TERBUKTI, KELOMPOK RADIKAL DI FILIPINA DAN INDONESIA MEMPUNYAI HUBUNGAN KUAT Oleh : Stanislaus Riyanta

LIKE SHARE
  • 8.3K
  • 2K
  • 765
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    11.1K
    Shares

112,217 total views, 2 views today

STRATEGIC ASSESSMENT. Menteri Dalam Negeri Filipina Eduardo Ao menyatakan bahwa dua pelaku serangan bom bunuh diri asal Indonesia berada di balik serangan gereja Katolik di Pulau Jolo. Ao juga menyebutkan bahwa kelompok Abu Sayyaf yang membimbing mereka, dengan mempelajari sasaran, melakukan pemantauan rahasia dan membawa pasangan ini ke gereja.

Pihak militer Filipina telah memastikan bahwa aksi bom bunuh diri di Gereja oleh pasangan dari Indonesia tersebut menyebabkan 22 orang meninggal dan 100 lainnya luka-luka.

Meskipun data pelaku bom bunuh diri di Gereja Katolik Pulau Jolo belum diketahui identitasnya, namun bukti awal sudah cukup kuat untuk menunjukkan bahwa antara kelompok radikal di Filipina dan Indonesia mempunyai hubungan yang kuat. Hubungan ini sudah terjalin sejak lama yang dibangun oleh para kombatan alumni Afganistan dan terjadi hingga saat ini yang dipengaruhi oleh gerakan ISIS.

Kelompok radikal pelaku teror terutama di Indonesia dipangaruhi oleh dua sumber yaitu Al Qaeda dan ISIS. Saat ini kelompok yang eksis dan aktif melakukan aksi teror adalah kelompok yang berafiliasi dengan ISIS, yang di Indonesia didominasi oleh Jamaah Ansharut Daulah dan di Filipina adalah kelompok Abu Sayyaf. Kelompok atau orang yang berafiliasi dengan Al Qaeda, seperti kelompok Al-Jamaah Al-Islamiyyah saat ini cenderung menjadi sleeper cell.

Aksi di Gereja Katolik Pulau Jolo tersebut juga menunjukkan karakteristik aksi bom bunuh diri dilakukan oleh kelompok yang berafiliasi dengan ISIS. Aksi yang dilakukan oleh ISIS tidak segan melibatkan perempuan bahkan anak-anak. Kelompok yang berafiliasi dengan Al Qaeda seperti Al-Jamaah Al-Islamiyyah mempunyai aturan ketat yang tidak memperbolehkan perempuan dan anak-anak melakukan aksi tersebut.

Terkait dengan pelaku bom bunuh diri di Filipina yang dinyatakan berasal dari Indonesia, selain menunjukkan hubungan sebagai kelompok trans nasional, diperkirakan karena Indonesia sudah mulai menerapkan UU No 5 Tahun 2018 tentang Terorisme. Undang-undang tersebut memberikan kewenangan lebih luas bagi penegak hukum untuk melakukan pencegahan. Hal inilah yang membatasi ruang gerak di Indonesia sehingga pilihan untuk aksi teror dilakukan di Filipina.

Faktor lain adalah kondisi di Filipina lebih tepat sebagai sasaran aksi teror karena yang dilawan adalah kelompok mayoritas yang berbeda ideologi dan agama. Di Indonesia yang menjadi sasaran teror selain aparat keamanan adalah kelompok minoritas. Jika dibandingkan antara Indonesia dan Filipina tentu nilai “jihadnya” akan lebih bermakna jika dilakukan di Filipina.

Prediksi ke depan, fusi antara kelompok radikal di Indonesia dan Filipina akan semakin menguat, dan sasarannya akan lebih spesifik. Gerakan kelompok tersebut semakin mengecil bahkan pada tingkat keluarga, sehingga akan semakin sulit dideteksi karena menggunakan perempuan dan anak-anak yang relatif tidak dicurigai.

Strategi yang sebaiknya dilakukan adalah ada kerjasama pencegahan dan penanganan kelompok radikal trans nasional antara Indonesia dengan Filipina. Kerjasama ini sangat penting mengingat aksi yang dilakukan lintas negara.

*) Pengamat terorisme.


LIKE SHARE
  • 8.3K
  • 2K
  • 765
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    11.1K
    Shares