Temui Jokowi, Petani Tebu Lapor Ada Mafia Impor Gula

LIKE SHARE
  • 7.9K
  • 2.6K
  • 132
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    10.6K
    Shares

133,255 total views, 1 views today

STRATEGIC ASSESSMENT– Sejumlah perusahaan gula diklaim gencar melakukan impor gula untuk kebutuhan industri, namun justru dijual untuk kebutuhan konsumsi,

Hal tersebut dikemukakan Ketua Dewan Pembina APTRI Arum Sabil usai melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka, Selasa (5/3/2019).

“Kami sampaikan kepada Presiden, bahwa mewaspadai berdirinya pabrik-pabrik gula baru yang indikasinya hanya kedok untuk impor gula mentah,” kata Arum.

Para petani, sambung Arum, mengapresiasi munculnya pabrik gula baru yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Namun, keberadaan pabrik-pabrik tersebut diklaim justru merugikan petani.

“Bahkan saya sampaikan ke Presiden, mafia impor gula ini sudah masuk ke semua sendi. Bahkan, fee-nya dan indikasinya berapa, sudah saya sampaikan ke Presiden,” ujar Arum.

Temui Jokowi, Petani Tebu Lapor Ada Mafia Impor GulaFoto: Petani Tebu yang tergabung dalam Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) (CNBC Indonesia/Samuel Pablo)

Arum menjelaskan, selama pabrikan tersebut kerap kali mendapatkan izin untuk mengimpor ratusan ribu ton gula untuk kebutuhan industri per tahunnya dengan alasan kapasitas.

“Kalau izin impor diberikan dengan alasan idle capacity untuk kepentingan konsumsi rumah tangga, kalau bisa diberikan kepada pabrik gula di bawah BUMN,” kata Arum.

“Kalau idle capacity, maka pabrik gula ini yang harus diberikan kesempatan memenuhi. Karena itu akan kembali ke negara dan rakyat,” lanjutnya.

Saat ini, kata Arum, konsumsi gula secara nasional baik itu gula konsumsi maupun gula kebutuhan industri diperkirakan mencapai 5 juta ton per tahun. Namun, angkanya justru membengkak lantaran banjir impor gula.

“Terus ada pabrik gula yang saya lihat dengan alasan idle capacity padahal pabrik baru. Dia dapat izin 1 juta ton. Jadi sudah 6 juta ton. Produksi gula 2,3 juta – 3,4 juta ton, jadi hampir 8,3 juta ton,” jelasnya.

“Dengan konsumsi rumah tangga dan industri hanya 5 juta ton, bayangkan berapa jumlah gula? Itulah kenapa sekarang gula industri merembes ke pasar,” ujar Arum.

SECURE:CNBCINDONESIA


LIKE SHARE
  • 7.9K
  • 2.6K
  • 132
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    10.6K
    Shares