REVOLUSI 4.0 Oleh : Dr. Winata, MSi

LIKE SHARE
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

134,349 total views, 1 views today

STRATEGIC ASSESSMENT. Industrialisasi dunia dimulai pada akhir abad ke-18 dengan munculnya tenaga uap dan penemuan kekuatan alat tenun, secara radikal mengubah bagaimana barang-barang diproduksi. Seabad kemudian, listrik dan jalur perakitan memungkinkan produksi massal. Pada 1970-an, revolusi industri ketiga dimulai ketika kemajuan dalam otomatisasi bertenaga komputer memungkinkan kita memprogram mesin dan jaringan.

Ekonomi global saat ini pun sedang berada pada puncak perubahan besar yang sebanding dengan munculnya Revolusi Industri Pertama, Kedua, dan Ketiga. Sekarang kita segera masuk ke satu tahapan revolusi industri yang dinamakan Revolusi Industri 4.0.

Pada awalnya, istilah Revolusi Industri 4.0 berasal dari sebuah proyek strategis teknologi canggih Pemerintah Jerman yang mengutamakan komputerisasi pada semua pabrik di negeri itu. Revoluasi Industri 4.0 ini kemudian dibahas kembali pada 2011 di Hannover Fair, Jerman. Pada Oktober 2012, Working Group on Industry 4.0 memaparkan rekomendasi pelaksanaan Revolusi Industri 4.0 kepada Pemerintah Federal Jerman.

Prof Bob Gordon dari Northwesten University, Illinois, USA, juga memberikan beberapa tanggapan mengenai Revolusi Industri 4.0 yang dirangkum oleh Prof Paul Krugman dari Princeton University, New Jersey, USA (penerima Nobel Price on Economic) pada 2008.

Pada perkembangan berikutnya, April 2013, Prof Krugman mencatat beberapa hal tentang perkembangan revolusi industri yang terjadi sejak abad ke-17: Revolusi Industri Pertama (1750-1830), ditandai dengan penemuan mesin uap dan kereta api. Penggunaan mesin uap pada waktu itu dimaksudkan untuk menggantikan tenaga manusia dan hewan dalam produksi.

Revolusi industri ini pada saat itu juga berguna untuk melaksanakan mekanisasi sistem produksi. Mekanisasi di sini bermakna penggunaan tenaga mesin dan sarana-sarana teknik lainnya untuk menggunakan tenaga manusia dan hewan dalam proses produksi. Revolusi Industri Kedua (1870-1900), ditandai dengan penemuan listrik, alat komunikasi, bahan-bahan kimia, dan minyak. Revolusi industri pada tahap ini dapat digunakan untuk melaksanakan konsep produksi massal. Revolusi Industri Ketiga (1960 hingga sekarang), ditandai dengan penemuan komputer, internet, dan telepon genggam. Revolusi industri ketiga ini dapat digunakan untuk otomatisasi proses produksi dalam kegiatan industri.

Sementara, Kepala Kebijakan Teknologi dan Kemitraan WEF, Zvika Krieger menyatakan, ada tema umum pada masing-masing revolusi industri: penemuan teknologi spesifik yang mengubah masyarakat secara fundamental. Revolusi industri pertama dimulai di Inggris sekitar tahun 1760 yang ditandai dengan penemuan besar yakni mesin uap. Mesin uap memungkinkan proses manufaktur baru, mengarah ke penciptaan pabrik. Revolusi industri yang kedua diperkirakan datang seabad kemudian yang ditandai dengan produksi massal di industri-industri baru seperti baja, minyak dan listrik. Era tersebut juga ditandai dengan adanya sejumlah penemuan penting seperti bola lampu, telepon dan mesin pembakaran internal. Selanjutnya, era evolusi industri ketiga dimulai pada tahun 1960 yang ditandai dengan adanya penemuan semikonduktor, komputer pribadi dan internet. Namun Krieger mengatakan, revolusi industri keempat sedikit berbeda dari yang ketiga karena ada dua alasan: kesenjangan antara dunia digital, fisik dan biologis menyusut, dan teknologi berubah lebih cepat daripada sebelumnya.

