Tutup Akhir Pekan, Rupiah Tembus Rp15.216 per Dolar AS


STRATEGIC ASSESSMENT

612,833 total views, 1 views today

STRATEGIC ASSESSMENT– Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp15.216 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot sore ini, Jumat (26/10). Posisi ini melemah 29 poin atau 0,19 persen dari posisi kemarin sore, Kamis (25/10) di Rp15.188 per dolar AS.

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp15.207 per dolar AS pada hari ini. Posisi ini menguat tipis dari kemarin di Rp15.210 per dolar AS.

Di kawasan Asia, rupiah rontok dari dolar AS bersama mayoritas mata uang negara lain. Baht Thailand melemah 0,34 persen, won Korea Selatan minus 0,33 persen, ringgit Malaysia minus 0,13 persen, dolar Singapura minus 0,09 persen, dan rupee India minus 0,03 persen.

Namun, dolar Hong Kong masih menguat 0,01 persen, renminbi China 0,03 persen, yen Jepang 0,37 persen, dan peso Filipina 0,38 persen.

Begitu pula dengan mata uang utama negara maju, mayoritas bersandar di zona merah. Dolar Australia melemah 0,64 persen, dolar Kanada minus 0,49 persen, franc Swiss minus 0,13 persen, dan rubel Rusia minus 0,07 persen. Namun, euro Eropa dan poundsterling Inggris stagnan.

Analis sekaligus Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pergerakan rupiah akhirnya cukup signifikan pada akhir pekan ini karena beberapa sentimen eksternal mulai terakumulasi dampaknya.

Pertama, langkah pemerintah Italia yang tetap meningkatkan anggaran belanjanya pada tahun depan. Padahal, Komisi Eropa menilai seharusnya Italia tidak mengerek anggaran karena rasio utang yang sudah cukup tinggi.

“Hal ini kemudian diteruskan dengan penurunan peringkat ekonomi Italia dari Moody’s, lembaga pemeringkat internasional. Ini sedikit banyak membuat indeks dolar AS kembali meningkat,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (26/10).

Kedua, ketidakmampuan bank sentral Eropa (The European Central Bank/ECB) meyakinkan pasar terkait rencana kenaikan tingkat suku bunga acuannya. “Kemungkinan besar, ketidakmampuan ECB ini juga terkait kasus anggaran Italia,” terang dia.

Ketiga, masih berlanjutnya ketegangan AS dengan sejumlah negara, seperti Turki, Iran, hingga Arab Saudi. Keempat, bayang-bayang dampak perlambatan ekonomi dari perang dagang AS-China. 

Kelima, silang pendapat antara Presiden AS Donald Trump dengan Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell. Keenam, proyeksi pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam.

“Malam ini akan ada rilis data pertumbuhan ekonomi AS. Pasar tengah menanti, kalau tumbuh positif, maka rupiah akan kembali melemah pada pekan depan. Begitu sebaliknya,” jelasnya.

Untuk pekan depan, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak di rentang Rp15.198-15.230 per dolar AS. Namun, penguatan dan penurunan nilai tukar rupiah pada awal pekan ditentukan oleh data ekonomi AS. Sedangkan pada pertengahan pekan akan dipengaruhi oleh rilis inflasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

SECURE:CNNINDONESIA