TERORISME DAN MEDIA MASSA: QUO VADIS?

LIKE SHARE
  • 1.2K
  • 1.7K
  • 45
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    3K
    Shares

88,059 total views, 2 views today

Oleh : Rangga Khrisnamurti

STRATEGIC ASSESSMENT
1. Latar Belakang
Posisi media massa atau pers yang sangat strategis dalam rangka mempengaruhi kebijakan pemerintah ataupun opini yang berkembang di masyarakat, ternyata juga menjadi acuan bagi kalangan teroris atau kelompok radikal untuk menjadikan kekuatan politik demokrasi ke empat ini sebagai alat atau faktor kekuatan mereka dalam melancarkan serangan, memperbesar pengaruh daya serangan dan menarik perhatian masyarakat luas.

Di samping itu, posisi media massa sebagai jembatan antara sumber berita atau peristiwa dengan pembaca memang sangat vital dan sangat menggoda individu atau kelompok kepentingan untuk memanfaatkan media massa ini. Untuk itu tidak berlebihan jika media massa disebut sebagai kekuasaan dan kekuatan ke empat dalam negara setelah legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Menurut Brian Mc Nair, teror adalah sebuah bentuk komunikasi politik, yang dilakukan di luar prosedur konstitusional. Para teroris mencari publisitas untuk membawa tujuan psikologis mereka. Para pelaku teror menggunakan kekerasan untuk menghasilkan berbagai efek psikologis seperti demoralisasi musuh, mendemonstrasikan kekuatan gerakan mereka, mendapatkan simpati publik, menciptakan ketakutan serta situasi chaos. Untuk mencapai tujuan tersebut, para teroris mempublikasikan aksi mereka melalui media massa.

Media massa memiliki pengaruh yang patut diperhitungkan dalam membentuk opini publik. Pada teori-teori awal tentang pengaruh media massa menunjukkan bahwa media massa memiliki kekuatan yang begitu besar untuk memengaruhi massa. Tetapi pada perkembangannya teori-teori tentang pengaruh media massa mulai melihat justru pembaca memiliki kekuatan untuk ‘memaksa’ media menyajikan suatu berita. Sangat sulit memang untuk mengukur pengaruh media massa terhadap khalayak karena variabel-variabel lain juga turut diperhitungkan.

Meskipun begitu, tidak bisa dinafikan bahwa media massa telah menjadi salah satu sumber informasi penting dan referensi yang memengaruhi cara berpikir pembacanya. Pengaruh itu akan lebih besar lagi jika sebuah berita dimuat atau ditayangkan terus menerus dalam waktu yang lama oleh sebagian besar media massa yang ada. Dengan cara itu sebuah berita akan dianggap sebagai sebuah realitas objektif.

Meskipun begitu, tidak bisa dinafikan bahwa media massa telah menjadi salah satu sumber informasi penting dan referensi yang memengaruhi cara berpikir pembacanya. Pengaruh itu akan lebih besar lagi jika sebuah berita dimuat atau ditayangkan terus menerus dalam waktu yang lama oleh sebagian besar media massa yang ada. Dengan cara itu sebuah berita akan dianggap sebagai sebuah realitas objektif.

Meskipun begitu, tidak bisa dinafikan bahwa media massa telah menjadi salah satu sumber informasi penting dan referensi yang memengaruhi cara berpikir pembacanya. Pengaruh itu akan lebih besar lagi jika sebuah berita dimuat atau ditayangkan terus menerus dalam waktu yang lama oleh sebagian besar media massa yang ada. Dengan cara itu sebuah berita akan dianggap sebagai sebuah realitas objektif.

Pada kenyataannya tidak ada realitas objektif dari sebuah berita, yang ada adalah realitas media. Semua isi berita telah dikonstruksi dan dibingkai oleh media seperti penempatan halaman, pembuatan judul, ukuran huruf, dan lain-lain. Media tidak lagi sebuah cermin dari realitas tetapi sudah menjelma sebagai “other” dengan kehidupannya sendiri seperti diungkap oleh Hikmat Budiman dalam sebuah bukunya. Sayangnya memang kita tidak bisa mengelak dari menggunakan media massa dalam kehidupan harian kita. Padahal media massa telah membentuk lubang hitam informasi yang menyerap siapa pun ke dalamnya tanpa pernah bisa keluar.