 

Saat ini kita memasuki era baru, yaitu Revolusi Industri Keempat atau sering disebut dengan istilah populer Revolusi Industri 4.0. Revolusi industri gelombang keempat ini tetap bertopang pada Revolusi Industri Ketiga. Namun, Revoluasi Industri 4.0 mulai ditandai dengan bersatunya beberapa teknologi, sehingga kita melihat dan merasakan suatu era baru yang terdiri atas tiga bidang ilmu yang independen, yaitu fisika, digital, dan biologi.

Dengan komposisi yang demikian, maka Revolusi Industri 4.0 mempunyai potensi memberdayakan individu dan masyarakat, karena revolusi industri fase ini dapat menciptakan peluang baru bagi ekonomi, sosial, maupun pengembangan diri pribadi. Tetapi Revolusi Industri 4.0 juga bisa menyebabkan pengerdilan dan marginalisasi (peminggiran) beberapa kelompok dan ini dapat memperburuk kepentingan sosial bahkan kohesi sosial, juga dapat menciptakan risiko keamanan dan dapat pula merusak interelasi (hubungan) antar manusia.

Industri 4.0 adalah industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber. Ini merupakan tren otomatisasi dan pertukaran data dalam teknologi manufaktur. Ini termasuk sistem cyber-fisik, Internet of Things (IoT), komputasi awan dan komputasi kognitif.

Seperti pada penjelasan definisi Industri 4.0 sebagai lanjutan dari industri 3.0 yang menambahkan instrumen konektivitas untuk memperoleh dan mengolah data, otomatis perangkat jaringan, IoT, big data analytics, komputasi awan dan keamanan cyber merupakan komponen utama dalam industri 4.0.

Perangkat konektivitas tersebut dihubungkan pada perangkat fisik industri. Tujuannya adalah untuk menerima dan mengirim data sesuai perintah yang ditentukan, baik secara manual maupun otomatis berdasar keecerdasan buatan.
Perangkat IoT pada Industri 4.0 dikenal dengan IIoT atau Industrial Internet of Things, yang sebelumnya sangat berguna untuk monitoring secara internal. Dalam konsep industri 4.0, perangkat IoT tersebut dapat terhubung ke jaringan WAN melalui lingkungan cloud. Sampai di lingkungan cloud, data dapat diproses dan di sebar ke pihak lain. Disini memerlukan otomatisasi dan orkestrasi pada lingkungan hybrid cloud. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan pendekatan DevOps yang memakai sistem kontainerisasi untuk memudahkan pengembang dan pihak operasional untuk terus meningkatkan performa dan layanan.

Tujuan utama dari industri 4.0 ini adalah kestabilan distribusi barang dan kebutuhan. Industri 4.0 memungkinkan pendataan kebutuhan masyarakat secara real time, dan mengirim data tersebut ke produsen. Sehingga, para produsen dapat memproduksi dengan jumlah yang tepat sesuai kebutuhan. Tentunya secara ekonomi, hal ini dapat menjaga kestabilan harga. Secara bisnis, hal ini dapat memperluas pasar.

Pelacakan produk dan transparansi akan semakin mengarah ke layanan baru. Hal ini dimungkinkan karena mekanisme Industri 4.0 mengintegrasikan produsen dengan jalur pasokan tanpa batas geografis.

 

Pada pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) pada Januari 2016 di Davos, Swiss, Revolusi Industri Keempat menjadi fokus utama pembahasan dan perdebatan. Sekurang-kurangnya ada tiga hal yang membedakan Revolusi Industri 4.0 dengan revolusi industri sebelumnya.

