengangkat terorisme, terbesit bahwa Muhamadiyah diidentikan dengan radikalisme.

“Ada titik perbedaan antara Wahabiyah dan Muhamadiyah seperti penghargaan terhadap perempuan. Kami di Maarif Institut mencoba mengurai terhadap seberapa besarkan pengaruh ideologi berasal dari luar ini,” ujarnya.

Sedangkan, Said Ramadhan MSi mengatakan, kampus bukan saja tempat belajar mencari ilmu, akan tetapi bisa sebagai sosialisasi. Sikap Muhamadiyah terhadap terorisme itu seperti apa, nanti kita akan saksikan pandangan Muhamadiyah tentang radikalisma dan terorisme. “Berharap kepada Maarif Institut agar bisa bekerjasama terus, bukan saja di Kampus Uhamka, tapi kampus-kampus lainnya,” saran Dekan Fisip Uhamka ini.

Moh. Shofab, M.Ag mengatakan, penyusupan faham- faham radikalisme dan terosisme ini adalah sebuah kenyataan dan apa yang dilakukan oleh NU, Muhammadiyah dan LSM lainya serta BNPT sekalipun adalah upaya untuk menangkal adanya faham radikalisme yang dimasukan kedalam  Indonesia.

“Apa yang dianggap bahwa selama ini Islam itu harus menggunakan pakaian dengan bahan kain itu juga tidak dan apakah jika menggunakan Levis menggunakan Cardinal itu tidak sesuai dengan ajaran Islam ini tentu tidak benar, karena itu Muhammadiyah harus membawa perubahan, sebab Muhammadiyah yang telah berusia 103 tahun ini adalah untuk membawa adanya perubahan-perubahan seperti yang diajarkan  oleh KH Ahmad Dahlan dan bersumber dari Al Maun,” ujar Kontributor Jurnal Maarif ini.

Menurutnya, fenomena saat ini agama sering dijadikan sebagai instrumen politik untuk memenangkan calonnya dan ini sudah dan ini sudah ada buktinya antara lain di Jakarta sehingga ada upaya untuk copy paste untuk di gunakan didaerah-daerah lain yang sedang melaksanakan Pilkada. (Bayu K).