Membahas hubungan antara media massa dengan terorisme, memang ada beberapa sangatlah kompleks, bahkan media massa sudah dianggap sebagai “embedded” bagi teroris untuk mencapai tujuannya. Disisi yang lain, media massa dan teroris juga saling memanfaatkan, di mana pers atau media massa dengan prinsip pemberitaan “bad news is good news” atau “terrible news is good news” jelas membuat berita-berita terkait dengan terorisme, radikalisme, separatisme dan konflik sosial selalu menempati posisi “headline” pemberitaan ataupun ulasan editorial media massa baik cetak, elektronik ataupun situs berita.

Meskipun demikian, dalam rangka memilih “angle atau sudut berita” ataupun “scoop” pemberitaan terkait terorisme juga kaitannya sangat erat dengan politik jajaran media massa yang bersangkutan.

Hal ini selaras dengan pendapat Jean Baudillard yang menyatakan, pembuatan sebuah berita ada kaitannya dengan target pemberitaannya, maka sangatlah mungkin jika pilihan-pilihan beritanya dikatakan “sepihak”. Sementara itu, Direktur Jamaah Anshorut Tauhid Media Center (JMC), Sonhadi menyatakan, media-media di Indonesia lebih banyak menyajikan pemberitaan teroris berdasarkan sudut pandang media Barat. Hal ini sangat merugikan umat Islam. Sebab media-media barat telah menjadi corong pemerintahnya masing-masing untuk menyudutkan umat Islam.

Mengimbau umat Muslim untuk tidak gampang terprovokasi dengan isu-isu yang diusung dunia Barat, khususnya Amerika Serikat. Karena hal tersebut akan mengendurkan semangat keberislaman seorang Muslim. Kalau umat Islam kita mengikuti propaganda Barat bahwa Islam adalah teroris, umat Islam akan takut mempelajari agama secara mendalam. Menekankan pentingnya umat Islam untuk mempelajari agama secara menyeluruh dan mendalam. Hal ini agar umat Islam bisa mengkritisi pemberitaan-pemberitaan terorisme yang ada di berbagai media.

Oleh karena itu, untuk mengetahui “posisi politik atau standing political” dari media massa dalam pemberitaan ataupun analisis terkait terorisme, salah satunya dapat dilihat dalam editorial media massa yang bersangkutan, karena sikap, persepsi, opini harapan dan posisi media massa terhadap pemberitaan yang dijadikan editorialnya menggambarkan “isi hati” media massa tersebut, sehingga penulis editorial media massa tersebut adalah wartawan yang sudah senior ataupun sudah menduduki posisi Redaktur Pelaksana, Wapemred bahkan Pemimpin Redaksinya.

Menjadi menarik untuk menyoroti masalah terorisme dan media massa ini manakala dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, kelompok teroris melakukan konvergensi dalam usaha menciptakan publisitas yang besar. Kelompok teroris tersebut bukan hanya memanfaatkan media massa konvensional seperti cetak dan elektronik, namun juga menggunakan situs berita dan jejaring sosial di internet seperti youtube, twitter dan facebook untuk menyebarkan publisitasnya. Hal ini bisa dilacak dari menyebarnya blog-blog di internet yang menyuarakan kepentingan teroris.

Yang juga perlu diwaspadai adalah adanya usaha dari kalangan teroris masuk ke dapur media dengan menyebarkan pengaruh kepada awak media. Keterlibatan Imam Firdaus, juru kamera AN Teve dan Pepi Fernando wartawan freelance dalam kasus bom di Serpong dan Cirebon pada awal tahun 2011 adalah salah satu indikasinya.

Pengaruh media massa pada dasarnya memiliki peran penting dalam menentukan pengetahuan dan persepsi publik untuk mengubah yang salah menjadi benar. Di samping itu, jurnalis harus terus menyadari bahwa dirinya sedang mengemban misi menyampaikan informasi yang bertujuan mengedukasi publik. Oleh karena itulah, di sini terletak titik kesinambungan hubungan antara media massa dengan terorisme yaitu terletak kepada keinginan jurnalis untuk menyiarkan aksi terorisme dalam rangka meningkatkan rating ataupun mendapatkan “scoop”, namun juga disisi yang lain ada tanggung jawab profesi sebagai jurnalis bahwa mereka harus mengedukasi publik tidak mencontoh tindakan anarkis. Kalau sudah begini situasi dan kondisinya, untuk maka hubungan terorisme dan media massa menjadi sebuah pertanyaan besar, menjadi sebuah “quo vadis”.

  1. Mozaik Hubungan Media Massa dan Terorisme
    Keterkaitan media dengan terorisme yang mempunyai hubungan simbiosis saling menguntungkan di mana teroris sebagai objek peliputan yang meningkatkan rating, sedangkan media menjadi sarana publikasi teroris menimbulkan dampak yang luas kepada masyarakat.

Hubungan antara media massa dan terorisme memiliki beberapa mozaik hubungan, di mana ada beberapa tragedi atau kasus terorisme yang mendapatkan porsi pemberitaan yang besar dari media massa, namun ada juga beberapa kasus atau tragedi teror yang luput dari pemberitaan media massa.

Ada sejumlah kasus teror yang mendapatkan perhatian luas dari media massa antara lain peledakan bom di Mumbai, India, pemberontakan pelajar dan mahasiswa di Jerman Barat tahun 1967, kasus Black September tahun 1972, pembajakan pesawat TWA 847 jurusan Roma ke Cairo pada Juni 1985 dan sejumlah kasus pembajakan pesawat dan pemboman yang kerap terjadi pada tahun 1968, 1970, 1976, 1985, 1988 dan 2001.

Media massa mengalami hal yang dilematis ketika melakukan pemberitaan mengenai terorisme. Di satu sisi, media ingin melakukan pemberitaan serealis dan sefaktual mungkin. Namun di sisi lain, pemberitaan yang realis dapat menimbulkan komplikasi baru. Pemberitaan mengenai kejadian teror di Hotel Taj Mahal, Mumbai, India, pada tahun 2008. Pada kejadian tersebut, ada sejumlah teroris yang tidak sempat melarikan diri dari dalam hotel setelah pengeboman terjadi. Pada peristiwa tersebut, sejumlah televisi pun melakukan siaran langsung. Mereka tetap melakukan siaran sekalipun pihak yang berwajib telah melarangnya.

Dengan alasan, siaran merupakan hak publik, di mana masyarakat harus mengetahui peristiwa tersebut. Sangat disayangkan, gerakan pasukan anti teror justru dapat diketahui para teroris yang bersembunyi di dalam hotel melalui tayangan siaran langsung sejumlah media tersebut, sehingga belasan aparat keamanan tewas.

Namun, ada sejumlah peristiwa teror yang luput dari pemberitaan media massa seperti pada tahun 1984 ditandai dengan serangan rudal Stinger dan serangan “kamikaze” terhadap kapal-kapal perang Amerika Serikat di Iran, Syria dan Libanon, pada tahun yang sama skuad pelaku bunuh diri dari Iran merencanakan akan menyerang Kedubes AS di Siprus dengan pesawat kecil yang membawa bom, tahun 1986 ketika para pembajak pesawat Pan America World Airways nomor penerbangan 73 di Karachi, tahun 1986 ketika satu dari 21 mahasiswa Libya yang dideportasi ke Inggris diketahui menjadi latih pilot kamikaze yang akan menyerang berbagai instalasi Amerika Serikat, tahun 1988 ketika kepolisian Brazilia mengumumkan rencana pembajakan dan peledakan pesawat ke beberapa gedung di Brazil, tahun 1994 ketika sejumlah teroris dari Aljazair membajak Air France Airbus 300 jumbo dll.

Bagi kalangan teroris, keberadaan media massa dianggap sangat penting dalam rangka propaganda, sehingga aksi yang dilakukan teroris dapat direkam dan disuarakan oleh media massa. Setidaknya ada 4 hal mengapa teroris memerlukan media massa yaitu pertama, pemberitaan melalui media massa bermanfaat untuk menggambarkan bahkan memanipulasi situasi.

Kedua, pemberitaan media massa diharapkan menciptakan situasi yang dieksploitasi saat serangan teroris dilakukan, kemudian menciptakan situasi tenang, meredakan ketegangan, ketidakpastian dan rasa takut yang luar biasa dari masyarakat melalui tindakan teroris yang disiarkan atau dimuat media massa.

Ketiga, ketidaktenangan tersebut akhirnya membuat tekanan teroris menjadi besar, bahkan agenda mereka akibat pemberitaan media massa bahkan dimengerti serta mendapatkan dukungan dari masyarakat.

Keempat, media massa dipakai sebagai alat justifikasi bagi teroris dalam rangka membenarkan tindakannya.

Bahkan, bagi kelompok teroris yang sudah modern maka keberadaan media massa memainkan aksi perang psikologis (psychołogical warfare) melalui media massa, di mana kelompok teroris memperhatikan atau menghitung semua pemantau, ahli taktik dan perencana. Oleh karena itu, teroris dan media massa seringkali menjadi “best friend” dalam rangka membuat publisitas. Apalagi dengan politik media massa yang menyatakan kekerasan selalu menjadi headline khususnya yang terjadi di negara yang strategis secara politik dan ekonomi.

Kalau di lubuk hati Anda ada perasaan pembenaran atau mengakui tindakan terorisme sebagai sesuatu yang wajar, maka strategi dan taktik komunikasi jaringan teroris yang menyerang Indonesia sudah berhasil. Dapat dikatakan bahwa mereka berhasil mengarahkan pemikiran khalayak kepada suatu pembenaran yang masih dipertanyakan. Demikian kira-kira konsep agenda setting menurut Maxwell Mc Comb.

Maraknya aksi terorisme di Indonesia juga salah satunya disebabkan karena begitu ‘longgar’ dan penuh lubangnya sistem pemberitaan dan pers Indonesia. Tidak adanya ketegasan aturan perundang-undangan adalah ‘opsi’ dari mudahnya lahan publikasi dibeli karena masuk dalam ranah yang tidak bertuan dan tidak terkontrol.

Sisi ini jelas-jelas adalah target operasi nyata para pelaku teroris guna melancarkan aksi brutalnya. Menurut penelitian Marighella jelas disebutkan bahwa para teroris memiliki keperluan memanipulasi media massa guna melakukan kekerasan politis lewat kekuatan ideologis. Jadi, salah besar bila dikatakan bahwa tujuan utama teroris hanya menyebarkan ‘ketakutan’ ke khalayak. Tujuan mereka lebih dari itu dan targetnya adalah publikasi isi pemberitaan dan mengarah pada pembenaran yang selama ini dianggap remeh dan tidak terjamah sedikit pun oleh khalayak.

Selanjutnya, para pelaku teroris akan mengarahkan pemberitaan untuk lebih mengekspos sesuatu yang mereka sudah sengaja setting dan dibalut oleh kekuatan ideologi.

Dengan demikian maka akan ada kekuatan untuk mengubah gambaran yang ada di khalayak untuk memberikan pembenaran terhadap kekerasan suatu kisah ‘heroik’.

Bisa dikatakan bahwa terdapat hubungan signifikan antara kerja teroris dan media massa. Bahkan Walter Laqueur seorang ahli masalah teroris ini menyatakan bahwa hubungan antara teroris dan media bisa dikatakan bersahabat kental. Karena tindakan teroris tidak akan menjadi apa-apa dan berarti bila tidak dipublikasi secara besar-besaran oleh media massa.

Teroris yang memanipulasi iklan dan media massa mampu meningkatkan efektivitas serangannya. Karena lewat pesan tersebut gerak mereka menjadi lebih fokus pada kejadian spektakuler yang kemudian akan dijaga pesan-pesannya itu menggunakan sistem repetisi (pengulangan) pada kerja media massa. Tujuan utamanya adalah mengefektifkan kekerasan dengan menciptakan emosi ketakutan ekstrem pada kelompok-kelompok yang memang ditargetkan. Selain itu, publikasi teroris akan menggambarkan secara instan agar khalayak membenarkan dan mempromosikan tindakan mereka secara tidak langsung guna memaklumi representasi perjuangan teroris.

Realisasi operasional simbol teroris akan begitu luas dan cepat menyebar lewat saluran media massa. Bahkan disinyalir lebih cepat menyebar daripada tindakan orientasi fisik mereka sendiri. Seperti kasus pengeboman di Bali, Jakarta, Poso, dan lain-lain, karena begitu ekstensifnya, secara maksimum publikasi teroris menjadi begitu cepat lewat cakupan televisi, radio, dan surat kabar. Buktinya, orang tidak akan membicarakan aksi teror bom, tetapi lebih banyak membincangkan fanatisme dan agama. Bila sedemikian adanya, maka sudah ada pengembangan isu yang menyeleweng. Hal inilah celah dalam komunikasi massa yang mungkin digunakan oleh teroris untuk melakukan pembenaran. Seperti dalam temuan-temuan penelitian sebelumnya, bahwa kelompok teroris cenderung untuk menunjukkan pada khalayak bahwa mereka begitu ‘lemah’. Strategi dan taktik ini dimaksudkan untuk menarik simpati. Kemenangan yang ingin diperoleh para teroris juga bukan kemenangan instan.

Menurut Al Chaidar mengungkapkan bahwa sekelompok “teroris” ada yang memanfaatkan media massa sebagai penerangan kelompoknya terhadap publik. Kelompok teroris, seperti Jamaah Islamiah atau Negara Islam Indonesia (NII) memiliki beberapa karakter dalam pergerakannya. Beberapa kelompok lebih memilih menghindar dari media dan tidak memerlukan penjelasan apa pun atas tindakan pengeboman terhadap publik, karena jamaah tersebut menganggap apa yang dilakukannya tidak perlu komentar atau kritikan publik. Mereka fokus terhadap tindakannya, karena mereka meyakini hal tersebut sudah benar menurut Al Quran, dan tidak perlu ada lagi campur tangan dari orang lain mengenai tindakannya tersebut. Adapun jamaah tahmid, lebih cenderung dan memilih untuk memanfaatkan dan “berteman” dengan media massa, salah satu buktinya dulu mereka pernah membuat majalah Al Ikhwan.

Sementara itu, mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI), Nasir Abbas, berpendapat bahwa media massa telah menyumbang peran bagi tumbuh-kembangnya aksi terorisme di Indonesia. Menurutnya, media menjadi pendukung pasif aksi terorisme karena telah menggunakan kata, idiom dan pengertian yang salah seputar jihad. Dicontohkannya, sejak aksi terorisme mencuat di Indonesia, media massa menggunakan kata mujahid yang salah kaprah, yakni sebagai tindakan penyerangan (perang) terhadap musuh agama Islam. Padahal dalam Al Quran tidaklah demikian, melainkan mujahid adalah tindakan mulia dalam menyebarkan agama Islam.

Penggunaan kata dan istilah ‘pengantin’ juga mendukung secara pasif terorisme, karena dalam keyakinan mereka pengantin adalah menyerang dengan menggunakan bom bunuh diri. Sementara penyebaran informasi ini terus-terusan dilakukan media massa. Hal yang kemudian ditelan mentah-mentah oleh masyarakat, utamanya para pemuda, untuk mengikuti jejak pelaku terorisme karena dengan melakukan bom bunuh diri bisa masuk surga, bertemu bidadari cantik. Media massa seharusnya tidak menjadi pendukung pasif terorisme.

Amas Tadjuddin menilai, meski pemberitaan yang menyangkut terorisme atau radikalisme sudah sesuai kode etik jurnalistik, namun jika berdampak buruk lebih baik tidak diterbitkan.

Radikalisme berasal dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu pikiran sempit dalam pemahaman teks keagamaan yang melahirkan penyesatan sehingga muncul gerakan sektarianisme. Sedangkan faktor eksternal antara lain karena terjadinya kelumpuhan budaya, teknologi, dan ekonomi.

Selain itu, informasi tentang adanya terorisme Islam yang dipandang radikal oleh dunia, tidak dapat dipisahkan oleh media barat. Sejak penyerangan gedung WTC dan Pentagon di Amerika Serikat hingga peristiwa peledakan di Bali. Media Barat, Amerika dan Australia sangat gencar menginformasikan adanya kelompok Islam fundamentalis ekstrem. Padahal, Islam dan agama mana pun tidak akan menolerir tindakan kekerasan yang mengakibatkan hancurnya seluruh tatanan kehidupan.

  1. Beberapa Media Massa Radikal
    Pesan-pesan yang bermuatan radikalisme mudah diperoleh dari konten di situs online ataupun di media sosial. Anak-anak muda menjadi radikal atau bahkan bergabung dengan kelompok militan melalui ajakan di media sosial.

Akhir Februari lalu, tiga remaja perempuan Inggris pergi ke Suriah melalui Turki dengan melewati jalur darat. Dalam rekaman CCTV, siswi-siswi Akademi Bethnal Green ini tampak di stasiun bis hendak pergi ke Suriah. Shamima Begum, berusia 15 tahun, Kadiza Sultana, 16 tahun, dan seorang lainnya yang tidak disebutkan namanya berusia umur 15 tahun, adalah murid sekolah Bethnal Green Academy, terbang menuju Turki dari bandara Gatwick, London, Selasa (17/02/2015).

Kekhawatiran mereka bergabung dengan kelompok militan yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS disampaikan oleh Pimpinan Kepolisian Metropolitan London, Richard Walton. Kepolisian mendeteksi mereka melakukan komunikasi dengan salah seorang perempuan Inggris yang berada di Suriah Aqsa Mahmood melalui media massa dan media sosial. Aqsa meninggalkan kediamanannya di Glasgow Skotlandia, untuk bergabung dengan ISIS di Suriah pada 2013.

Di Indonesia, pasca bom bunuh diri di beberapa gereja, beberapa situs radikal Islam banyak yang memberikan simpati dan dukungan terhadap aksi tersebut sebagai sebuah bentuk amaliyah jihad, selain itu situs-situs tersebut juga memosting ajaran jihad, yang berdampak terhadap pembenaran aksi dan inspirasi pembentukan ideologi radikal di kalangan masyarakat.

Seperti arrahmah.com juga memosting ucapan simpati kepada pelaku bom yang berjudul “Wahai Akhi Mujahid, Inilah Jalannya”, yaitu sebuah pesan dukungan kepada pelaku jihad yang akan mendapatkan jalan dipenuhi dengan kesenangan, kegembiraan, kemuliaan dan keagungan. Situs eramuslim.com dalam judul berita “Suara SBY Lantang Untuk Kristen Solo, Tapi Sumbang Untuk Muslim Ambon” menyatakan bahwa pemerintah lebih bersimpati kepada korban bom di gereja dibandingkan muslim Ambon yang menjadi korban kerusuhan.

Selain menyatakan sikap simpati terhadap pelaku bom bunuh diri, situs-situs berpaham radikal juga digunakan sebagai media komunikasi dan sarana mempelajari jihad, ilmu intelijen, strategi perang, persenjataan dan cara-cara membuat bom. Situs Forum Islam Al Busyro yang hanya bisa dibuka oleh anggotanya yang sudah terdaftar, memosting informasi tentang kewajiban jihad bagi kaum muslimin terhadap kafir, serta pengetahuan perang dan persenjataan.

Sebuah blog Anshorut Tauhid Was Sunnah Wal Jihad memosting tulisan-tulisan tentang jihad, cara-cara berperang, ilmu intelijen, persenjataan dan cara merakit bom yang bisa dibuka oleh siapa saja. Selain itu ikhwan-ikhwan garis keras juga berkomunikasi di jejaring sosial Facebook, salah satunya akun bernama Azzam Abdullah, yang memosting cara merakit bom.

Beberapa tokoh menyatakan bahwa, situs berpaham radikal saat ini oleh ikhwan-ikhwan digunakan sebagai sarana komunikasi dan media mempelajari paham-paham radikal, seperti disampaikan oleh mantan jihadis Ambon, Ali Fauzi, bahwa membuat bom saat ini seperti membuat layang-layang, bisa dipelajari dengan mudah di internet, hal senada juga disampaikan oleh salah seorang alumni Afghanistan bahwa, media komunikasi para jihadis saat ini melalui jaringan internet, seperti Ahmad Yosefa, pelaku bom di gereja GBIS Solo, juga sering berkomunikasi dengan ikhwan-ikhwan dari luar negeri dengan memanfaatkan situs-situs Islam.

Kriminolog Adrianus Meliala menilai bahwa saat ini para pemuda yang ingin belajar paham radikal yang mengarah ke terorisme, tidak lagi belajar dari guru jasmaniah, melainkan melalui internet sebagai sumber pembelajaran soal paham radikal. Ketua Umum PBNU, Said Agil Siradj juga meminta kepada Kemeninfokom untuk menutup situs-situs yang berpaham radikal.

Kemudahan sarana internet dengan banyaknya situs-situs berpaham radikal saat ini digunakan sebagai media mempelajari jihad dan komunikasi antar jihadis untuk terus mengobarkan semangat jihad serta mempelajari cara-cara merakit bom.

Situs radikal memiliki kontribusi mencetak paham anarkis memang masyarakat akan menyepakatinya, namun pemerintah juga tidak bisa sembarangan menutup situs radikal, karena perlu verifikasi terlebih dahulu apakah situs ini sudah benar-benar melanggar UU Informatika dan Transaksi Elektronik (ITE) atau melanggar KUHP.

Beberapa kalangan tetap memandang bahwa unsur terpenting dalam upaya mengikis paham radikal adalah terletak kepada keseriusan pihak pemerintah. Selama pemerintah tidak serius atau tidak bersikap tegas menghadapi radikalisme, maka selama itu pula akan tumbuh subur anarkisme, terorisme dan radikalisme.

Menurut Azis Tri Priyanto, sekarang ini semakin marak kekuatan radikalisme berkedok agama, di mana banyak anak muda yang menolak Pancasila. Mereka mengutuk penghormatan bendera Merah Putih dan menganggap Pancasila sebagai berhala, sehingga menghormati Pancasila sama dengan menghormati berhala. Komunitas anti Pancasila sudah menyebar kemana-mana dan dilakukan secara terus terang, Namun, persoalannya adalah sejauh mana pemerintah mau duduk dengan kelompok ini dan membicarakan masalah ini dengan damai.

Dalam perkembangannya, Dewan pers mengimbau kalangan jurnalis tidak terlalu menggembar-gemborkan pemberitaan soal terorisme. Pemberitaan media sebaiknya tidak menjadi ‘spion’ bagi kelompok teroris.

“Kami menyaksikan, kebetulan, kok dari pagi sampai malam pemberitaan terus-menerus tentang teror. Ini justru, Dewan Pers ini membuat aturan jangan sampai mengglorifikasi, membuat teroris bangga diberitakan,” kata Wakil Ketua Dewan Pers Ahmad Djauhar, Selasa (22/5/2018).

Menurut Djauhar, kelompok teroris akan memantau pemberitaan terkait aksi mereka dan pergerakan aparat polisi melalui pemberitaan media massa. Ia mencontohkan pengeboman di Mumbai. Dalam kasus itu, teroris memanfaatkan pemberitaan di media massa.

“Media itu oksigen para teroris, teroris akan senang sekali kalau diberitakan. Konon kabarnya, ketika disorot di TV, para teroris yang ada di rumah tahu polisi ada di situ situ, media jadi spion teroris, sangat disayangkan. Peristiwa ini konon terjadi di Bom Mumbai kemarin, jadi mereka mengikuti persis gerakan polisi dan sebagainya. Teroris memperoleh manfaat indra kedelapannya (dari media massa), ‘Oh, ada serbuan di sini di sini’,” tuturnya.

Di beberapa negara, peliputan mengenai teroris dibatasi. Sedangkan di Indonesia, pemberitaan terkait teroris hampir setiap saat menghiasi layar kaca, koran, hingga media online.

  1. Kesimpulan dan Rekomendasi
    Media massa harus dipahami sebagai ruang diskusi publik. Saluran di mana pemerintah ingin mendengar keluh kesah rakyat, sebaliknya juga begitu, media massa adalah ruang terbaik bagi rakyat menyalurkan komplain terhadap ketidakadilan. Tapi jangan pernah melihat media massa sebagai institusi yang netral atau bebas nilai.

Sebab, di dapur redaksi, begitu banyak kepentingan yang tarik-menarik. Dari benturan antara kepentingan bisnis dan redaksi, sampai dengan keterikatan pemilik modal media massa terhadap penguasa. Ini semua membuat media massa tidak akan pernah bebas nilai, sebab selalu ada tangan-tangan yang tidak terlihat (invisible hand) yang mempengaruhi media massa. Maka tak berlebihan bila menyebut salah satu ukuran demokrasi adalah adanya kebebasan pers, yang bebas tekanan dari mana pun.

Media massa dan masyarakat diminta mencerna dengan baik pemberitaan tentang terorisme mau pun radikalisme, jangan sampai memicu munculnya masalah baru. Paling penting, selain memegang teguh kode etik jurnalistik, seorang wartawan perlu memerhatikan dampak baik dan buruk pemberitaan bagi kepentingan masyarakat.

Sementara itu, keberadaan situs-situs berita radikal telah mengilhami para jihadis yang terinspirasi melakukan jihad setelah mendapatkan pengetahuan cara-cara merakit bom dari situs-situs berita radikal tersebut, sehingga memiliki semangat dan dorongan serta kemampuan untuk melakukan aksi-aksi radikal sebagai sebuah misi suci atas nama agama.
Berita-berita tentang terorisme di hadapan kita masih merangsang tumbuhnya persepsi tentang keterkaitan agama dengan tindak kekerasan, persis seperti doktrin global tentang terorisme yang mengarahkan telunjuk langsung kepada pemeluk agama tertentu (Islam) dengan terus menerus menayangkan kekerasan dengan latar belakang simbol-simbol agamanya.

Terorisme memang harus diberantas tuntas, tetapi tentu tidak mudah. Mungkin
akan lebih mudah dilakukan jika melibatkan semua komponen bangsa. Hal itu bisa
dilakukan jika semua komponen tersebut memahami dengan benar dan yakin bahwa yang diberantas adalah benar-benar terorisme.

Terkait dengan hubungan media massa dengan terorisme serta perlunya langkah untuk menangkal terorisme dan radikalisme, maka ada beberapa rekomendasi langkah yang disarankan antara lain: pertama, diperlukan pengaturan oleh Kemeninfokom terhadap situs-situs yang saat ini marak bermunculan di jaringan internet dan apabila terbukti menyebarkan paham radikal agar dilakukan sanksi pemblokiran.

Kedua, pelibatan media massa dalam program deradikalisasi dan kontra deradikalisasi, sehingga di samping insan media mendapatkan pencerahan tentang bahaya terorisme dan radikalisme, disisi yang lain diharapkan kalangan awak media lebih mengutamakan national interest daripada pemberitaannya tentang terorisme untuk hanya sekadar mendapatkan rating atau iklan promosi yang banyak.Ketiga, hubungan antara pemerintah dengan media massa juga harus semakin diperbaiki melalui berbagai event pertemuan.Keempat, perlunya mengutamakan dialog dan keseriusan pemerintah rangka mengatasi atau menanggapi maraknya radikalisme dan dalam proses dialog ini dilakukan secara terbuka sehingga media massa diberikan kesempatan sebagai alat untuk pembelajaran bagi publik.
*) Penulis adalah pemerhati masalah terorisme di Indonesia.

 


LIKE SHARE
  • 1.2K
  • 1.7K
  • 45
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    3K
    Shares