Tiga hal tersebutlah menjadi dasar mengapa transformasi yang terjadi saat ini bukan merupakan perpanjangan atau kelanjutan dari revolusi digital, melainkan menjadi revolusi transformasi baru (tersendiri), dengan alasan: Pertama, inovasi dapat dikembangkan dan menyebar jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Dengan kecepatan ini terjadi terobosan baru pada era sekarang, pada skala eksponensial, bukan pada skala linear;

Kedua, penurunan biaya produksi yang marginal dan munculnya platform yang dapat menyatukan dan mengonsentrasikan beberapa bidang keilmuan yang terbukti meningkatkan output pekerjaan. Transformasi dapat menyebabkan perubahan pada seluruh system produksi, manajemen, dan tata kelola sebuah lembaga;

Ketiga, revolusi secara global ini akan berpengaruh besar dan terbentuk di hampir semua negara di dunia, di mana cakupan transformasi terjadi di setiap bidang industri dan dapat berdampak secara menyeluruh di banyak tempat.

Seiring dengan itu, para ahli pun berpendapat bahwa Revolusi Industri 4.0 dapat menaikkan rata-rata pendapatan per kapita di dunia, memperbaiki kualitas hidup, dan bahkan memperpanjang usia manusia (meningkatnya usia harapan hidup).

Di sisi lain, penetrasi alat-alat elektronik, seperti telepon genggam (handphone) yang harganya semakin murah dan sudah sampai ke berbagai pelosok dunia, baik yang penduduknya mempunyai pendapatan tinggi maupun rendah. Pada masa ini teknologi begitu menyentuh ranah pribadi, pengatur kesehatan, pola diet, olahraga, mengelola investasi, mengatur keuangan melalui mobile banking, memesan taksi, memanggil Go-Jek, pesan makanan di restoran (go-food), beli tiket pesawat, mengatur perjalanan, main game, menonton film terbaru, dan sebagainya. Semua itu kini bisa dilakukan hanya melalui satu perangkat teknologi saja, karena datanya sudah disimpan di “langit”.

Dengan realitas yang seperti itu, kita dapat membayangkan bahwa dalam bidang bisnis dan produksi, Revolusi Industri 4.0 akan meningkatkan efisiensi, terutama dalam bidang supply, logistik, dan komunikasi, di mana biaya keduanya akan terus menurun.

Tantangan dan Peluang

Kedatangan Revolusi 4.0 di Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Fenomena perkembangan teknologi ini diperkirakan akan menghentak sisi bisnis atau perekonomian nasional, regional dan global, menimbulkan risiko ancaman terhadap keamanan nasional dan dapat menimbulkan berbagai dampak terkait sosial budaya ditengah masyarakat. Satu hal yang sudah pasti bahwa Revolusi Industri 4.0 telah datang di tengah-tengah kita dan kita tak mungkin lagi menolak atau menghindarinya. Proses ini akan terus berjalan di tengah kemampuan atau bahkan ketidakmampuan kita menepis dampak negatifnya.
Menurut Prof Krugman, sebagaimana Revolusi Industri Pertama, Kedua, dan Ketiga, Revolusi Industri 4.0 ini pun diyakini bakal bermanfaat signifikan untuk menaikkan produktivitas. Memang terdapat beberapa keraguan terhadap masa depan Revolusi Industri 4.0 yang ditulis oleh Prof Paul Krugman pada 2013 (A New Industrial Revolution; the Rise of the Robot) bahwa penggunaan mesin pintar memang dapat meningkatkan PDB (Product Domestic Brutto). Namun, pada saat yang sama, hal tersebut akan dapat mengurangi permintaan terhadap tenaga kerja, termasuk orang-orang yang pintar sekalipun. Tapi, semua itu tidak terjadi seketika, pasti ada tahapan-tahapannya. Selama proses yang panjang itu terjadi, maka perdebatan tentang Revolusi Industri 4.0 akan terus berlangsung.

Kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang tidak bertambah dengan cepat dan menurunnya peran manufaktur, menyisakan pertanyaan tentang kehebatan Revolusi Industri 4.0. Belum lagi, misalnya, Revolusi Industri 4.0 ini masih menyisakan sisi gelapnya, yakni dampak negatifnya terhadap penciptaan lapangan kerja.

Menjelang akhir risalah ini, menarik juga kita renungkan apa yang disajikan majalah mingguan Amerika Serikat, The Economist pada 6 April 2018. Majalah ini menulis laporan utamanya dengan judul “Prihatin”, karena era Revolusi Industri 4.0 menyebabkan hilangnya privasi seseorang akibat penyebaran data digital secara mudah. Tiada lagi tempat bagi data untuk disembunyikan.

Dalam konteks di Indonesia, Revolusi Industri Keempat telah mengeliminasi beberapa pekerjaan saat ini. Indikasinya mulai terlihat dari pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 50.000 karyawan bank di Indonesia yang dinilai karena akumulasi beberapa faktor di antaranya efisiensi dan disrupsi teknologi.

Ada beberapa hal yang perlu diantisipasi dari teknologi digital yaitu dampak tenaga kerja dan ketimpangan pendapatan. Disruptive technology membahwa dampak positif bagi tenaga kerja dengan peningkatan efisiensi dan fleksibilitas bekerja, tetapi juga mempunyai dampak negatif yang besar yaitu menurunnya lapangan kerja, terutama bagi pekerja rutin dan manual.
Richard Baldwin dalam makalahnya berjudul “The Great Convergence : Information Technology and the New Globalization” mengatakan, revolusi teknologi digital akan mendorong industri manufaktur pindah ke negara berkembang, sementara negara maju akan melakukan spesialisasinya dalam jasa, ide dan pengetahuan, sehingga peran tenaga kerja akan berkurang di negara maju, sementara di negara berkembang sebaliknya, yang berakibat kelas menengah akan tumbuh di negara berkembang dan kemiskinan akan mengalami penurunan.

Tidak hanya menjadi perbincangan di tanah air, Revolusi Industri Keempat juga akan menjadi pembahasan utama dalam pertemuan tahunan World Economic Forum di Davos, Swiss. Tema pertemuan tahun ini mengacu pada bagaimana kombinasi teknologi mengubah cara kita hidup, bekerja dan berinteraksi. Ketua Eksekutif WEF di Jenewa, Klaus Schwab adalah sosok yang pertama kali mengemukakan istilah itu kepada publik pada 2016 silam dalam bukunya “Revolusi Industri Keempat” di pertemuan Davos pada tahun yang sama. Schwab berpendapat, revolusi teknologi sedang berlangsung dan mengaburkan batas antara bidang fisik, digital dan biologis.

Sederhananya, revolusi industri keempat akan mengacu pada bagaimana teknologi seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), kendaraan otonom, dan internet saling memengaruhi kehidupan manusia. Menurutnya, perubahan teknologi ini secara drastis akan mengubah cara individu, perusahaan, dan pemerintah bekerja yang pada akhirnya mengarah pada transformasi masyarakat yang serupa dengan revolusi industri sebelumnya.

Berikut beberapa contoh peluang yang dimungkinkan dari industri 4.0: Memberikan informasi real-time tentang arus barang dari titik asal ke konsumen; Perincian peristiwa: komposisi fisik, manufaktur, dan nomor seri; Transparansi tentang faktor seperti asal produk; Peningkatan visibilitas proses pengiriman dan status ketersediaan; Tautan ke struktur proses bisnis back-end (menggunakan ERP, EMS, CRM, dan sebagainya); Informasi real-time dan analisis prediktif akan meningkatkan perencanaan dan alokasi ke tingkat berikutnya; Integrasi horizontal akan menurunkan biaya untuk menangani jaringan rantai pasokan yang kompleks; Integrasi saluran yang mulus akan bergantung pada pengiriman last-mile yang nyaman dan hemat biaya; Transparansi pada kualitas dan asal akan membantu perusahaan untuk membedakan di pasar dan memenuhi permintaan konsumen.

Mungkin aspek yang paling menantang dari penerapan teknik Industry 4.0 adalah risiko keamanan TI terhadap sistem Industri. Integrasi online ini akan memberi ruang untuk pelanggaran keamanan dan kebocoran data. Pencurian dunia maya juga harus dipertimbangkan. Dalam kasus ini, masalahnya bukan masalah perorangan, tetapi dapat, dan mungkin akan, membebani para produser uang dan bahkan dapat merusak reputasi mereka. Oleh karena itu, penelitian dalam keamanan sangat penting.

Perkiraan Ancaman

Dalam tulisan pendek ini, ditekankan perkiraan ancaman yang kemungkinan akan muncul terkait perkembangan Iptek melalui Revolusi 4.0 yaitu ancaman di bidang ekonomi atau bisnis serta aspek keamanan nasional yang sejatinya merupakan salah satu “intelligence core business”. Ciri khas Revolusi 4.0 yang ciri-cirinya penulis rumuskan dengan ABCRM (Artificial Intelligent, Big Data, Cloud Computing, Robotics dan Machinery).

Dalam bidang ekonomi dan bisnis misalnya, perkiraan ancamannya antara lain : penyabotan tenaga ahli ABCRM akan terjadi di perusahaan-perusahaan internasional sehingga akan menggilas perusahaan-perusahaan bertipe nasional bahkan UMKM di Indonesia. Disamping itu, di tingkat global akan diwarnai dengan “pencurian uang” melalui penggunaan big data, dimana kelompok teroris sebagai non state actor maupun beberapa negara kuat berusaha keras memetakan atau mempunyai big data terkait lawan-lawannya baik di tingkat “regional foe” maupun ‘global foe”.

Tidak mengherankan jika dalam era Revolusi 4.0 tersebut, pendaftaran terkait hak paten menjadi meningkat. Berdasarkan hasil studi European Patent Office pada 2017 lalu menunjukkan jumlah paten yang diajukan yang terkait dengan Revolusi Industri Keempat meningkat signifikan hingga 54 persen dalam tiga tahun terakhir.

Last but not least, terkait perkiraan ancaman di masa Revolusi 4.0 yang amat menakutkan bagi emerging countries seperti Indonesia adalah currency war dan foreign debt trap yang mudah dilakukan di era Revolusi 4.0 jika lawan menguasai cloud computing dan memiliki big data musuhnya. Indonesia diakui atau tidak diakui masih lemah terkait ABCRM, sehingga Indonesia menjadi “sasaran empuk” di era Revolusi 4.0.

Yang paling menakutkan adalah eksistensi beberapa kelompok teror di level global, regional dan nasional tentunya juga akan menggunakan kemajuan Iptek dan suasana Revolusi 4.0 untuk dapat memformulasikan “deadly attacks” mereka.
Saat ini, para ahli keamanan siber yakin jika ISIS menggunakan banyak platform teknologi untuk merencanakan teror yang terkoordinasi ke negara-negara yang dituju di seluruh dunia. Salah satu yang paling meyakinkan adalah penggunaan platform komunikasi yang terenkripsi. Ini merupakan hal yang sangat mungkin digunakan, mengingat sangat sulit untuk melacak ataupun bekerja sama dengan pemilik platform karena tidak adanya kunci pembuka enkripsi. Tidak heran jika kemudian perdebatan mengenai enkripsi platform komunikasi kembali menggema. Di satu sisi, enkripsi komunikasi bisa mencegah tragedi seperti ini. Namun, di sisi lain akan mengganggu privasi pengguna dan melanggar netralitas internet.
*) Alumnus Doktor Universitas Padjadjaran, Bandung.


LIKE SHARE
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •